Benazir 27-12-07

Petang ini mata saya dibelalakan oleh berita-berita pembunuhan Benazir Bhutto.
Saya kaget bukan kepalang.
Salah
satu wanita yang cukup fenomenal yang cukup banyak merebut banyak
perhatian saya sejak saya masih duduk di bangku sekolah hingga sekarang.
Dulu mengingat sosoknya berarti mengingatkan saya akan seorang wanita yang cerdas dan mandiri.
Lalu
kemudian mengingatnya adalah mengingatkan saya akan wanita yang tegar
dan berani menghadapi resiko demi apa yang diyakini. Punya tekad kuat
yang bukan sekedar nekat.
Kini ia mengingatkan kembali bahwa dunia politik memang kejam dan penuh intrik.
Semoga Tuhan memberi tempat yang pantas untuknya. Amin.
http://news.bbc.co.uk/2/hi/south_asia/2228796.stm
http://afp.google.com/article/ALeqM5hFnZ4KzDiBsya_EvHGI5frQ-okeA
http://canadianpress.google.com/article/ALeqM5iMb1loHZGB66_sDe0r78rgKiE5kQ
Re-posting dari blog MP saya di:
http://wayanlessy.multiply.com/journal/item/56/_Benazir_27-12-07
view point | Comments (7)Kapan Saatnya Ganti Bantal?

Insomnia membuat pikiran melayang kemana-mana.
Kali ini sambil mencoba untuk tidur, pikiran saya menerawang jauh menembus ke dalam bantal.
Berapa banyak makhluk mikroskopis yang bernama kuman di dalamnya ya?
Omong-omong soal bantal, saya jadi ingat postingan saya tahun 2006 yang lalu di blog FS saya di (http://wayanlessy.blogs.friendster.com/my_blog/2006/07/pillow.html)
Sebenarnya jika pemakaiannya normal, berapa lama sih baiknya bantal itu dibebas tugaskan?
Katakanlah…bantal IKEA tentu akan berbeda ketahanannya dengan bantal Dunlopillo atau bantal isi kapuk.
Yang mana yang paling di suka bakteri untuk membangun kerajaannya ya?
Lalu…bagaimana dengan jamur pada bantal?
…
Gila..tiba-tiba saya membayangkan bantal-bantal saya yang empuk berjamur seperti bantalan munster géromé basi yang somehow-accidentally terkontaminasi pinicilium. Teksturnya jadi creamy seperti Munster tapi rasanya seperti Raquefort.….ihh..amit amit…
….
Gara-gara
iklan sabun cuci di sebuah TV bbrp th yg lalu, yang menampilkan
segerombolan kuman beranak pinak mengintai dan siap mengancam dibalik
tiap helai serabut bantal, telah membuat saya terobsesi.
Rasanya jadi pengen beli bantal lagi.
Philanthropists
Philanthropists.
Bukan kata yang sehari-hari saya dengar, namun tak asing bagi mata dan telinga.
Sering saya baca &/ dengar kalimat semacam:
"He is one of the most successful entrepreneurs and most generous philanthropist"
Kalau tidak melihat konteks pembahasan atau jenis majalah di mana saya membaca kata Philanthropist tadi,
dengan sok tahu saya akan langsung menuduh kata tersebut artinya
berhubungan dengan….tumbuh-tumbuhan…atau agak ngawur sedikit jauh
yaitu tertukar dengan ..philatelist dan perangko-perangkonya.
*gubrak….ngasal plus sotoy abisss*
Padahal yang dimaksud dengan Philanthropist ini kira-kira adalah orang yang melakukan tindakan kedermawanan untuk menyumbang dalam rangka kemanusiaan.
Banyak
kontribusi-kontribusi perusahaan dan pengusaha (mulai dari yang kakap
hingga yang teri) yang dilakukan dalam rangka kemanusiaan dan
keperdulian sosial berjudul Corporate Philanthropy dan Corporate Social Responsibility.
Namun kedermawanan tersebut ternyata tidak sama.. antara Pendekatan "Philanthropy" dengan Pendekatan "Social responsibility".
Ah..
