Pohon Musim Semi

Musim semi memang punya khas tersendiri..warna cerah bunga yang baru mekar, hijau segar tunas baru, langit biru dan udara sejuk.
Dan saya rasa..kamera saya pun sangat menikmati aksi bidikannya..kali ini hasil foto-foto di halaman Apostel Kirche. Beberapa hasil foto foto tersebut saya posting di sini…sekedar berbagai keceriaan sore itu.

Sedang menikmati harumnya bunga putih ini tiba2 saya mendengar dengungan lebah yang lalu saya ikuti sampai ke pohon cherry..

Lebah ini pemalu sekali..saya harus menunggu lama untuk bisa memotretnya …

Tapi akhirnya..berhasil juga saya potret setelah beberapa lama sampai tak sadar leher saya pun kelelahan dan pegal-pegal karena asik mendongak ke atas pohon kelamaan…
Sayangnya..sebelum saya mengakhiri acara foto-foto kali ini. Lensa saya terantuk pada pemandangan kurang sedap:
Lho? Sepatu siapa sih ini?? Kok Ada di sini???!!!

Wah…kok ya kontras sekali dengan bunga-bunga tadi ya?
ya sudahlah..mungkin ini pertanda saya harus berhenti motret…besok besok lagi saja deh motret-motretnya…
Uncategorized | Comments (20)Prasangka - Prejudice - das Vorurteil –> Stereotype
Siapa ya manusia yang tak pernah punya prasangka?
*clearing throat*
Terus terang, pengetahuan saya yang berkisar sekitar prasangka tidak banyak. Sejauh pengetahuan saya, prasangka itu tak jauh dari praduga, prejudice, Vorurteil, hingga ke Cliché dan stereotype.
Konotasi negatif memang akhirnya selalu menjadi ‘bawaan’ kata ini. Padahal (menurut perasaan saya sih hehe..) arti harfiahnya dapat diartikan "sangkaan awal" yang bersifat netral.
Tapi manusia biasanya lebih memilih pembuktian terbalik ya? hehe..alias membuat prasangka menjadi sangkaan awal yang negatif (prasangka buruk-su’udhon) sehingga justru perlu bukti dulu untuk merubah sangkaan itu menjadi positif (prasangka baik-husnudhon).
Der Irrtum ist Menschlich…
Alangkah pahitnya hidup ini jika semua prasangka buruk itu tidak dilawan dengan usaha untuk membuktikan bahwa sebuah prasangka buruk seharusnya justru hal yang baik.
Walaupun…"Positive thinking" itu kadang memang bisa mengecewakan juga. Ketika semangat dan usaha untuk melawan stereotype yang sudah ada malah justru berujung sebagai konfirmasi pembenaran stereotype atau prasangka buruk tersebut. Maka patahlah hati kita.
Bahkan berakhirlah niat baik untuk tidak menggubris prasangka buruk itu, dengan komentar orang:
"Dibilangin juga apa!"
"See? I’ve told you…"
"I habe das doch schon gesagt.."
"Ndablek!, wong wis tak kandani nek jarene wong iku..psst psst…."
Pengalaman pribadi?
Tentu dong.
Tapi saya nggak kapok kok.
Sungguh, enakan husnudhon daripada su’udhon lho…
Eits…
Mengapa tiba-tiba membahas tentang stereotype?
Soalnya hari ini saya baru mendapat pengalaman yang tak ingin saya lupakan begitu saja dan buru-buru ingin saya share di blog sebelum lupa.
Kali ini hubungannya adalah dengan "Stereotype" yang berawal dari pertanyaan:
" Mengapa sih orang Jerman biasanya tidak suka memakai bahasa asing di negaranya?" "Sombongkah mereka?"
*senyum*
*melirik jam…melirik PR kursus..dan melirik hubby yang sedang melotot sambil geleng2 kepala*
Duh..maaf..musti pamit..
Sayangnya saya sedang tidak bisa online lama-lama. Walaupun semangat curhat sedang berapi-api…terpaksa postingan kali ini musti dipotong di sini.
Insya ALLAH bersambung dan nggak terlupa ya?
Uncategorized | Comments (11)Kunjungan Singkat di hari Sabtu

Walaupun langit Hamburg tak berwarna biru, tapi hari sabtu yang baru lalu sama sekali tak kelabu.
Bukan hanya karena mentari bersinar tanpa malu-malu tapi juga karena kami kedatangan tamu.
Mbak Muti dan saya ber-kopdar-ria dengan Ophi (yang ditemani sang hubby, mas Bayu, datang jauh-jauh dari Dusseldorf ke Hamburg.)
Acara singkat namun padat.
Dengan meeting point di Veddel, kami pun berkenalan -kali ini di dunia nyata-, makan-makan dan foto-foto.
hehe..Ophi tampaknya sedikit keki karena ternyata kami kami ini tak sebesar yang diperkirakannya (hahaha…beginilah second first impression)
Tapi untunglah…"keterampilan bercakap-cakapnya" (kata halus dari bawel) tetap sama seperti yang Ophi bayangkan. ya nggak Phi?

