Perias Gadungan (di Summer Fest Airbus 2007)
Tidak biasanya saya datang ke Konsulat (KJRI) saat Sholat Jum’at. Kemarin saya harus membaca kencleng (kotak amal) u/ Jum’atan karena abang-abang yang biasa saya titipi untuk membawanya tidak ada yang ‘available‘.
Ya…can’t complaint..kan memang ini tugas bendahara. 
Tapi selain itu, kehadiran saya di KJRI hari itu jadi membawa saya ke acara lain.
Sebenarnya, atas ajakan mbak N, memang saya ada rencana untuk melihat beberapa remaja Hamburg yang akan menari di Summer Festival yang diadakan oleh salah satu anak perusahaan Airbus untuk pegawai Airbus.
Tapi saya masih ragu. Emang boleh apa saya dateng? Sepertinya acaranya agak ekslusif gitu..
Nah pas saya sdg leyeh-leyeh duduk di sofa KJRI meununggu Jum’atan selesai,..datanglah Ratna.yang membawa koper krn baru datang dari Goettingen….lalu datanglah Kika..dan Nunik.
Berawal dari heboh cerita2 sama Kika (Psikolog Nachhilfe judulnya)..trus ngobrol2 sama Nunik dan Mbak Carol plus Ratna, jadilah akhirnya saya memutuskan untuk mengisi satu tempat kosong di mobil konsulat dan bergabung dengan rombongan yang dikomandani oleh pak Maharsi dan bu Retna.
Niatnya murni untuk sekedar foto2 mereka.


(Foto penari Merak sebelum mereka mengembangkan sayapnya, Fira, Sari dan Rinta)
Perias Gadungan
Sampai di sana, saya medadak harus ikutan jadi perias.
Waaaa……meminjam bahasanya si Kika, saya pun berseru..
OMGPDA!!!!! Oh my God ….pliss dong ah? masa jadi make up artist? Akrab sama alat2 make up saja tidak, lah ini mau ngedandanin penari?
Tapi ABCDE lah!…(eh..apa ka, kepanjangannya? tante lupa lagi?)..berhubung Kikanya cuek dan pasrah krn kepepet sambil nyodorin mukanya ke saya..maka mulailah saya beraksi meminjam alat riasnya mbak Carol dan Nunik. Ketika yang sedang beras mulai berbedak, saya butuh bedak juga buat Kika.
Untungnya saya sendiri kebetulan bawa bedak juga..tapi sudah pernah ketumpahan minyak telon yg biasa saya bawa2 dalam tas. 
Trus saya tanya ke Kika:
"Gimana Ka, tante sih udah biasa dan tahan makai bedak yg udah ketumpahan minyak telon ini, tapi Kika gimana?..Kika mau ambil resiko makainya?" (soalnya bedak lain sedang dipakai oleh masing penari yg udah hectic karena musti buru2 siap manggung).
Lalu Kika bilang: " nggak apa apa kok, Kika tahan kok!".
hehe..ya udah..acara bedakan pun lanjut. malah kami jadi rada gila ketawa tawa terus, untuk menutupi rasa kuatir akan hasil akhir wajah si Kika nanti.
Nunik dan mbak Carol yang juga penari Jaipongan pun ikutan panik..apalagi ketika saya harus memasangkan sanggul cepolnya Kika. Mau bantu sih pasti, tapi mereka kan juga musti dandan.
Ya wis lah..pokoknya si tomboi Kika ini musti berwarna buat manggung nanti.
Hasilnya? lumayanlah…

Eitss mendadak..sebelum mereka manggung..bu Retna bilang saya harus menggambar alis. Soalnya alis mereka harus tampak jelas di panggung.
Haaa? Alis?
Waduh…kali ini alis Nunik pun juga musti saya gambari. Sambil deg degan saya mencorengkan pinsil hitam yang tadi hampir menculek mata Kika waktu saya merias matanya, ke alis Nunik. Hahahahaha….saya tak bisa menahan tawa….kocak abis…nggak sama tingginya. Kacau deh..Untung bisa dihapus dan dirapihkan.
Dan begitu lihat alis Kika..saya di foto saya baru nyadar kalau saya gambar alisnya gak sampai ujung.
Begini nih kalau nggak profesional.
Lokasi: Wedel (agak ke pinggir sanaaaaaa lagi)
Selesai acara tari, rencananya saya mau langsung pulang.
Tapi ..lho saya nggak tahu ada di daerah mana. Karena tadi saya naik Mobil KJRI dan asik ngobrol maka saya nggak memperhatikan jalan. Yang Jelas tempatnya enak banget persis di pinggir sungai dan punya ‘pelabuhan’ kecil sendiri. Seperti Club resto gitu. Tempatnya tenang banget dan eksklusif. Kebanyakan tamu yang datang dan turun dari mobil mobil mereka adalah keluarga dan para lansia. Padahal tempatnya lumayan romantis buat pasangan muda lho.
Romantis? Beberapa pose mesra pasangan muda pun sempat terjepret oleh kamera saya.