Adakah yang sudi kiranya menjelaskan tentang hal di atas pada saya dengan bahasa yang mudah dan gamblang?
blargh…gini
nih kalau otak menumpul di saat insomnia mulai menyerang, kepikiran
satu kata saja efeknya seperti habis menenggak kafein segantang. Tetap
susah tidur walau sudah sambil tutupan mata pakai bantal….minyak
lavender…lampu temaram…dan berdoa.
Oh Tuhan…jangan jadikan hamba seorang nocturnal *sigh*
Uncategorized | Comments (5)ID ngawur BD…
Disclaimer: Postingan ini khusus BD
Sepulang dari perjalanan Groningen Hamburg, saya yang sedang loyo,
lesu, ingusan mendadak jadi seperti mendapat suntikan dopping. Tepatnya semalam, saat membaca blog FS..
Saya sempat sport jantung.
"ALERT! ALERT!" Begitu jerit hormon saya yang mendadak kacau.
Membuat bulu roma saya merinding makjegagik..
Bagaimana tidak??!!
Melompat dari kursi, lalu dengan perasaan khwatir dan waspada langsung mengamati monitor. Telapak tangan saya menjadi basah. Hidung saya yang tersumbat mendadak plong seperti habis menelan wasabi satu sendok makan penuh. Jantung seolah-olah berhenti menatap nama-nama ajaib semarak di blog-blog FS.
"Kacung kampret"
"Bolot pengkolan"
"Waljinah foreva"
"Paijo Mangap.."
Lalu..ketika membuka account FS..ada comment dari "Memet Dombret", "Cintailah aku", "Jigong Tukul"…
Kemudian begitu membuka blog-blog BD yang lain mata sayapun yang berair karena flu menjadi semakin berair. Tidak jelas juga karena terharu atau kelilipan oleh nama-nama seperti "Badjoel", "Bokir", "Dolly", "aku Jheena" "Dodo Mentok"
Semakin lama semakin cacat dan menjijikan…"koreng basah", "Upil Manis", "udel bodong", "Bulu Lebat", "pitak ngehe", "bau Jempol"
Demikian nama-nama itu berlanjut hingga ke "Wewe Gombel" yang menakutkan…
Apa gerangan yang terjadi??!!!!
oalah…
Ternyataaa…..BD’s sedang kompetisi nama-nama "jelehi".
(Baca blog mbak Lephie di sini)
Ikutan nggak yah?
Tapi apa dong…saya nggak punya banyak ide untuk nama-nama yang demikian menggetarkan sanubari.
Apa saya pakai nama…
Umbel meler
Bebek ngepet
Kopok pliket
Kodok ngorek
Mpu tong Bacil
Keris mlintir
Kutukupret
Tapi…saya udah telat ikutan kompetisi ini.
Jangan-jangan saat semua BD’s udah ganti ID asli, cuma saya sendirian yg IDnya gemblung…..Apalagi kalau pas FS eror trus ID saya nggak bisa diganti lagi gimana? Waduh..
Shakespeare boleh bilang "apalah arti sebuah nama"..tapi saya nggak pe-de buat ganti nama..bukan takut akan apa kata dunia, tapi bagaimana kalau blog ini di baca bapak saya??
Waaaaaaaa….
Sampai Jumpa Tahun Depan, Suamiku…
Kecupannya menghangatkan pipi saya yang dingin diterpa angin desember.
Walau sudah berkali-kali pintu itu jadi saksi saat saya melepas Uda Andri pergi tapi setiap kalinya pintu itu terasa berat untuk ditutup lagi.
Separuh jiwaku seolah ikut dibawanya pergi.
"Aku pergi takkan lama…." katanya setengah berbisik sebelum melepaskan dekapnya.
Sampai jumpa tahun depan yah suamiku sayang..doaku selalu menyertaimu..
(Sajak dan Resep) KOLAK

SAJAK KOLAK
“Terbit liurku melihat kolak
Dijual orang di tepi jalan
Untung teringat nasihat emak
Di situ aku dilarang makan….
Terus kupergi menoleh tidak
Ubi kubeli serta cempedak
Kubawa pulang untuk emakku…
Kolak sekarang dimasak emak
Kami menanti tidaklah lama
Hidangan murah makan bersama…"
Demikian
bunyi sajak itu…tiba-tiba lancar meluncur dari bibir saya bagai
mantra saat saya menuang santan dan mengaduk kolak yang saya masak.