Walaupun pertemuan kali ini singkat tapi tak mengurangi semangat kami merangkum cerita masing2 dan …mengambil foto sebanyak banyaknya.
Alhamdulillah senang banget bisa ketemuan sama Ophi dan Mas Bayu.
Semoga akan ada kunjungan balasan dari Hamburg ya Phi…Insya ALLAH.
Foto2 di atas dipinjam dari FS Ophi dan Flickr mbak Muti.
Sedangkan yang di bawah ini adalah foto2 hasil jepretan kamera sederhana saya dan diedit seadanya karena tukang potretnya nggak punya program photoshop *tukang potrete’ seko ndeso soale’*.
Hmm…mudah-mudahan para model yang ada di foto berkenan, soalnya candid nih ceritanya..hehehe jadi maap yak kalo nggak nyadar udah berpose kayak gini.
Untuk melihat semua koleksi foto saya hari sabtu tersebut silahkan klik di sini.
Selamat menikmati!!




Ikatan Langit Bumi
" Setiap yang berjiwa pasti akan mati itu adalah pasti, namun dapatkah aku menambatkan ikatan yang menyelamatkan bumiku dan langitku? Oh..wahai sang Khalik..selamatkanlah hambamu ini..tunjukanlah di mana hamba dapat menambatkan ikatan bumi dan langitku…"
Kutatap lagi layar komputer di depan saya. Pesan pendek dari bunda membawa ingatan jauh ke suatu sore di masa lalu.
Kaki kaki kecil kami yang beralaskan sandal jepit berlarian ringan berlomba menuju rumah sederhana di belakang surau. Tangan-tangan kecil kami mendekap Juz ama di dada dan di sambut senyuman ibu guru di muka pintu kayu.
"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuhhhh….Bu guruuu!!"
"Wa’alaiakumsalam Warahmatullahi Wabarokatuhh.."
"Ayo Ayo..masuk..sudah pada mandi sore kalian semua?"
"Sudah bu!!!"…jawab kami sambil meletakkan Juz’ama, salim tangan beliau, tapi begitu beliau lengah..kamipun berhamburan mengejar anak-anak ayam dan bebek yang muncul entah bagaimana dari pintu belakang rumah bu guru.
"udeh udeh ..Ayo mulai duduk yang rapi..jangan mainan anak ayamnye ntar pade mati deh! sergah bu guru..
"Aduh..ya ALLAH ya Rabb..Lessy..jangan manjat kursi ntar jatoh keluar jendela malah kejebur comberan" lanjutnya lagi dengan nada Betawinya yang kental..
"Udeh ayok duduk yang rapih sini!"…..
Alif… ba ..ta ..tsa…jim..
Waktu berlalu dengan cepat…beranjak dewasa..semakin jarang saya bertemu beliau. Hanya sekedar salim tangan kalau berpapasan, saat lebaran atau ketika pulang ke tanah air.
Tapi entah bagaimana rasa yang timbul dihati saya saat mencium punggung tangannya, sungguh masih sama seperti dulu…pun sampai terakhir saya mencium pungung tangannya usai beliau menyiramkan air siraman sebelum saya menikah beberapa tahun yang lalu.
Mencium punggung tangannya, menghadirkan kembali rasa kala saya masih kanak-kanak, sebagai muridnya yang kerap kali membuat keributan. Mengenang sosoknya membuat saya mengalunkan kembali melodi doa sesudah membaca Al Qur’an yang biasa dibimbingnya.
Hingga saya mendapatkan berita berpulangnya beliau ke Rahmatullah.
Tak saya sangka akan ada haru yang demikian menghujam saat saya mengirimkan doa untuk beliau. Tak terasa air mata ini menetes. Beliau ternyata sangat istimewa dalam hidup saya, ah..sepertinya tidak hanya bagi saya, beliau memang istimewa.
Inikah tanda-tandanya? Bahwa ikatan hati-hati ini menggapai ridho-NYA? Bahwa sebuah Ikatan hati-hati ini adalah ikatan yang menjembatani dua alam kami yang kini telah berbeda? Aliran amal sholehnya yang kini mengalir dari bumi ke langit?
Ikatan itu telah beliau tambatkan….dengan ilmu yang diberikannya dengan tulus dan ikhlas. Ikatan hati-hati yang berlandaskan akan cinta pada-NYA. Semoga diterima sebaik-baiknya di sisi-NYA dan melapangkan, menyejukan serta menyinari beliau di alam kubur. Amin.
In memoriam ustadzah R (Jakarta 21 Maret 2007)
Uncategorized | Comments (16)Berlian