Demkianlah jauhnya lokasi di Hamburg coret, hingga saya memutuskan untuk pulang bareng rombongan penari saja. (Migo..maafkan gue ya..akhirnya gak jadi ambil mangga2 itu. Yah emang udah bukan rejeki kali yah?)
Feeling Younger for a While

(foto Mayang yang menari dengan penuh semangat dan energi ;D..keren May!)
Setelah para penari cantik itu selesai manggung, kami pun makan bareng. Wah..malu hati..saya pun dapat jatah juga. Akhirnya acara santai dengan gadis-gadis narsispun dimulai. Seru banget…kadang saya jadi aga lupa kalau usia saya jauh di atas mereka. Mereka juga sih.instead of manggil saya tante Lessy, sering juga memanggil saya mbak Lessy atau teteh Lessy.
Well..mengutip kata mbak Carol, dari belakang saya seperti murid Gymnasium (sekolah menengah di Jerman) tapi dari depan seperti Museum.
Tobaaat..
Foto di bawah ini adalah foto mereka bergaya di meja makan. Nunik yang ngin mempraktekan ajaran Mayang untuk minum teh dan kopi ala Inggris, tidak mendapatkan dukungan dari yang lain…..*ampunn…gini ya juga difoto*

Lalu..
Foto ini saat kami setelah makan dan di beranda Resto. Komentar ttg foto ini: Hmm...no comment deh

Dan foto ini waktu kami menjelang pulang..

Foto selengkapnya saya sudah upload di Flickr.
dan untuk melihat slidenya silahkan mampir kemari.
Pengumpat
Kalau saja pengumpat dan pencela bukan termasuk golongan yang celaka, pagi ini akan lepas saja mengumpat:
"Insomnia keparat!!!!!!!!!!!"
Tapi, siapa juga sih yang pengen celaka?
Gfmpp*
God Forgive me Pleasee…pleasee…
Im Namen Allahs, des Allerbarmers, des Barmherzigen!
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Source: Qur’an Eksplorer.
Uncategorized | Comments (9)Fahrkarte Bitte!!! Ticket please!!!
Tadi pagi-pagi saya sudah pergi ke pusat kota untuk belanja.
Ransel saya yang berangkatnya kosong kemudian penuh daging, daun
bawang, tomat, bawang putih dan seledri.
Lumayan…Olahraga.

