Nenek Moyangku Pelaut!
Nenek moyangku orang pelaut
gemar mangarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa
angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai
Entah apakah anak-anak Indonesia mengenal lagu ini sekarang..
Yang jelas..lagu ini saya hapal sejak kecil
Terbusung dada saya tegap membayangkan digjayanya Angkatan Laut Nusantara
Menguasai bahari di seantero Asia Tenggara.
Masyhurnya bahkan hingga ke negeri China!
Kini,
di masa di mana hukum Internasional sudah memliki sumber-sumber
bakunya, keahlian diplomasi Bapak Mochtar Kusumaatmaja menggoalkan
Archipelagic Straight Baseline diakui dalam UNCLOS III 1982, merupakan
sejarah yang penting.
Hingga begitu Nigeria menyatakan
persetujuannya…jadilah batas-batas terluar 12 mil dari pulau-pulau
terluar Indonesia sebagai garis batas wilayah tanah air.
Konsekwensinya adalah Alur Laut Kepulauan (ALK) Indonesia harus disediakan.
Kapal-kapal asing boleh melalui jalur ini dengan leluasa.
Tentu kita butuh armada yang tangguh untuk menjaganya.
Hal
itu tak hanya berkaitan dengan alur laut kepulauan, namun juga erat
hubungannya dengan 80% lebih perbatasan kita yang berada di laut.
Tapi bagaimana bisa menjaganya jika Angkatan Laut kita tak berdaya?
Adilkah jika anggaran Angkatan Laut kita tidak mendapatkan perbandingan dana yang berarti?
Masih terngiangkah lagu di atas tadi ditelinga para wakil rakyat?
Haruskah
seseorang yang mengaku nenek moyangnya pelaut, mempelajari detail hukum
laut hanya untuk menyadar pentingnya kekuatan berjaya di samudera?
Atau sudah tak adakah lagi harga diri yang tersisa untuk mempertahankan kehormatan dan kedaulatan?
Untuk seorang teman perwira TNI AL yg sedang bergulat antara realitas dan idealisme.
Sukses untuk pendidikannya, bawa Ilmu Angkatan Laut Jerman pulang!
Jalesveva Jayamahe!
Uncategorized | Comment (1)Senyummu Tinggal di Hatiku

Dulu aku pernah menggagumimu habis-habisan
Saat aku baru pertama kali menghapalkan nama nama para pahlawan
dan saat berkenalan denganmu,tentangmu adalah kau sama dengan satria pembangunan
Tumpuan harapan banyak orang
paling tidak, untuk bisa swasembada pangan dan menyambung kehidupan.
Dulu aku juga pernah tak setuju denganmu hingga sempat membencimu,
Dengan jaket kuningku men-demo-mu untuk kesewenanganmu
dan puluhan tuduhanku sebagai kesalahanmu
Tapi pak,
Di sini aku sedang tak ingin bicarakan semua itu
Ini tentang senyummu dan pengakuanku
Yang aku tak bisa dan tak pernah pungkiri
Senyummu itu telah menjala dan mencengkram hatiku,
dan tanpa pahat yang kasat mata kau prasastikan senyummu di sana.
Di alam sadarku pun di alam bawah sadarku
Mau atau tidak maunya aku
Ada atau tiadanya dirimu
Senyummu itu ….ternyata selalu berkuasa dalam kehidupanku.
Segala baik buruknya amalmu, kepemimpinanmu, pengaruhmu, dan kekuasaanmu dulu.
Waktumu menghadap Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui.
Sudah bukan waktumu lagi untuk peduli apa arti keadilan di sini
……
6 tahun lalu kunyatakan pada seseorang,
bahwa senyumnya yang mirip senyum pak Harto telah merampok hatiku.
Dengan senyumnya yang serupa dengan senyum pak Harto, ia mampu mengeksplotasi sumber daya dan rasa di dalam hatiku tanpa bertanya apakah aku suka dan rela.
Belajar dari senyum pak Harto, padanya aku tak pernah berani punya mimpi untuk gulirkan reformasi apalagi revolusi.
Sayang seribu sayang
Sayang,
Buku itu bagus
Aku jatuh cinta sejak saat pertama membuka halaman-halamannya.
Entah kebodohan apa yang merasukiku saat itu, aku tak segera membelinya.
menundanya
Hingga hari ini aku memutuskan untuk membawanya pulang setelah menukarnya dengan uang.
Tapi sayang, sayang seribu sayang..
Buku itu telah terjual habis dan menghilang
Tiga toko buku sudah kudatangi
tapi dengan tangan hampa aku kembali melangkah pergi
Sayang,
Tak dapatkah kau pahami?
Buku itu sarat arti..
*sebeeeeeeellllllllll…..bukunya ga ada lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiii mana lupa nama pengarangnya pula*
Uncategorized | Comments (2)Nothing last Forever
Special thanks to mpok Rince..