"A diamond is forever" Begitu kata banyak orang, menirukan slogan yang dikumandangkan oleh De Beers sejak tahun 1948.
Katanya sih..berlian adalah lambang cinta abadi.
Benarkah?
Terus terang, sebagai orang "ndeso" yang tidak mengerti banyak tentang perhiasan, saya pun kurang memahami hubungan antara keabadian cinta dengan berlian.
Membedakan berlian asli dengan manik-manik berlian bohongan dari plastik saja saya tidak bisa. Orang mau dandan pakai perhiasan berjuntai-juntai di depan saya jadi agak percuma..soalnya saya nggak ngerti. Salah saya kok
..I don’t know how to appreciate it properly gitu….
I "blame" my mother for she never taught me about jewellery. In my life, I rarely seen her wearing any. Even when my grandma gave me "real jewellery" as a gift, Mommy always either get it refused or get it saved in safety box.
Hmm…I think that’s the beginning of my "allergy" to Jewellery and anything attached on it. (read: Diamond)
If it sounds like I’m complaining, don’t get me wrong, I’m not. Love you mom!
Dulu, waktu masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah, saya pernah belajar bahwa berlian itu adalah mineral alamiah yang paling keras dan mahal.
Nah berkaitan dengan berlian, kemarin sore saya sempat bertanya tentang berlian ini pada suami:
L: "Kamu pasti menggunakan Diamond di Lab kan yah sayang? buat apa sih?"
A:"Untuk menekan material…to apply high pressure on materials….bla bla bla..(kuliah fisika sejenak)."
L:"Ada yang lebih keras dari Diamond nggak, bi?"
A:"Ada…ADNRs namanya kepanjangan dari Aggregated Diamond Nanorods…adiknya Diamond, tapi buatan manusia. Ditemukannya di Jerman lho…emang kenapa sih?"
L:"nggak..cuma nanya aja…ngomong2..cincin nikahan kita kan ada Diamond kecilnya tuh.. Diamond beneran atau boongan ya?"
A:"Eh..maksudnya?"
L:"Maksudnya..mudah mudahan..bukan dari conflict area kayak di film Blood Diamond yah bi?"
A: " Aduh ummi..ada ada saja..nanti ummi nggak bisa bobok lagi loh karena kebanyakan mikirin yang aneh-aneh" *menarik nafas panjang, lalu pandangannya pun kembali ke lap top*
L: "Iya yah bener juga…"
*Buru2 istighfar… takut malemnya mimpi buruk atau mimpi detail jadi penyelundup diamond…sampe harus nyamar jadi peneliti dari National Geographic ngelewatin perbatasan Liberia..sambil ngumpetin diamond dibalik kulit kambing yg lagi digembalain…hiiiii..tidaakkk!!"
zz.zz..zz….
PS: Gambar Diamond saya pinjam dari sini.
——————–
I have no spescial interest or desire for diamond. Being so ignorant and know "nothing" about diamond is not an extraordinary thing to bragg about.
For once I was curious and closer to diamond, not when I needed to pick a wedding ring up, but when I was learning about the peacekeeping mission in Central Afrika. The most irritating fact about all of this is that millions people kill and killed for this bunch of Diamond…
If its not because of my mom asking me to got back home after my thesis done, I almost voluntarily sent
my self to Central Afrika to do an internship job under the UN flag at
this conflict diamond place. (Seven years ago…working at the United Nation Headquarter was one of my dream jobs and this internship was one of the way to get the chance)