Seperti biasanya, saya naik U Bahn lalu ganti naik bus.
Tidak ada yang super spesial selama perjalanan, hingga…..
"Guten Morgen! Ihre Fahrkarte Bitte!" (Good morning! Your Ticket please! Selamat pagi…Tiketnya doong! –terjemahan bebas–)
Demikian
diserukan secara serempak oleh 4 orang ‘penumpang gadungan’ yang
begitu bus berjalan perlahan meninggalkan halte, mendadak mengeluarkan
ID mereka untuk menunjukan bhw mereka adalah petugas HVV.
Sekonyong-konyong
begitu, saya pun kaget. (Apalagi salah satu petugas itu, yg berdiri
tepat di sebelah saya teriakannya paling mantap)
Tidak biasanya dalam bus ada pemeriksaan tiket.
Biasanya dalam U Bahn atau S Bahn-lah yang sering.
Yah tak apa..kadang kejujuran itu perlu juga diuji bukan?
Pemeriksaan adalah salah satu syarat pemeliharaan ketertiban.
Masalahnya…dimanakah kartu abonement HVV saya!!!!?
Panik melanda. Tak lama sih, cukup dua detik saja hingga saya
ingat letaknya.
Uggggghhh…di dasar ransel!!!
Di bawah daging dan sayur-sayuran yg saya jejalkan dengan susah payah!
Membongkar ransel di dalam bus yg bergerak dalam keadaan berdiri
cukup merepotkan. Apalagi sambil diawasi puluhan mata rasanya
betul-betul nggak asik.
Maka mulailah perjuangan itu.
Pertama tama keluarlah seledri, lalu daun bawang…kemudian bawang putih lalu…
"upss!"
"upss!..upss, upss..!!"
Dan…usaha keras saya untuk
menahan 3 buah tomat hijau agar tidak menggelinding ternyata gagal
total akibat bus mengerem mendadak.
"Oh Tuhan…kemanakah tomat tomatku?? " desis saya lirih. 
Pikiran saya pun melayang sesaat ke tomat2 saya tengah mengembara di lantai bus nomor 4 itu.
Namun tatapan tajam petugas pemeriksa tiket segera mengingatkan saya untuk kembali berkonsentrasi menggali ransel lebih dalam.
Akhirnya
setelah 2 kilo daging di angkat..tampaklah dompet khusus saya yg berisi
surat2 penting saya.seperti paspor..surat nikah kartu asuransi dan kartu HVV. *Dompet ini selalu saya bawa serta*
Penumpang lainpun nampak ikut lega.
Saya lebih lega lagi. Sebab
tanpa kartu itu saya bisa kena denda sebagai penumpang gelap plus beban
mental. Beban mentalnya adalah maka saya akan menimbulkan citra buruk
sebagai Auslander (orang asing) dan pemakai Kopftuch alias jilbab yang menjadi penumpang gelap.
wah..gawat itu..
Menjelang turun bis, hati saya lebih lega lagi.
Tiga orang penumpang yang berbeda menyerahkan tomat-tomat hijau itu kembali.
Bahkan salah satunya ada yg tersenyum arif dan berkata: "Selamat memasak!"
what a morning!
Baru saja saja baca di sini ternyata ada berita ttg pemeriksaan penumpang bus tokh?
Uncategorized | Comments (8)Selasa Rintik-Rintik
Di belakang rumah ada pemboran jalan.
Sementara gedung seberang sedang dirombak habis-habisan.
Sementara dalam gedung kami pipa2 gas pemanas sedang dalam perbaikan.
Terbayang dong ributnya?
Semestinya ya!?
Tapi keributan2 itu tak bisa jadi penawar sepi.
Penghujung hari selasa yang penuh rintik hujan ini, terasa tawar dan datar.
Apa sebabnya?
Sebabnya: Hari ini saya ditinggal terbang dua kali.
1. Dini hari ini uda Andri terbang ke New York. Walau ini merupakan ‘rutinitas’ tiga bulanan selama dua tahun belakangan, saya tidak juga merasa terbiasa. Setelah saya melambaikan tangan di depan pintu Wohnung kami, menutup pintu …lalu rasa sepi datang menemani. Biasanya, kemudian saya nikmati saja akhir pagi bersama sepi dengan menyeruput secangkir teh melati.
2. Siang tadi mbak Muti, Mas Agus dan Billah terbang ke Indonesia. Mereka tidak lagi bermukim di Hamburg.

Saya ikut melambaikan tangan di Airport, bersama beberapa teman-teman yang lain.
Hebatnya.. tak ada tetesan airmata. Hanya saja, rahang2 dan pipi2 jadi kelu karena bekerja keras membendung haru.
Bagaimana cara agar tak rindu jika telah begitu banyak kenangan manis?
Walau tak menangis, hati saya gerimis.
210707
Friends, Husband | Comments (14)Suplir
Suplir a.k.a. Adiantum
Meskipun agak jarang, namun kadang-kadang di toko toko bunga di Hamburg, saya masih menemukan tumbuhan spora bertangkai hitam ini dijadikan hiasan dalam pot. biasanya dikombinasikan dengan moss. Cantik sekali.
Jika melihat tumbuhan satu ini, biasanya saya jadi terkenang masa masa sekolah dulu. Entah bagaimana prosesnya, hingga saya mulai duduk di bangku kuliah saya sangat akrab dengan vegetasi ini.
Mulai dari hanya mencabuti jenis2 suplir liar di pinggir got sepanjang jalan sepulang sekolah untuk jadi hadiah untuk ibunda di rumah, (maturnuwun ya ibu..untuk selalu menerima oleh2ku itu dengan wajah tersenyum)….. hingga kemudian saat saya duduk di bangku SMA menyulap satu ruangan kecil di rumah orang tua saya dulu sebagai "laboratorium" pengembangbiakan suplir serta memenuhi sudut2 rumah orang tua saya dengan pot2 kecil berisi suplir.
Macam-macam bentuknya. Ada yang kecil dan cocok untuk jadi tanaman hias dalam gelas, ada juga yang besar hingga rumpunnya cocok untuk jadi penjaga pintu. Saya suka yang berdaun mungil dan menyebar. Jenis suplir yang sederhana namun memandangnya bisa melipur hati yang terluka. Waktu SMA saya sering memandang suplir2 ini sepulang sekolah biasanya setelah bermasalah dengan pelajaran matematika.