Nothing last forever
(Maroon 5)
It is so easy to see
Dysfunction between you and me
We must free up these tired souls
Before the sadness kills us both
I tried and tried to let you know
I love you but I’m letting go
It may not last but I don’t know
Just don’t know
If you don’t know
Then you can’t care
And you show up
But you’re not there
But I’m waiting
And you want to
Still afraid that I will desert you
Everyday
With every worthless word we get more far away
The distance between us makes it so hard to stay
But nothing lasts forever, but be honest babe
It hurts but it may be the only way
A bed that’s warm with memories
Can heal us temporarily
The misbehaving only makes
The ditch between us so damn deep
Built a wall around my heart
I’ll never let it fall apart
But strangely I wish secretly
It would fall down while I’m asleep
If you don’t know
Then you can’t care
And you show up
But you’re not there
But I’m waiting
And you want to
Still afraid that I will desert you, babe
Everyday
With every worthless word we get more far away
The distance between us makes it so hard to stay
But nothing lasts forever, but be honest babe
It hurts but it may be the only way
Though we have not hit the ground
Doesn’t mean we’re not still falling,
Oh I want so bad to pick you up
But you’re still too reluctant to accept my help
What a shame, I hope you find somewhere to place the blame
But until then the fact remains
Everyday
With every worthless word we get more far away
The distance between us makes you so hard to stay
Nothing lasts forever, but be honest babe
It hurts but it may be the only way
Everyday
With every worthless word we get more far away
The distance between us makes it so hard to stay
But nothing lasts forever, but be honest babe
It hurts but it may be the only way….
To the one, whose soul captured mine very dearly
Uncategorized | Comment (1)19 Januari
19 Januari
Nafas pertamanya menghirup udara dunia
Saat itu tak sebersitpun ia mengira
bahwa dalam garis hidupnya
ia akan jadi belahan jwaku
Terima Kasih Mama
kau telah hantarkan suamiku tercinta melihat dunia
PS:Sayang,
Sudah berhari-hari aku mereka-reka kalimat yang menjadi duta hatiku untuk menandai hari lahirmu sayangku.
merombak, mengganti, dan menyingkat semua embel-embel kata yang tak perlu memenuhi dan merusuhi "your beautiful mind".
Kuharap ucapan yang sudah kusampaikan dengan sederhana ini, dapat kau cerna, semudah kau menyelesaikan kalkulasi-kalkulasimu.
Yah, inilah aku, kata-kataku tak dapat berubah menjadi angka dan simbol simbol yang aku tak tahu.
Semoga kau mengerti
Bahwa di semua hurufnya sungguh mengandung makna dan….doa.
Pelita

psst dengar..
Pelita tua di persimpangan jalan itu bisa bicara
ia bercerita padamu
betapa inginnya ia bertangan dan berkaki
untuk memanjat tembok-tembok yang dikiranya menjulang kelangit
"…lalu
akan kusisiri benang-benang yang menggantung bintang dengan
jari-jariku, hingga ia bersinar lebih gemilang" bisiknya lembut
ini
pasti bukan sekedar perasaan penuh romantika picisan yang membuat
pelita bersimbah air di mata, walau tak pernah ada ungkapan kecewa
ku dengar bintang menjawab dengan suara yang serak
bahwa tak ada benang yang dapat disisiri dengan jari
bahwa ia adalah sekedar bintang jatuh
yang sebentar lagi akan menghempas bumi
dan tak akan bersinar lagi
PS:
untuk biyungku yg tak pernah berhenti bersinar jadi pelitaku
walau aku tak jua bisa jad bintangnya..
selamat lembur
maaf nanda tak bisa ikut membantumu
seperti cita yg pernah kita gantungkan di langit dulu
Nasib Perokok Pasif..
Nasib perokok pasif yang alergi asap rokok.
Sengsara setengah mati kalau bertemu perokok yang raja tega.
Seperti yang saya alami beberapa hari lalu di stasiun S-Bahn Langenfelde, saat hendak ke dokter saya di Altona.
Suhu udara yang nyaris nol membuat gerimis hampir mengkristal jadi salju.
Pagi itu masih agak gelap dan dingin.
Saya
bergabung dengan hampir semua penumpang yang memilih menunggu S-Bahn
sambil meringkuk dan berjejal bersama di bawah naungan atap stasiun
daripada menantang angin dingin di kulkas terbuka.
Termasuk bersama dia….
Seorang
wanita yang saya taksir seumuran dengan saya, sambil gemetar kedinginan
menghisap rokoknya. Saya tahu dia menghindari jangkuan sensor kamera
pengawas karena sebenarnya Stasiun S-Bahn adalah daerah bebas rokok.
Di
detik pertama hingga detik ke lima puluh lima, saya masih berusaha
bertahan berada di sana sambil menutupi hidung dengan saputangan.
Tapi saya tak tahan.
Asap rokok bukan asap nasi dari beras pandan wangi yang mengepul dari bakul.
