Berguru pada Pasangan (?)

July 30th, 2007

http://www.citebase.org/graph?id=64879525&big=0&cumu=1&legend=0

(picture taken from here)

"Da, "Mottness" itu artinya apa ya?" Tanya saya sambil mencolek-colek punggung Andrivo Rusydi yang sedang asik menghitung kalkulasi dan persamaannya sendiri.

Yang dicolekpun berhenti menatap layar monitor komputernya dan berubah menatap saya dan berkata: "Duh sayang..Kenapa tiba2 tanya begitu?"

"Tadi iseng-iseng searching nama Uda di Nature, truss nemu kata itu dan kayaknya nggak mantep deh kalau mengandalkan wikipedia melulu" Jawab saya sambil membalas tatapannya.
Tatapannya yang khas.

Dari tatapannya saya tahu, suami saya itu setengah khawatir kalau-kalau saya memaksanya lebih lanjut menjelaskan tentang kata yang berasal dari salah satu tulisannya.

Baginya mengajari saya fisika, merupakan salah satu bentuk cobaan kehidupan.
Perumpamaan yg dramatis memang kadang jadi berasa seperti penghinaan kalau tidak ingat bahwa ini adalah perumpamaan yang saya buat sendiri.
(Masak sih sudah kebanyakan imajinasi, sensitif pula?! hee hee hee)

http://cache.eb.com/eb/image?id=54956&rendTypeId=4

Mungkin..(mungkin lho) diam-diam uda Andri berharap akan tiba suatu keajaiban dimana segala lapisan yang menghalangi otaknya dan otak saya menjadi lapisan semipermiabel, sehingga dengan menempelkan dahi kami satu sama lain, maka melalui proses osmosis saya bisa mengerti apa itu "mottness" dengan sendirinya.
Jika ini benar2 mungkin terjadi, maka larutan otaknya (yang semestinya-dalam hal ini) jauh lebih encer, tentu akan berebutan menjejali otak saya.

Hah!..proses yang mengerikan bukan?!
Syukurlah ini cuma ada dalam khayalan saya. :D

Hmm…sampai saya menulis postingan ini tak satupun penjelasan tentang "Mottness" keluar dari suami saya.

Sementara, jika harus menjelaskan banyak hal di luar fisika pada saya, maka ia bisa panjang lebar menerangkan seolah-olah dia sudah bertahun-tahun belajar hal yang di luar ilmu fisika itu.

wah?

——-

Ternyata hal ini bukan hal yang aneh jika berguru langsung pada pasangan.
Apalagi jika latar belakang ilmunya berbeda.

Contoh sederhananya adalah belajar bahasa.
Tak sedikit orang yang berguru bahasa-ibu pasangannya pada orang lain, padahal sang pasangan adalah guru bahasa itu.

Padahal kalau mengajar orang lain bisa demikian bagus, sabar dan sistematis sehingga murid-muridnya mengerti. Sebaliknya, mengajar pasangannya di rumah mendadak menjadi hal yang sulit.

Mengapa ya?

Apakah ini yang adalah bentuk dari batasan ruang profesi dan keluarga?

Mungkin juga.

Na ja..

Tentu saja ini tidak berlaku bagi semuanya..
Rasanya banyak juga kok, ‘guru’ yang bisa menjadi guru yang baik terhadap pasangannya.

Bukan begitu, teman?

:D

 

Sang Air Mineral

July 28th, 2007

http://blog.finewaterimports.com/wp-content/themes/semiologic/skins/digital-moon/header.jpg

Air adalah salah satu hal terpenting dari kebutuhan bertahan hidup.

Aplikasinya tentu untuk minum dan campuran masakan, air bersuci untuk keperluan ibadah hingga juga kebutuhan MCK.

Khusus untuk minum, pilihan air minum pun bermacam macam.
Dari yang tidak berwarna alias bening hingga yang berwarna warni seperti pelangi. Dari yang tak terasa, pahit seperti jamu cabe puyang sampai yang memabukkan seperti vodka.

Air yang bening yang biasa di sebut air mineral inilah salah satu sahabat saya di meja makan. Apapun makanannya, Air mineral selalu cocok mendampingi. *Haiyah!..nyaingin iklan Teh Botol?*

http://www.slashfood.com/media/2006/01/tap_water.jpg

Bagi saya air mineral yang berasal dari air ledeng Hamburg in rasanya paling cocok dilidah.
Murah dan segar.