Gambar suplir di atas saya unduh dari sini
Mengingat suplir, masa SMA dan matematika, berarti mengingatkan saya pada seorang teman. Seorang teman masa SMA yang sangat mengesankan. Selain amat sangat pintar dan baik hati, iapun suka tanaman. Diam-diam saya sangat kagum padanya. Karena seingat saya, dia adalah satu-satunya teman sekolah yang mau jadi teman saya bertukar bibit tanaman dan mengajari saya matematika. Soal tanaman itu ternyata membuat ia punya tempat khusus dalam hati saya hingga kini. Kepadanya saya rela meminjamkan buku kesayangan saya. Buku yg menjadi penyemangat menggapai cita2 waktu saya SMA. Bagai menyisipkan satu petal mawar, sekeping hati saya sisipkan di dalam buku itu. Namun, saya rasa buku itu lebih berhak ditangannya. Lagipula, …apalah arti sebuah buku anatomi di tangan seseorang yg malah kemudian menjadi mahasiswi Fakultas Hukum?
Tapi entahlah saya tak tahu lagi apakah ia masih suka tanaman, masih menyimpan buku itu dan masih ingat saya. Biasanya teman-teman masa lalu saya yang merebut banyak tempat dalam ingatan saya, sudah lupa pada saya atau paling tidak hal-hal yang saya anggap penting bagi kami..
*nyengir* How pathetic!..kasihan deh …
Seperti ada satu teman saya yang saya juluki si pemungut saga karena kebiasaannya memunguti biji saga di taman kota dekat rumahnya.
Terakhir kami bertemu, saya bertanya apakah dia masih menyimpan biji saga dalam toples atau nasib toples biji saganya senasib dengan toples biji saga saya yg dibuang oleh ibu saya duapuluh tahun silam.
Lalu dia bilang…"HA? Saga? apaan tuh?"
hiks..padahal dialah dulu yang mengajari saya bahwa itu adalah biji saga dan pantas untuk dikoleksi.
Yah..kita tinggalkan saja tentang biji saga dan kembali tentang suplir…
Kini saya malah ingatan terseret samakin jauh ke masa SD dan tepatnya pada seorang sahabat kecil saya dulu yang turut serta bersama saya berburu suplir. Wajahnya yang sejak dulu sudah jelita, tak jarang terkena lumpur got yang mengelilingi sekolah dasar tempat kami bersekolah. Kami menghabiskan waktu kecil kami di parit, di atas sepada, bahkan di atas genting. Jika saya mengunjungi rumah orang tua saya yang dulu…saya selalu….selalu..dan selalu…membayangkan rambut ikalnya yang lucu berhamburan mengikutinya yang berlarian di belakang rumah untuk kemudian naik ke loteng. Di sana kami makan kerupuk belinjo udang kesukan kami. Kadang kadang si pemungut biji saga ikut serta bersama kami.
Kisah itu sudah lepas bertahun-tahun yang lalu.
Gilanya…sampai kini ruang hati ini masih dipenuhi sosoknya jika saya rindu masa kanak-kanak saya. Si jelita itu sahabat pertama saya. Satu satunya orang yang saya ijinkan mendorong-dorong hidung saya, menuruti kebiasaan anehnya yang sangat suka memencet hidung dengan jarinya. Gadis kecil itu bilang tulang hidung saya selalu nampak aneh. Tentu saja..hidung saya baru saja tercoreng oleh abu yang jatuh dari ujung kukunya yang hitam karena belum cuci tangan setelah kami bermain di parit mencari suplir.
Belakangan ini, acapkali melihat wajahnya di layar kaca atau majalah wanita, saya pun tersenyum dan bergumam dalam hati:
"Ah…masih ingatkah dia padaku dan suplir-suplir itu?"
Gambar di atas saya unduh dari sini.
Merah Putih
Demi tekad bulat agar seperti bendera kebangsaan, kostum saya tgl 17 Agustus yg lalu adalah merah putih.
Hap hap hap..
Hari itu saya berjalan dengan langkah lebih tegap dari biasanya dirasuki semangat untuk menjadi "suci gagah perwira". Seperti sang saka merah putih.
Tapi kok sesampainya di KJRI, ternyata sedikit bgt yang pakai baju merah putih ya?
*celingak-celinguk*
Duh..Hampir ciut nyali dan buka jaketpun sempat tak berani.

