Arogansi , Respek, Keperwiraan
Sebuah cerita dari planet mimpi.
Saya tertegun saat membaca diskusi yang setengah debat kusir di sebuah mailing list di sebuah negeri dongeng. Entah mengapa sayapun terusik mengikuti perdebatan itu, padahal saya tak punya kaitan dengan apa yg diperdebatkan. Kemudian, pada titik tertentu emosi saya tercungkil dan saya jadi sangat marah. Lho? Mengapa?
Karena cara berdebat yang penuh arogansi dan tanpa respek. Saya berpikir keras untuk menemukan jawaban instant untuk memakluminya. Tapi yang ada otak saya malah jadi seperti batu. Bahkan makin memperkuat prasangka saya tentang orang-orang dari kelompok tertentu bahwa mereka selama ini dididik untuk menjadi sombong dan merasa superior.
Prasangka ini tentu saja berusaha saya tepis dan kikis. Karena saya tahu beberapa gelintir orang dari kelompok itu yang amat santun dan rendah hati. Kalaupun masih ada pengaruh arogansi institusi yang menempel ditubuhnya, mereka akan sering sering mandi dan mencoba menghilangkan dengan sabun introspeksi.
Namun menghapus prasangka itu rasanya sulit sekali. Apalagi dalam pergaulan sehari-hari saya merasakan arogansi itu seperti cap yang ditompelkan dengan besi panas di kuduk mereka. Mereka memang pintar, cukup pintar hingga hampir semua "mengakui" (read: membiarkan) mereka "mengklaim" diri sebagai putra-putri terbaik bangsa mereka, pun sebelum mereka berbuat apapun untuk negeri mereka. Negeri dongeng. Tapi, seharusnya putra putri terbaik itupun tahu bagaimana dengan anggun memegang tradisi bangsa yang santun. Santun terhadap siapa saja. Terutama santun terhadap orang yang memang jelas-jelas berjasa, lebih bijaksana, lebih berpengalaman dan lebih berprestasi dari mereka. Oh ya jangan lupa juga: santun terhadap orang tua.
Yang paling pelik saya perhatikan adalah kurangnya santun dalam menerima kekalahan.
Sayang seribu sayang..sampai saat ini prasangka saya makin terkuatkan. Malah yang saya lihat, jika mereka kalah atau salah biasanya mereka akan mencari jalan apapun untuk menghindari untuk mengakuinya. Bahkan jalan sekotor apapun! Mengerikan! Menjijikan? oh..tentu saja.
Dan segelintir orang yang membuat saya masih punya harapan untuk menepis prasangka itu, jika mereka kalah atau salah, mereka akan diam. Walau hanya sebentuk diam. Arogansi mereka tidak diumbar hingga mereka tidak kehilangan respek.
Paling tidak mereka bungkus arogansi mereka dengan santun. Tipiiis saja. Karena mereka tahu, Arogansi itu jadi bagaikan aurat dan arogansi yang telanjang bukanlah jalan untuk meraih respek.
Respek terhadap dan dari orang lain. Respek kepada kebenaran dan kenyataan. Ini bukan masalah kewiraan. Tapi keperwiraan. Dan orang-orang yang bersikap perwira tampak begitu elegan dalam pergaulan.
…
…
Entahlah… Ini sekedar cerita tentang arogansi, respek dan keperwiraan di sebuah negeri dongeng, di planet mimpi.
Aneh…
Ya namanya juga negeri dongeng, di planet mimpi pula, yang seperti ini mungkin malah justru hal yg lazim ya?
**Lega**
Uncategorized |One Response to “Arogansi , Respek, Keperwiraan”
Leave a Reply
ai..ai.. tante lessy lagi gregetan yah..??
Liza juga pernah sebagai penonton cerita yang hampir mirip dengan cerita lessy yang dari negeri dongeng itu.
yang akhirnya liza menyimpulkan (karna kebetulan cukup mengenal para pelaku dan keadaan keluarganya):
pertama, mereka yang arogansi itu untuk menutupi semua kekurangannya, sehingga lawan bicaranya ngalah aja dengan alasan, ya udah deh, dari pada capek dan buang2 waktu.
kedua, karna tidak mau mengakui kekurangan itu bersumber dari keluarga, karna dari keluarga (dari sononya) mereka sudah diultimatum sebagai ornag yang PALING hebat dan PALING benar, sehingga respek tidak ada lagi, hal ini dia terapkan kepada setiap orang, siapa saja orang itu, dimana saja, dan kapan saja, tapi dengan cukup hati2. karna dia juga tidak mau orang yang seharusnya tidak wajar untuk tahu, mengetahui tindakannya ini, supaya imej dia tetap terjaga.
ketiga, karna dia udah merasa yang PALING inilah yang sangat menyeramkan, dia akan melakukan apa saja demi tujuan untuk menjadi yang PALING berikutnya (target dai sellanjutnya).
so, kesimpulannya: orang2 ini adalah bagaikan serigala bertopeng monyet.