Beberapa saat kemudian sayapun termenung dan bertanya pada diri sendiri:
"Haaah !!Itu sajak zaman kapan ya?"
Jantung saya berdegup agak lebih kencang…lho, itu kan sajak waktu SD dulu!
Rasanya
tak pernah ada ekstra waktu saya untuk menghapalkan sajak itu dalam
kurun waktu satu dekade terakhir.(Boro-boro menghapalkan…ada usaha
untuk mengingat eksistensinya pun tidak)
Ah….tak sangka sajak itu ternyata tanpa saya sadari mengesankan buat saya.
Saya generasi anak SD zaman pelajaran Bahasa Indonesia bertokoh Budi dan Wati. Apakah sajak kolak ini dari buku pelajaran yang sama ya?
Entahlah..
saya tak ingat lagi… dan sayapun jauh dari rumah orangtua saya
sehingga saya tidak punya kesempatan untuk memeriksa buku-buku lama
saya waktu SD dulu.
Dulu…
Ibu guru saya adalah guru sepuh
yang saat saya lulus SD sudah pensiun….seingat saya beliau jarang
mengajarkan teori sastra, melainkan lebih banyak bersajak, memberi
nasehat dan bercerita.
Beliau benar-benar ahli bercerita. ![]()
Yoyok**,
murid nakal yang pernah hampir membuat kepala saya bocor karena
melemparkan botol selai ke kepala saya saja bisa duduk tenang dan
menyimak.
Alhasil Bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran yang
paling saya suka dan saya tunggu-tunggu, hingga jika hari itu ada
pelajaran bahasa Indonesia maka saya tak sabar untuk lebih cepat
berangkat dari rumah menuju sekolah.
Kembali ke Kolak.
Sungguh
sejujurnya waktu kecil saya tak suka kolak. Kesal rasanya jika sore
hari saya mencium baru kolak pisang. Perpaduan kejengkelan yang nyaris
sempurna…saya tak suka pisang, eh pisangnya dibuat kolak pula!![]()
Tapi…sejak "sajak kolak" ini diajarkan hati saya melembut terhadap pisang dikolak.
Walau cinta pada kolak tak kunjung datang,
tapi setidaknya ketika kolak disajikan oleh ibunda, hati saya tak lagi berontak.
Kini….
Ah, saya jadi tersenyum sendiri.
Kolak, bukan lagi sajian yang dengan mudah tinggal saya nikmati.
Saya sendirilah yang harus membeli bahan kolak dan memasaknya untuk jadi kudapan sore ini.
Tapi…ini bukan negeriku sendiri!
Tongkat dan kayu dilempar tak selalu jadi tanaman di sini.
Kemana lagi ubi dan cempedak harus ku cari??
*heheheh ..it’s not that dramatic though*
Tak ada rotan akarpun jadi. Tanpa ubi dan cempedak, pisang tandukpun jadi.
Untung pisang tanduk masih banyak saya dapati di toko ASIA.
Syukurlah…Saya suami saya ternyata suka kolak dan dengan lahap menikmati kolak yang saya hidangkan.
Bisa jadi "sajak Kolak" yang saya cantumkan di awal postingan ini, juga pernah membuatnya terkesan saat duduk di banku SD.
Entah bagaimana kurikulum SD di Indonesia saat ini.
Masih diajarkan tidak yah "sajak Kolak" ini di sekolah?
RESEP KOLAK
Untuk resep kolak, saya meniru langsung dari blog tetangga saya, sang pemilik Kedai Hamburg yang tersohor: Mbak Retno.
KOLAK PISANG versi Kedai Hamburg
Ingredients:
4 banana plantains
1 can palm´s seeds (without water)
350 g gula jawa/palm sugar
400 ml coconut milk
400 ml water
1 cinnamon stick (4cm)
directions:
peel and cut the plantains into small rounds. Boil water with palm
sugar and then sift. Pour in the palm sugar syrup in a sauce pan
together with banana plantains. Add coconut milk and cinnamon stick.
Bring to boil and let simmer for about 10 - 15 minutes.