Setiap hari saya minum air ledeng sekitar 2 liter lebih.
Entah memang demikian adanya atau memang lidah saya yang bukan lidah Connoisseur, maka air mineral dari botol Evian, Volvic atau von Bismarck masih kalah enak dibandingkan dengan air ledeng yang biasa saya saring

dengan teko saringan air minum dan langsung saya minum.
Yah…untuk urusan selera air minum ini memang harus diserahkan pada ahlinya.

//lamar.colostate.edu/~hillger/products/evian-15.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Bicara soal air mineral komersial yang dikemas dalam botol, benarkah airnya benar2 terasa berbeda beda? Apakah yang membuatnya terasa berbeda?

Persis seperti namanya!
Inti rasa air mineral in ada pada kandungan mineralnya.

Masalah efek pada enaknya rasa, tentu berbeda-beda bagi masing-masing peneguknya.

http://i.treehugger.com/tasmanian%20rain.jpg

Bagi sebagian orang, air dengan kandungan mineral tinggi seperti Vichy Catalan, terasa lebih menyegarkan. Atau sedikit alkalin membuat rada Perrier terasa lebih ‘manis’. Entah apalagi observasi orang-orang mengena Pedras (yang konon mengandung gelembung2 udara alami), Antipodes atau Tasmanian Rain yang menyentuh botolnya pun saya belum pernah.

http://www.aquabar.ws/shop_images/antipodes_water.jpg

Masalah lain dalam memesan air minum bening ini adalah "carbonation".
Oh..ini penting bagi saya jika terpaksa harus membeli air mineral botol.
Non carbonated, non bulbles, a.k.a ohne kohlensaure adalah wajib saya nyatakan. Jika tidak, tiba2 air minum yang saya harapkan dengan tenang melepas dahaga, akan dengan hebohnya merecoki mulut dan kerongkongan hingga ke lambung dengan sodanya.
Bagi pembenci soda yang mengharapkan oase yang tenang, hal ini merupakan siksaan pahit yang mengecewakan.

Fine water

Seseorang pernah berkata pada saya, bahwa dia menghormati pilihan saya untuk tidak minum Alkohol. Tapi dia sangat ’sedih’ (traurig) karena sepertinya menu saya jadi tidak lengkap pada jamuan makan malam tanpa menikmati wine atau champagne. Seperti anak tiri.

Tanpa bermaksud mengangkat derajat air mineral botol hingga ke titik pongah, saya diam diam merasa "menikmati" juga…menjamurnya bisnis global "fine bottled water" membuat gengsi dan penampilan si air mineral terdongkrak.
Saya tak lagi membuat teman saya merasa makan dengan anak tiri yang tidak diberi minum.

//farm2.static.flickr.com/1084/929368502_de3e79065c.jpg?v=0” cannot be displayed, because it contains errors.

 

Hingga saatnya bersulang tak ada yang merasa "minder" untuk mengadu gelasnya dengan gelas air mineral saya.

Tapi tetap saja, bermuara kembali ke soal rasa..lidah saya bilang, air ledeng* masih nomor satu!

*Dengan catatan: jika supply air minum anda adalah air ledeng Kota Jakarta, harap di masak terlebih dahulu!*

———————————————

http://epicurious.blogs.com/photos/uncategorized/fine_waters.jpg

Mungkin kalau ada rejeki extra, menarik juga kalau saya beli buku karangan Michael Mascha yang berjudul:

A Connoisseur’s Guide to the World’s Most Distinctive Bottled Waters

atau mungkin ada teman-teman yang sudah punya dan sudah baca buku ini?

Benda Tajam sebagai Hadiah?

July 27th, 2007

Tak jauh dari postingan sebelumnya, kali ini ttg benda tajam sebagai hadiah.

//www.orderhouse.de/out/oxbaseshop/html/0/dyn_images/1/i_30007_2_p1.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Setelah membaca komentar teman-teman di postingan yang lalu.
Saya malah semakin tergoda untuk nekad sekali lagi mengangkatnya sebagai topik postingan.

*Hiii…bicara benda tajam di blog kok senang banget sih?*
Ini bukan karena saya maniak lho.
Sekedar curahan hati yang gemes melihat alat dapur yang sudah terkenal kualitasnya sejak jaman eyang putri saya.

Selama aturan bloging lebih bebas daripada aturan "cabin baggage", mengapa tidak?

//www.kambly.ch/Image/firmenangebot/geschenkpackung_gra.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Berangkat dari sebuah ide untuk menghadiahkan pisau untuk seorang kawan asli Jerman, muncullah sebuah pertanyaan:

Bagaimanakah pandangan adat istiadat/etika/sopan santun menjadikan benda tajam semacam pisau sebagai hadiah?