Apalagi bbrp teman menggoda dan berkata: "Less..jangan deket2 tiang yahh..ntar dikerek looh!"
Tapi mengapa jadi berbalik hati?
Hari ini saatnya untuk merah putih!!!
:))))
Merdeka!!!
Lima Tahun Yang Lalu
Assalamualaykum wr wb
Kwak sayang,
Tepat sudah lima tahun berlalu.
Sejak langit menyaksikan pintu
cinta dan perselisihan di antara kita terbuka lebar-lebar hingga mereka bagai tanpa
batas terbentang.
Saat itu pula keluarga, sahabat dan kerabat kita mengucapkan:
"Barakallahu laka wa baraka alaka wa jama’a bainakuma fi khair"
Semoga berkah Allah tetap untukmudan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan..
dan kita sama-sama mengaminkan..amiin amiin amn..
dan sama sama mengucapkan Alhamdulillah…Alhamdulillah…Alhamdulillah…
Kita saling berpandangan ya kwak?
Mulai saat itu langkah hidup kita masing-masing adalah langkah bersama.
Melewati gerbang yang penuh misteri dan rahasia.
Yang kita tahu pasti hanyalah…kita melangkah menuju titik di balik horizon nun jauh….di sana. Di titik keperakan di kaki langit.
Entah berapa lama kita akan sampai di sana..
kwik memandang kwak..
Doakan kwik ya kwak?
kwak memandang kwik..
kwik juga mendoakan kwak yah?
kita sama-sama mendoakan…
Barakallaahu likulli waahidin minna fi shaahibhi…
Semoga Allah memberi barakah masing-masing diantara kita terhadap teman hidupnya…
Aminkan ya kwak?
iyah…kwik juga yah?
Amin….Amin….Amin….
Kwak, itu tepat lima tahun sudah canda tawa bahagia dan tangis duka berpeluh airmata kita lalui bersama.
Terima kasih…ya kwak..ternyata kwik semakin cinta.
Kwak sendiri bagaimana?
Kwak sayang,…maukah kwak mengulang doa ini ketika kwak membaca surat ini?
Kwak…maukah…
………….
………….
Belum selesai saya membaca seluruh isi surat si kwik pada si kwak, saya sudah terjaga.
Rupanya saya bermimpi.
Ah…dua bebek dalam mimpi itu.
Rupanya mereka juga menikah lima tahun yang lalu.
Hamburg, dini hari 16 Agustus 2007,
Wassalamu’alaykum wr wb
Kwik
Seumpama saya adalah si kwik, begitulah saya akan menutup surat cinta saya pada si kwak.
Diam-diam saya salin surat si kwik pada kwak dan saya jadikan inspirasi surat cinta untuk suami saya yang sedang terlelap.
Words fail me to express my gratitude that… Through the years..…I love you more…
Happy 5th Anniversary my dear.
Lost in Translation..