Hmmm…resep ini adalah resep kolak paling enak yg pernah saya coba!!!!!![]()
![]()
Hanya saja santannya agak saya kurangi karena untuk kolak, uda dan saya lebih suka kolak yang tidak kental.
nyamm…
nyamm…
Kolak, anyone?
** Adalah nama yang sebenarnya.
Uncategorized | Comments (17)Love Should Never Hurt….
saat seorang rekannya menepuk punggungnya dan menyapa: "Selamat pagi
Jeng!!"
Dewi, bukannya dengan ceria menjawab salam rekannya malah terhenyak dan spontan mengaduh.
Sang teman dengan heran bertanya: "kenapa Wi? duh maaf ya…abis latihan berat lagi ya kemarin?"
"iya
nih..habis latihan tambahan semalam..biasa buat pertandingan" demikian
Dewi dengan tanggap menjawab diiringi dengan senyum manisnya yang
kembali mengembang.
Temannya pun tidak berpikir macam-macam.
Semua orang di kantor konsultan itu tahu bahwa Dewi biasa latihan
karate hingga tubuhnya pegal-pegal.
Manis, pintar, independen, bersabuk hitam pula….
Siapa nyana Dewi adalah korban KDRT?
Suaminya
yang tampan, santun dan juga salah satu eksekutif di biro konsultan
ternama itu bahkan dikenal sebagai ikhwan yg seringkali memberi tausiah
di beberapa kelompok pengajian.
KDRT dalam rumah tangga pasangan ideal itu kedengarannya seperti hal yang mustahil….
——–
itu adalah satu ilustrasi KDRT yg terselubung…yg saya ambil dari kisah non-fiksi.
Tentu banyak lagi korban KDRT yg secara fisik tak ’seberuntung’ Dewi yg bersabuk hitam…
Jelas masih ada banyak Dewi Dewi lain….
Dan kisah-kisah berbagai kasus KDRT ada diberbagai penjuru dunia…pun di negara-negara maju.
Mendengarkan, membaca dan menuliskan kisah-kisah domestic violence atau
kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu pengalaman yang luar
biasa, mendekati luar biasanya pengalaman yang dialami oleh orang-orang
yg terlibat langsung.
Yang
membuat trenyuh hati, tak jarang atau sering kali pelaku dan korban
adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi dan paham agama..
Bahkan….sorry
to say, ada diantara pelaku atau korban KDRT adalah orang-orang yang
diluar rumah tangganya adalah aktivis Hak Azasi Manusia…they stand up
and speak loud to fight domestic violence…they even have clients and
help the clients to fight free from this drama.
Ahhh!!
Ironis dan dramatik.
menyedihkan..
Pelik..
Bahkan…menyelamatkan orang-orang seperti inilah yang paling sulit.
Karena mereka lihai membuat alibi dalam menutupi luka yang dibuatnya atau yang diterimanya
Dan semua itu atas nama……CINTA.

Satu kata ajaib yang susah untuk dimengerti, dipahami…oleh orang yang normal dan merasa dirinya normal.
Jadi terbayanglah ….apa itu arti cinta bagi orang yang sakit jiwanya….hingga sakit raganya.
Dedicated to sufferers of Domestic Violence
Love should never hurt….
—————————-
Two Beds And a Coffee Machine
…
and she takes another step
slowly she opens the door
check that he is sleeping
pick up all the broken glass
and furniture on the floor
been up half the night screaming
now it’s time to get away
pack up the kids in the car
another bruise to try and hide
another alibi to write
another ditch in the road
you keep moving
another stop sign
you keep moving on
and the years go by so fast
wonder how I ever made it through
and there are children to think of
baby’s asleep in the back seat
wonder how they’ll ever make it
through this living nightmare
but the mind is an amazing thing
full of candy dreams and new toys
and another cheap hotel
two beds and a coffee machine
but there are groceries to buy
and she knows she’ll have to go home
another ditch in the road
you keep moving
another stop sign
you keep moving on
and the years go by so fast
wonder how I ever made it through
another bruise to try and hide
another alibi to write
another lonely highway in the black of night
there’s hope in the darkness
I know you’re gonna make it
another ditch in the road
keep moving
another stop sign
you keep moving on
and the years go by so fast
silent fortress built to last
wonder how I ever made it