Adalah suatu kecerobohan jika saya mengasumsikan arti hadiah pisau buatan kota Solingen
"The City of Blades" sebagai hadiah berguna dan berkualitas. Hanya karena tahu bahwa calon penerima hadiah adalah Domestic Goddess yang membutuhkan pisau, sempat seenaknya  saya menduga tentu ia akan senang hati menerima bingkisan itu.

Untunglah saya tanya-tanya dulu pada penjaga toko pisau itu. Dari penjaga toko itu saya tahu bahwa memberi hadiah pisau di Jermanpun tidak sembarangan.

Walaupun Jerman adalah negara asal pisau2 terkenal dan kultur budayanya tidak lagi sekental dan sesensitif di Asia, tetap saja hadiah berupa pisau merupakan hadiah yang sensitif. Bila tanpa konfirmasi atau permintaan si calon penerima hadiah, sebaiknya hindari hadiah ini.

Konon hadiah pisau (benda tajam) diyakini akan ‘melukai’ persahabatan yang telah terjalin.

Jika memang anda yakin si penerima hadiah akan dengan suka cita menerima hadiah pisau anda (kalau bisa sih yang asli Solingen hehehehe) maka menurut kebiasaan lama di Jerman, anda harus meminta si penerima hadiah untuk memberi anda satu cent Euro…kalau tak ada sepeser Euro..sepeser dollar atau lima Rupiahpun jadilah.
Kenapa?
Supaya status peralihan tangan pisau itu bukan "pemberian" melainkan hasil jual beli (dengan harga yang "nyaris nol’)

Nah..itu ceritanya kalau hendak memberi hadiah pisau di Jerman.
Kalau di negeri lain saya kurang tahu.
Kalau hadiah pisau buat sesama orang Indonesia bagaimana yah?
Kira-kira etikanya akan lebih njelimet atau malah cuek2 saja?

Saya betul betul tidak tahu, Karena wacana memberi pisau sebagai hadiah belum pernah muncul ketika saya di Indonesia.

Jangan2.. dianggap pamali ya ngasih hadiah yg tajam-tajam?

Hiiih….sudahlah..cari hadiahnya yg lain saja deh kalau begitu.

http://apideas.com/henckels/img/subcategory_mouseover_img_8.jpg

Passion for Sharpness

July 25th, 2007

Sharp & Sharpness

What is the thing, which is usually associated with "sharpness"?
Brain?
Tongue?
Photograph?

//www.zwilling.com/images/artikel/black/259/30041200.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Knife, of course!

Lately, I have a little extra passion for sharp Knives. Not because I’m feeling like a cook and taking my grade up by armoring myself with better tools.
It is just a matter of needs.

Wieso?

I can’t stand cutting things in my kitchen with my old dull Fab**ware knife that I bought around 3 years ago due to its low price (at the end, I found out as low quality too) in an outlet in Long Island.
Can’t believe I still have some pair under the basin cupboard. They haunted me like the have spell in each of them.
Bringing an American cheap cutlery ended up as pain in the butt for me. Eh..seriously, I mean the pain was really ‘there’.

It was a sunny afternoon when I broke the grip as I struggle cutting the skin of the poultry.
Suddenly… I heard "clack!"  and an the same second, the front part of the knife jumped and swung over my head, then hit the wall behind me before it spanked my butt and landed on the floor. (Don’t asked me how this happened, since I’m not interested in making some kind of physical and analytical explanation about this)

I call this ‘an unwanted horrifying incident’.
Do not try this at home. I was just lucky that nobody’s hurt.
Or perhaps.. I should be a little bit more thankful to the fact that the knife wasn’t sharp?
For the sake of security, bad knives with bad handle better be dull!

Well..

As I’m having the passion for a sharp-kitchen-knife, Zwilling has the matching slogan which made me run to the store right away.
"AUS LUST an der Schärfe!"

"You need a real knife Lessy!"

But..ouch…it’s quite pricey!
Seeing the price tag is somehow like prickling something sharp into my eyes.
It’s clear that I didn’t (and don’t) want to spent 100 Euro for one single chef knife.
Huh! I am not a real chef anyway.

Price defeat the passion?
may be..
but may be not…
:D

Passion needs patience
Buy the knife when it’s on SALE
NOW

//upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/6/6f/Zwilling_8in_chef_knife.JPG/800px-Zwilling_8in_chef_knife.JPG” cannot be displayed, because it contains errors.

Ordinary Miracle

July 22nd, 2007
…………………………..Alkisah………………………….                           
                        *Postingan ini hanya berupa cerita fiktif belaka*
//farm2.static.flickr.com/1113/872444444_13013bf692.jpg?v=0” cannot be displayed, because it contains errors.