Dalam suatu acara (baik acara resmi ataupun setengah resmi) di mana ada dua (atau lebih) bahasa yang dipakai, biasanya ada penterjemah alias interpreter a.k.a Dolmetscher(in).
Fungsi interpreter ini bukan main..atau kalau boleh saya bilang, memiliki kekuatan yang hebat.
Apalagi jika yang diterjemahkan adalah bahasa (baca: bahasa dalam arti luas) dalam sebuah negosiasi bisnis, atau perdamaian suatu konflik multinasional.
Tidak hanya paham bahasanya, namun juga paham arti ungkapan-ungkapan dalam bahasa yang dipergunakan. Tak jarang, arti pekerjaan sang interpreter ini adalah uang berjuta dollar bahkan nyawa serta keselamatan suatu bangsa atau negara.
Pantas saja ada film yang berjudul The Interpreter. Sepertinya cukup bagus dalam memberi gambaran tentang seorang interpreter hebat. Apalagi Nicole Kidman, aktris cantik dan pintar kesukaan saya menjadi bintang utamanya. Sayangnya saya memutuskan tidak menonton film ini dengan tuntas. Maklum banyak adegan berdarah yang bisa membuat saya tidak nyenyak tidur.

Lost in Translation
Lost in Translation I
Masih berkaitan dengan Interpreter.
Suatu saat saya pernah berada dalam suatau acara dimana terdapat dua bahasa yang dipergunakan. Kebetulan, saya mengerti kedua bahasa itu (walaupun sangat jauh dari sempurna). Pada acara itu saya sempat terpana mendengar terjemahan dari pidato yang disampaikan oleh sang interpreter kepada khalayak.
Banyak pesan yang menjadi berbeda dan lain arti (namun syukurnya..tidak bertentangan).
Sampai terbengong-bengong saya waktu itu sambil mengernyitkan dahi karena otak saya sibuk menterjemahkan sendiri artinya..namun pada saat yg bersamaan juga tertawa terkikik-kikik (ini tertawanya cuma dalam hati lho!) ketika melihat khalayak yg mengerti bahasa terjemahan tersebut mengangguk-angguk dan tersenyum khidmat pada pemberi pidato.
Wah..jadi ingat film "Lost in Translation"!
Tapi setelah acara selesai saya pun maklum..penterjemahnya adalah interpreter cabutan yang didaulat mendadak beberapa menit sebelum acara hingga menjadi interpreter dengan sukarela.
Ah..masih untung beliau bersedia…