Asap
rokok membuat paru-paru saya mendadak menjadi seperti senapan mesin
yang mengerikan, memuntahkan tembakan amunisi-amunisi batuk yang tak
dapat dihentikan, tanpa ampun membuat saya menghamburkan semua energi
yang saya punya untuk memompa dada tanpa sedikitpun niat untuk
melakukannya dengan sengaja.
"Duhai nona…teganya dirimu tetap merokok walau melihatku menggelepar hingga kedinding bersandar" tangis saya dalam hati.
Sungguh
nona berjaket putih itu menatap saya tanpa welas asih, sambil
menyeruput kopi dari tangan kirinya….ia pun menyedot rokoknya dalam
dalam dan menghembuskannya ke udara.
Akhirnya saya mengalah..saya menggelandangkan kaki saya keluar agar jauh dari asap rokok sang nona.
Pedih….
…pedihnya
bagai jika rongga pernafasan saya berambut lalu rambut-rambut itu
dibubuti satu persatu hingga permukaannya seperti unggas yang dibotaki
secara paksa hidup-hidup..(weits..khayalan dramatik nan sadistik)
Dengan tenggorok yang masih perih pedih dan mata berair jangan harap saya bisa berpikir jernih.
O…rasanya saya ingin sekalian berguling-guling di lantai peron karena kesal…
Tapi saya kesal, bukan gila.
Jadi saya urungkan saja niat mengotori pakaian saya dengan debu stasiun.
Lebih baik saya keluarkan kamera untuk menghibur hati….
Salah satu gambar yang terjepret adalah gambar di samping ini.
Saat S-Bahn datang para penumpang mulai bermunculan keluar dan bersiap berjajar di peron stasiun kecil itu.
Nona berjaket putih itulah yang hari itu membuat saya sekali lagi hampir tergoda untuk merutuki nasib saya….
Nasib seorang perokok pasif yang tak mungkin juga beralih jadi perokok aktif.
————————————————————————————————————–
Sungguh saya tak ingin mengganggu kesenangan teman-teman yang merokok.
Namun
ijinkanlah saya meminta sedikit belas kasihan teman-teman sekalian
untuk orang-orang dengan paru-paru yang berkemampuan terbatas.
Dengan segala kerendahan hati saya memohon teman-teman yang perokok untuk tidak merokok di daerah yang seharusnya bebas rokok.
Karena orang-orang seperti saya biasanya bergantung pada tempat-tempat seperti itu..
Ruang Tunggu
Ini bukan postingan yang berkaitan dengan mas Letto penyanyi lagu Ruang Rindu, walaupun masih ada hubungannya dengan ruangan juga. Ini tentang ruang tunggu.
Ruang tunggu dokter tepatnya.
Oke deh, saya ngaku…sebenernya beberapa hari ini saya sakit. Jadi terpaksa ke dokter.
Nah berhubung dokter saya sedang sakit keras, maka saya di’alihkan’ ke praktek dokter lain.
Saya datang tanpa perjanjian. Kebayang kan di Jerman datang tanpa janji? Kalau nggak ditolak, ya di suruh menunggu. Prioritas nomor buncit.
Begitulah akhirnya saya berdamai dan mencoba menikmati ruang tunggu semaksimal mungkin.
Senyaman-nyamannya saya duduk sambil membaca majalah milik sang dokter sambil sesekali memandangi pot-pot anggrek yang dijejerkan didekat jendela besar yang bening, tetap saja saya ingin segera beranjak pergi dan memasang telinga lebar-lebar menunggu dipanggilnya nama saya.
Dan akhirnya ketika tibagilirannya, nama sayapun dipanggil.
Dengan langkah tegak saya pun memenuhi panggilan tersebut diiringi oleh tatapan setengah iri dari pasien lain, menuju ruangan lain.
Ruangan itu dihiasi dua jendela tinggi, sama dengan ruang sebelumnya, jendela itu juga dijajari koleksi anggrek. Ternyata ruangan itu adalah ruang tunggu yang kedua.
Bedanya ruangan itu lebih kecil dari yang tadi dan saya menunggu sendirian.
Doesn’t matter.
Walaupun saya menunggu di ruang tunggu yang jauh lebih kecil dari sebelumnya.
"Nama saya sudah dipanggil, paling tidak saya sudah selangkah lebih maju" demikian pikir saya yang merasa penting setelah sang dokter memanggil nama saya.
Hahaha….hanya dengan dipanggilnya nama saya dan dipisahkan dari pasien lain, saya bisa merasa penting! Oh arti sebuah nama…
Taktik bagus, karena saya tak keberatan menunggu di situ agak lama.
Sampai saya harus mengisi waktu dengan menghitung jumlah bunga anggrek yang akan mekar, sudah mekar dan hampir layu.
Mungkin kuncinya adalah anggrek anggrek bulan itu?
Atau mungkin baiknya para dokter punya dua macam ruang tunggu?
Uncategorized | Comments (6)Apologize (Timbaland feat One Republic)
Pertama kali denger lagu ini bbrp hari lalu di tempat teman….bagus banget….
Saya suka.