Pada suatu hari minggu sore saya berjalan-jalan di sepanjang kanal dekat pelabuhan kota Hamburg. Saat itu langkah saya menuju ke arah salah satu terowongan pengendali air yang mengatur keluar masuknya air antara  kota Hamburg dan sungai Elbe.

Ketika saya berjalan tepat di bawah kolong jembatan baja yang menopang jalur U3 saya mendengar suara lembut berkata:
"Hallooo…Guten Tag!"

Sayapun celingukan menengok ke samping kiri, kanan, belakang bahkan ke atas dan ke bawah. Namun saya tidak melihat siapapun. Demikian dihadapan saya hanya ada air dan tiang-tiang kayu, baja dan beton. Sedangkan agak jauh di depan saya..yang ada hanya kapal-kapal sepi yang sedang ditambatkan.

//farm2.static.flickr.com/1069/871205436_83b1839cf8.jpg?v=0” cannot be displayed, because it contains errors.

"Gutten Tag…Hai….Yuhuuu…menunduklah sedikit…saya ada tepat di hadapan kamu"

Hmm….saya tertegun sendiri.

Saya mulai berpikiran bahwa efek dari hujan-hujanan tadi pagi atau mungkin perubahan cuaca dari hujan ke panas terik yang terjadi mendadak di siang ini, bisa menimbulkan halusinasi.
Barangkali ini jenis efek halusinasi pada indra pendengaran.

"Coba kerjap-kerjapkan matamu..supaya kamu bisa melihatku"

Terhipnotis oleh suaranya yang lembut, saya pun menurut
dan mengerjapkan mata.

Sekerjap…..

//farm2.static.flickr.com/1170/871205394_e2d3acd9b2.jpg?v=0” cannot be displayed, because it contains errors.

"Ayolah ..sekerjap lagi…supaya aku terlihat lebih jelas olehmu"

Dan…
Dua kerjap…..

//farm2.static.flickr.com/1359/871205378_1de859b15e.jpg?v=0” cannot be displayed, because it contains errors.

"A..A..Anda yang bicara dengan saya tadi?"

Dengan ragu-ragu saya pun bertanya pada makhluk kecil yang tengah tersenyum lebar sambil bergantung nyaman di jaringnya yang terajut rapi di hadapan saya.

"Hihihi…Iya…Aku perhatikan tadi kamu memotret motret di sini. Memangnya apa yang menarik bagimu di bawah kolong jembatan ini? Aku boleh lihat tidak, hasil foto-foto mu yang barusan?"

Setengah ternganga saya mendekati makhluk kecil yang sok akrab dengan saya itu. Hebat, baru ketemu sudah berani ber-aku-kamu dan tanpa babibu mau tahu hasil jepretan kamera saya.

Bah!…kalau saya mengalami kejadian ini di kampung saya, mungkin saya sudah lari ngibrit terbirit birit karena saya otomatis berasumsi sedang bertemu dengan siluman penjaga sungai.

Tapi berhubung saya berada di negeri orang, tentu mind set yang agak-agak takhyul harus sedikit dirubah.
Dan tentu..di negeri orang, open mind terhadap ‘tuan rumah’ itu perlu. Lagipula balas bersikap ramah terhadap makhluk mungil ceria ini tidak ada salahnya, bukan? Dilihat dari penampilannya..rasanya sih, dia bukan Tarantulla ataupun keluarganya yang berbahaya.

"Bo… boleh….nih… liat aja.."
Setelah lebih mendekat padanya sayapun menyodorkan kamera dan mengarahkan display kamera ke arahnya.

Saya rasa jika ada orang lewat yang melhat kami, maka orang itu akan segera menganggap saya sinting.
..atau ..jika makhluk itu terlalu mungil untuk terlihat oleh orang yg menoleh sambil lalu maka orang itu akan sekedar mengira saya sedang memotret dengan "angle" yang kurang wajar.

Entahlah..
Yang jelas..saya cukup menikmati sepenggal sore itu dengan si Michaella.
Ya benar..namanya Michaella!

Sebelumnya sempat saya kira namanya Charlotte.
Hahaha ternyata bukan!
Ternyata si laba-laba betina itu asli Jerman, seekor Hamburgerin sejati dan sama sekali tidak ada hubungan kerabat dengan Charlotte teman Wilbur "si babi baik hati" yang ada dalam film "Charlotte’s Web".

Ah..demikianlah..
Kisah hari minggu saya dan pertemuan saya dengan satu makhluk Tuhan yang memesona.