Pengalaman itu, membuat saya semakin menghargai arti seorang interpreter. Apalagi Interpreter sejati yang hebat berkomunikasi, berilmu tinggi dan yang tak kalah pentingnya, jujur serta berdedikasi.
Barangkali terlalu berlebihan jika saya mengatakan bahwa perasaan saya bisa menggelegak berapi-api lalu mengharubiru terharu saking kagumnya jika melihat seorang interpreter sejati sedang beraksi dalam sebuah negosiasi, tapi apa boleh buat..itulah yang memang saya rasakan. (such an emotional freak, huh!?)
Sungguh, jika mengacungkan jempol kedua kaki saya termasuk kategori sopan, tentu saya akan mengacungkan keempat jempol saya. "Four Thumbs up!", begitu.
Tapi demi sebuah normalitas zaman ini.."Two thumbs up" pun jadi.
Ya!..Saya acungkan dua jempol tangan saya untuk mengungkapkan salut saya pada para interpreter.
Mereka punya kesempatan untuk berkontribusi dalam perdamaian dunia, paling tidak diantara sejenisnya, sesama umat manusia.
Lost in Translation 2
Kali ini hampir tidak ada hubungannya dengan interpreter, tapi hubungannya dengan pemberitahuan batas-batas bahasa yang dipakai. Terutama pemakaian bahasa dalam komunikasi tertulis. Saya akui saya bukan penulis yang konsisten. Saya sering seenaknya mencampur adukkan bahasa yang terbersit saat mengetik postingan saya.
Namun bagaimana jika pemakaian bahasa asing itu bablas tanpa peringatan dan tanda-tanda?
Mungkin jawabannya adalah, tergantung konteks pembicaraan.
Nah, inilah problematika tersendiri bagi saya yang seringkali kurang cerdas dalam membaca konteks. Bahkan kadang saya terjebak oleh ketidak-tahuan bercampur ke-sok-tahuan (????) saya sendiri dalam membaca sebuah pesan tertulis.
Contohnya:
Beberapa hari yang lalu saya mendapat pesan dari seorang teman:
" Lesssyyyyyy…bogossippoooooo neeh! Online nggak?!!"
Pesan berupa offline message itu tidak hanya sekali, tapi lebih..
"Lessyyyy…bogosipo !!!!!!!!"
Lalu saya jawab:
"Haiii XXXX…ada gosip opppooo???"
Lamaaa tak ada jawaban.
Sungguh membuat penasaran.
Baru siang ini, setelah tersiksa oleh rasa penasaran salam berhari-hari, pertanyaan saya pun terjawab.
Saya menerima offline message yang berbunyi:
"Lessy…bogosipo artinya "I miss you"….itu bahasa Korea!"
Sampai antara lemes dan mules membacanya.
Aduuuhhh..benar-benar deh! *getok jidat sendiri*
Saya ini kok telmi dan nggak gaul banget.
Inilah sebuah contoh gamblang..akibat kurang pengetahuan.
Hhhhh…Saya harus lebih banyak belajar…
Belajar banyak..
Tak boleh berhenti ..hingga titik darah penghabisan..hingga ke negeri Cina dan Korea…hingga ke liang kubur..
PS:
XXXX dear, I miss you too!!!! bogosipo jugaaa….hee-hee-hee..
Kunjungan Dari Sydney
:))))))))))
Jum’at malam saya kedatangan teman lama dari jauh.
Teman semasa kuliah di negeri kincir angin 7 tahun yang lalu.
Namanya Nukila Evanty. Berhubung ia sedang ada summer programme di International Court of Justice, di Den Haag (The Hague), maka akhir minggu ini ia menyempatkan diri "mampir" ke Hamburg.
*Untuk menengok gue, jauhhhhh lebih deket dari Den Haag daripada dari Sydney kan Nuki????*
Flash back ke tahun 2000.
Waktu itu di angkatan kami, hanya 4 orang Indonesia yang berhasil lolos dari Internasional law I, hingga kemudian selesai mengikuti program Master Hukum Internasional di Groningen.
Penuh suka duka dan kenangan.
Tak heran, kami berempat cukup akrab sampai menagis dan tertawa bersama…. contohnya, sama sama ujian Internasional law I tiga kali (hapalin deh itu buku Akehurst!! hehehe)..belajar sama-sama..stress sama sama..nangis sama-sama..dan akhirnya lega bersama-sama. …Alhamdulillahh…
Jum’at 03 Aug 07, jam 8 malam.
Begitu kami bertemu di Hauptbahnhof, kami sudah tak sabar bertukar cerita. Heboh. Hingga BALZAC tutup…baru kami ke Hoegenstrasse. (dan dengan terpaksa, volume serta intensitas kebawelan yg di kurangi habis-habisan..acara tukar ceritapun dilanjutkan di rumah).
Ouuugh…So many other news and gossip(s) to chat about!
Sedih juga ketika kami menyadari bahwa salah satu dari teman kami "hilang tanpa jejak" (Tut, di manakah dirimu???? seluruh dunia mencarimu!!!!), dan mengetahui bhw beberapa Profesor penting telah pensiun…..dsb.
Namun banyak berita yg menyenangkan juga.
Misalnya, mengetahui bahwa Nuki sangat menikmati pekerjaannya di UNHCR dan sedang menyusun desertasi PhDnya di Sydney adalah berita yang menggembirakan. Dan kabar bahwa Fakultas Hukum Rijksunversiteit Groningen terpilih lagi menjadi yang terbaik di Belanda adalah berita yang membanggakan bagi kami alumni RuG.
Benar2 topik yang sudah lama banget nggak saya bicarakan, banyak menarik pelajaran2 yang bermanfaat dan yang tak kalah penting..dengan teman lama yang sudah bertahun2 tak bersua.
Benar2 refreshing euy….
Current mood: Blissfull
PS:

Assalamualaikum Nukila dear..
Thanks for the encouragement Ki!…. and thanks for the book too! somehow..when it is really written up there, I might join you working under the same UN flag.
Hiks…Sayang ya Nuki…karena tadi pagi2 gue harus standby di konsulat jadi panitia hari anak, gue jadi nggak bisa nganter sampai Haupbahnhof .
Ah…
Semoga kita bisa ketemu dan cerita2 lama kayak kemarin lagi ya!.
Di Hamburg, Den Haag, Jakarta…..atau…mungkin Sydney?
Kan gue belum pernah lihat acara defense PhD di Aussie…
Wish you all the best and only the best!
Wassalamualaikum wr wb,
Lessy
Friend | Comments (10)