Tapi sebaiknya saya akhiri kisahnya di sini sebelum nanti suami saya semakin curiga.
Tadi saja ketika mendengar cerita saya ini, dia menatap saya dengan pandangan tak percaya dan khawatir kalau sang istri terganggu jiwanya. Mungkin terlalu terlambat jika setua ini tiba2 mempunya imajinary friend yaitu kenalan baru berupa laba2 sungai Elbe.

Namanya juga sekedar "alkisah".
Tak perlu diambil hati.
Namun rasanya tidak salah jika setiap kali memandang keindahan makhluk makhluk ciptaan-NYA kita sedkit meluangkan waktu untuk menikmatinya..mensyukuri keberadaannya..dalam keseharian kita.

It may just an ordinary miracle….
but still…
a miracle

Hari ini dipinggir sungai Elbe.
Saya punya banyak waktu untuk duduk diam dan mengenyam pelan-pelan kenikmatan lapangnya ruang dan waktu di sekitar saya.
Terima kasih saya panjatkan pada Sang Pencipta
Yang kekuasaannya terbentang tanpa batas besarnya dan tanpa cela sekecil kecilnya.

//farm2.static.flickr.com/1397/871205336_01bbc44dd9.jpg?v=0” cannot be displayed, because it contains errors.

Ordinary Miracle 

Sarah McLachlan

It’s not that unusual
When everything is beautiful.
It’s just another ordinary miracle today.

The sky knows when its time to snow,
Don’t need to teach a seed to grow.
It’s just another ordinary miracle today.

Life is like a gift they say
Wrapped up for you everyday;
Open up and find a way
To give some of your own.

Isn’t it remarkable?
Like every time a rain drop falls,
It’s just another ordinary miracle today.

Birds in winter have their fling
But always make it home by spring.
It’s just another ordinary miracle today.

When you wake up everyday
Please don’t throw your dreams away;
Hold them close to your heart
Cause we’re all a part
Of the ordinary miracle.
Ordinary miracle

Do you want to see a miracle?
ohh ohh ohh, ohhh ohh ohh…

It seems so exceptional
That things just work out after all.
It’s just another ordinary miracle today.

Sun comes up and shines so bright
And disappears again at night.
It’s just another ordinary miracle today.
ohh ohh ohh, ohh ohhh ohh…
It’s just another ordinary miracle today.

 

Hari ini di Speicherstadt Kaffee II

July 21st, 2007

**Menyambung postingan yang lalu**

Dsc00136 Benar dugaan M.

Tak saya sangka saya suka sekali dengan Kedai Kopi ini. Kejutan M mengena dan berhasil. (Siang tadi M berkali kali meyakinkan saya agar mau ditraktir minum di satu kedai kopi yang suasananya akan jadi ‘kejutan’ buat saya.) Yang lebih tak saya sangka lagi…M terharu demi melihat saya riang gembira menikmati suasana kedai.(Ah…jadi agak emosional begini.)

—————————

 

Speicherstadt Kaffee. Nama yang cocok dengan lokasinya.
Letaknya yang di dalam bangunan tua sederetan gedung-gedung gudang tua di Speicherstadt dan tumpukan karung kopi
di antara mesin-mesin giling kopi besar, membuat kedai yang dindingnya dihiasi
oleh aneka kopi dunia dan koleksi mesin giling kopi kuno berbagai model ini lebih
menyerupai museum.

Dsc00133Pantaslah untuk dikatakan sebagai
"Die Spezialitätenrösterei der historischen Speicherstadt Hamburg"

Jika sedang berjalan-jalan di antara gedung-gedung gudang tua bersejarah di Speicherstadt Hamburg…tidak rugi kok mampir ke kedai ini walau hanya untuk sekedar melihat-lihat.

Begitu mendekat, hidung saya langsung disergap dan dipeluk
oleh aroma kopi Jawa Blawan pesanan seorang pelanggan yang sedang digiling dan dimasukkan kedalam kantung
satu kiloan.

Taruhan, (eh jangan taruhan deng…nggak baik ah jika suka
taruhan!) bila ibu saya berada di sini, tentu serta merta akan terbius oleh harum kopi baik yang baru diseduh oleh Barista
di balik bar sebelah kanan pintu masuk maupun bau kopi yang sedang digiling
segar-segar di pojok seberangnya. Melompat membicarakan hubungan ibunda saya dan kopi, beliau maniak kopi. Hingga ketika dilarang
dokter minum kopi, kemudian beliau mengalihfungsikan aroma kopi menjadi semacam aroma terapi.
Bahkan tak jarang saya melihat ekspresi beliau menghirup aroma kopi mirip orang
sedang menikmati ekstasi.

Kembali ke Speicherstadt Kaffee

Sungguh saya tidak dibayar sepeser Euro pun oleh pihak
Hacienda San Nicolas GmbH untuk mengiklankan atau menyebarluaskan keberadaan
kedai kopi ini. (nggak ngaruh kali…wong cuma personal blog gini)

Kedai kopi ini sepertinya tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan
selama saya dengan tekun menyimak
cerita M di dalam kedai itu, sudah beberapa rombongan turis asing berkunjung
untuk mencicipi kopi dan kue atau sekedar berfoto-foto di bagian-bagian kedai
yang nampak unik artistik.

Jika kedai ini adalah seorang gadis, maka ia tak
hanya gadis yang manis tapi juga fotogenik.
Maka itulah saya berasumsi, jika difoto oleh jenis kamera apapun
tentu tetap cantik.

Dsc00146Dsc00145
Dsc00140
Dsc00142
Itulah alasannya mengapa kamera telepon genggam sayapun
akhirnya dengan genit beraksi juga.
Supaya saya punya pendukung visual saat bercerita
dengan suami di rumah.

Last but not least...adalah urusan Kamar Kecil.
Sebagai salah satu dari sekian banyak ‘pemerhati’ kamar kecil a.k.a ‘restroom’ a.k.a toilet, bagi saya urusan kamar kecil bukan hal yang  kecil. Fasilitas
ini merupakan salah satu fasilitas penting.
Cukup melegakan ketika mengetahui bahwa berada di dalam gedung
gudang tua tak membuat fasilitas vital di dalamnya usang. (Gara2
penampilan fasade gedung diseberang kanal yg dilengkai dengan katrol barang …saya sempat usil
berpikir "jangan2 kl saya ke kamar kecil, saya musti nimba air dulu nih!" atau "haruskah saya menarik tuas antik untuk ?"nggak deng……Gedungnya gak tua-tua banget kok..)   
Untuk hal ini, saya acungi jempol…kamar kecilnyanya bagus dan juga bersih.

—————————

Tak terasa waktu sudah di ujung sore.
Setelah berterima kasih pada M atas kejutannya (dikenalkan Kedai Kopi ini plus di traktir segelas es kopi), saya pulang dengan membawa banyak oleh-oleh yang
bisa saya bagi dengan suami.

Oleh-oleh cerita tentang sebuah kedai kopi dan tentang sebuah harapan.
Tentang uniknya kedai kopi tadi.
Tentang harapan bahwa sobat saya
M akan sembuh dari kanker empedunya.

Hari ini di Speicherstadt Kaffee I

July 20th, 2007

//www.speicherstadt-kaffee.de/local/images/logo_mini.gif” cannot be displayed, because it contains errors.

“Cepat katakan khayalan apa yang baru saja terlintas di
kepalamu!”

Ucap M dengan nada setengah memerintah sambil meletakkan gelas Latte
Macchiato
-nya yang setengahnya masih berisi busa-busa susu di tengah meja kami
yang bujur sangkar.

“Ha?! Khayalanku?”
Tanya saya agak kaget sambil
membelalakkan mata saya yang tanpa saya sadari tengah setengah-terpicing karena
saya tersenyum-senyum simpul sendiri.

“Ya..ngapain kamu senyum-senyum begitu sambil memandang
pohon kopi di depanmu?”
Lanjut M.

“Oh..itu…”
Saya menyedot sisa es kopi dari gelas yang hampir
kosong.

M menunggu.

“Itu tadi cuma secuil khayalan tak penting macam gambar
komik di otakku.”

“Apa itu?”

Khayalan yang tak penting itu rupanya masih tetap mengusik rasa ingin
tahunya. Kadang sobat saya yang satu ini bener-benar berbeda dengan kebanyakan teman-teman Jepang yang saya kenal. Kalau ingin tahu, ia tak segan menunjukan rasa
penasarannya dan berani bertanya. Seperti kali ini, bola matanya yang hitam menatap saya dalam
dan tajam dari balik kaca matanya yang baru saja dilapnya dengan kain.

Lama-lama malah saya jadi ingin tahu; sejelek dan setengil
apa sih senyum saya tadi hingga dia penasaran dan mengajukan pertanyaan?

“Aku membayangkan pohon kopi dalam pot ini tiba-tiba loyo,
setengah mati (atau bahkan menguning lalu meranggas sampai akhirnya mati)
setelah kutiup barusan.”

Dsc00135_1
Saya menjawab sekenanya sambil melempar pandangan jauh
melompati jendela dan menyebrangi kanal ke barisan gedung-gedung gudang
berwarna merah bata khas ‘Speicherstadt’.

“Kamu pikir itu lucu?” Dahinya berkerut pertanda dia
menanggapi jawaban saya dengan serius.

“Aku rasa pohon itu justru malah segar karena dia mendapat
asupan CO2 dari nafasmu itu. Ini siang hari non, dan pohon ini berklorofil.”

Lanjutnya.

Tiba-tiba saya melihat sosok bu Tri Supeni, guru biologi
saya di SMA 6 Mahakam, menjelma di sosok wanita Jepang di hadapan saya.

“Alamak…, bukan fotosintesis yang berlaku dalam komik di
otakku tadi.”

Saya terkekeh geli demi melihat muka manisnya yang menurut saya berubah jadi
lucu.

“Lantas?”

“Begini ya, pagi ini aku lupa gosok gigi. Jadi, andaikata pori-pori
pohon ini dapat mendeteksi hal tersebut … bisa jadi dia merasa jadi pohon
paling merana di dunia dan memutuskan lebih baik mati suri setelah kutiup tadi”
Jawab saya dengan wajah serius lalu menyeringai selama beberapa detik, memamerkan
gigi geligi saya tanpa rasa malu. Padahal mungkin warnanya sudah agak kumal dan
gembel seperti karung-karung kopi yang bertumpuk didekat meja kami.

Sementara itu M memandangku dengan pandangan yang sulit
digambarkan. Sebuah pertemuan antara ekspresi takjub dan ekspresi jijik.

Tapi tak lama kemudian dia tertawa sambil bergeleng-geleng kepala dan
kembali melanjutkan ceritanya yang tadi sempat terputus oleh percakapan tentang
pohon kopi mini yang saya tiup tadi.

Mungkin dia pikir saya berbohong dan bercanda karena saya
memang suka menggodanya.

Mungkin.

Hmm…

Tapi tak perlu juga kan, saya katakan di sini kalau saya
bohong atau jujur?

:D

————————————

(www.speicherstadt-kaffee.de)

————————————

Pohon kopi mini dalam pot, tumpukan-tumpukan karung kopi, es
kopi, Latte Macchiato, dan barisan gedung-gedung gudang dari bata merah di seberang
salah satu kanal Speicherstadt. Merupakan sedikit dari
objek yang ada di sekitar kami, di mana cuplikan percakapan tak bermutu di
atas, mengambil tempat.

Di mana lagi kalau bukan di “Speicherstadt Kaffeerösterei”. Sebuah kedai kopi unik
yang baru diperkenalkan M pada saya siang tadi.

“Kamu pasti suka! Aku yakin kamu akan banyak menemukan objek
foto di sana!”
Seru M bersemangat ketika kami baru keluar dari U Bahn di
Stasiun Baumwall.

“Tapi aku nggak bawa kameraku hari ini” ucap saya agak
lesu, kurang bergairah.

Lesu karena kamera yang tertinggal seiring dengan jeritan rewel jemari kaki saya yang
terperangkap di dalam boot jinjit yang saya kenakan hari itu akibat belum
keringnya sepatu olahraga kesayangan saya yang bergambar cakar serigala. Sepatu
olahraga malang itu harus dicuci akibat kelengahan saya menginjak kotoran hewan
ketika berlari-lari lengah di atas trotoar. Ada hikmahnya. Paling tidak, kini saya mengerti mengapa di ujung satu jalanan di Altona tersedia
plastik ukuran kecil bertuliskan kalimat yang intinya “Pungutlah kotoran hewan
peliharaan anda ketika mengajaknya berjalan-jalan di trotoar kota dan masukkan
ke kantung ini”
dan saya sangat setuju dengan aturan itu.
Sayangnya saya tidak
pernah melihat gantungan kantong plastik semacam itu di daerah dekat tempat
saya tinggal.

“Aku bawa kamera!” Seruan M memecah perhatian saya dari
jemari kaki saya ke jemari tangannya.

“Pakai saja untuk memotret-motret.”
Dengan gesit jemari
tangan M mengeluarkan kamera mungil dari tas coklatnya dan menyerahkannya ke
tangan saya.

Saya tak dapat menahan senyum. Apalagi ketika tahu ternyata
dia sudah lama berkeinginan menunjukan kedai kopi kesayangannya kepada saya,
yang diduganya akan jatuh cinta pada kedai kopi tersebut.

Rasa tak ingin mengecewakannya mengalahkan kelesuan saya dan
membuat saya jadi kembali bertenaga untuk melangkahkan kedua kaki bersamanya
dengan riang menggiring kesepuluh jemari kaki saya tanpa ampun.

……

…..

Duh sebenarnya ceritanya belum selesai… ingin ngotot cerita lebih panjang …sedikiiit lagi…

Tapi ngantuk banget euy…ini aja ngetiknya udah mulai salah-salah….bersambung ya postingannya..insya ALLAH…

zzzzz….

07-07-07

July 6th, 2007

07-07-07
Banyak yang percaya ini deretan angka cantik..deretan angka keberuntungan untuk cinta..hingga konon adalah hari baik untuk pernikahan. Yang bener???!!

7?
Wah…gimana ya..kebetulan saya kurang suka dengan angka tujuh.
Bilangan prima selalu menjadi masalah saya waktu sekolah dulu.
Angka2 ganjil pun bagi saya kurang menyenangkan karena sulit tinggal dalam ingatan terutama kalau sudah harus mencongak perkalian. (seorang pernah bilang saya kurang "nyunah" jika saya tak suka angka ganjil…duh?).
Jadi jangan ajak saya duduk bersama untuk menarik "peretongan tanggal" jika ada kerabat yg akan menikah. Sebab saya tidak punya konsep jelas tentang angka. Beginilah jika sesuatu yg eksakta dicerna dengan perasaan.

Namun "07-07-07 wedding rush" ini fenomena global nampaknya. Atau..kalaupun tidak mengglobal, sekurang kurangnya ya…sebagai fenomena di Indonesia dan di Jerman.
Eitts…tapi hal ini Cina adalah pengecualian lho! Sebab, konon angka 7 merupakan angka sial di sana (?)
pssstt…don’t tell the
superstitious bride !!

 

Dari Indonesia undangan dan kabar pernikahan datang bertubi-tubi. Sementara di Jerman, di tiap-tiap Standesamt, puluhan pasangan antri demi mendapatkan tanggal ini untuk mengikat janji.

Di monitor mini dalam U Bahn pun saya berulangkali membaca terjadinya booming manten di Jerman.
Kemarin, seorang penumpang kereta tak dikenal lupa membawa pergi
majalahnya. Ha..itu rejeki saya jadi punya bacaan gratis di sisa waktu perjalanan ke Hamburg. Oiihh…isinya
tentang prominente (celebritis) Jerman yg hendak menikah tgl 07-07-07. Hehehe..lagi-lagi 07-07-07! Big deal rupanya.
Penghulu2 akan sibuk. Rathaus2 di Jerman tentu akan ramai sekali. Wuihhh!

Terlepas dari ketidaksukaan saya dengan bilangan prima dan ganjil, ternyata tanpa sengaja saya ngeh dan menikmati juga fenomena ini.
Hmmm..andai saya di Indonesia, berkah 07-07-07 tentu akan nyata bagi saya. Soalnya: banyak undangan kenduri = reuni + perbaikan gizi

:D

Apa kira2 nanti ada juga rush macam ini di tanggal 08-08-08?

atau 09-09-09?

*Kalau iya…mudah2an saya ada di Indonesia tanggal2 segitu!*

Bebek dan Ikan (”Du siehst lecker aus!”)

July 5th, 2007

Sore tadi saya memperhatikan seekor bebek yang asik berenang di kolam ikan. Ikannya banyak sekali.
Sesekali sang bebek menatap ikan-ikan itu, satu persatu dengan tatapan penuh makna.. yang sayangnya, sebagai manusia yang tidak menguasai bahasa mereka, saya tak dapat menangkap artinya.
Saya hanya dapat "menangkapnya" dengan kamera sederhana saya.

Saya rasa mereka sedang bercakap-cakap.
Kira-kira mereka lagi ngobrol apa ya?

Adorable Rafi

July 3rd, 2007

Uihiks…ihiks…

Dear Rafi…
Barusan Bude Ecy buka file2 foto di Cellphone Bude.
Dan..Pop!!!!
Bude Ecy nemu fotomu yang sedang senyum manis ini.
Bude hampir lupa lho kalau Bude punya file foto ini..
Duh..itukan senyuman waktu Bude goda. (Senyummu mirip senyuman ibumu tiap kali tersipu ketika Bude goda).
And you know what dear? For Bude Ecy, those simply adorable smiles are so sugary sweet!

Lalu kita tertawa sama-sama, karena setelah keki bude godain, kamu balas memberi "tugas" Bude gara-gara kamu ternyata nggak pakai pampers!
(ah.. you..)

Salam buat Ibu, Bapak, Eyang Kakung, Eyang Uti, Tante Oki dan Om Mail…Take a real good care of them good boy!

PS: Oh ya Fi, ini foto2 Rafi yang lain. Kali ini foto2 dari kamera Bude..itu lho..foto waktu Rafi sedang main sambil bantu2 Bude ngerapihin buku2 di kamar Bude yang berantakan..

Rafi_di_kamar_bude_ecy_1Rafi_di_kamar_bude_ecy