Watching "Blood Diamond" is like having a visualisation of what I’ve read about civil war caused by diamond in Sierra Leon.
Thus…although many ‘ve said a diamond is forever, but for me, it’s definetely not the symbol of eternal love.
Well,
if I have the choice…
I’d rather have an ADNRs sample than a bloody diamond, Cause Diamond is not forever.
To Migo: Thanks for lending me the DVD! Bagus kok..biarpun bukan film gue banget deh..berdarah-darah gitu. Tapi membawa ‘kenangan’ ke buku buku pelajaran War and Peace gue! hehehehe…
Uncategorized | Comments (22)Berburu kuncup bunga Cherry
Dengan kamera sederhana di tangan sembari berjalan kaki pulang, saya pun berburu foto kuncup bunga Cherry yang mulai bermekaran. Tekad sudah bulat..mumpung cuaca masih bagus, saya berharap dapat memotret warna merah muda bunga cherry dengan latar langit biru.
Errgh..ternyata agak susah juga mengambil foto yang "pas", karena kebanyakan buka-bunga yang sudah mulai mekar agak terlalu tinggi untuk di potret. Maklum saya bukan raksasa..hehehe..
Tapi selalu ada jalan…mulai berjinjit, lompat2, hingga naik ke bangku taman pun saya lakoni (untung saya nggak sampai lupa diri dan memanjat pohon yah?). Saking asiknya berusaha..saya sampai nggak sadar loh diperhatikan polisi yang lewat dan… sayapun ditegurnya..
Untung pak polisi menegur bukan karena saya melanggar hukum..tapi karena pak polisinya kasihan dan mau bantuin..dikira saya motret-motret bunga untuk project sekolah…(halahhh..)
Hasilnya? Jauh dari hasil foto profi. Tapi hari ini hati senang dan riang..berhasil membawa pulang foto bunga dan langit.
Kombinasi warna biru muda dan merah muda. Hmm..lumayan kan yah?.
Cuaca Minggu depan:
Walah…
Menurut ramalan cuaca, minggu depan akan sering hujan dan bahkan turun salju.
Semoga kuncup-kucup bunga yang ada kini, tidak berguguran. Sungguh, saya ingin sekali melihat lautan bunga musim semi di pinggiran sungai Elbe.
Cerah euy..
Hari ini cerah sekali!!
Mentari yang biasanya pelit berbagi sinarnya dengan penduduk Hamburg, hari ini begitu dermawan.
Sepulang sekolah tadi saya termasuk salah satu dari sekian banyak orang
yang duduk-duduk di pinggiran danau Alster dan menjemur diri sambil minum
es.
Menikmati sepoi lembut sang bayu dan merasakan hangat sinar mentari menyentuh kulit di bawah langit biru.
Cihuy! Nampaknya saya sudah bisa bersiap menyambut musim semi.
*Mood: Happy*
Thermometer at the sunny Alster terrace : 20 C
Thermometer under the shadow: 15 C
Bunga Teh? Atau Teh Bunga?
Selasa lalu, dari Makiko, saya memperoleh bingkisan mungil berisi bulatan2 mirip bunga kering. Mirip isi ulang pot pouri.
Karena ragu2 apakah itu hiasan atau makanan, saya pun dengan malu-malu terpaksa bertanya..(malu-malu karena tadi sudah terlanjur dengan wajah gembira dan sok tahu berterima kasih serta memuji: "Awwhh..sehr schooon! Vielen2 Dank")
"engg Makiko,..anu..maaf..tapi sebenarnya ini apa yah?"
Dengan senyum terkulum Makikopun menjawab: "ooh itu teh…itu loh yang kamu bilang ingin kamu lihat paling tidak sekali dalam seumur hidup tuhhh"
Haaa? *karena masih lemot saya pun terdiam sambil menatap bulatan2 kecil di tangan*
lalu teman saya yg lain melanjutkan.."Itu loh..teh melati yang ada di Film Marie Antoinette"
"Oooohhh yang itu!!! Asiiiikkk senangnyaaa!!" seru saya..lalu dengan suka cita saya pun kembali menunjukan kegembiraan.
————-
Di rumah saya mencoba menyeduh teh istimewa tadi dengan penuh semangat. Saya sediakan teko transparan demi ingin melihat proses mekarnya sang teh tadi. Ternyata ketika diseduh air panas..teh tersebut memang mekar! seperti bunga! (…emh..paling tidak miriplah dengan bunga) <– Sayangnya karena sempat saya cocol cocol dengan garpu, maka di foto ini, malah jadi mirip monster laut, atau ..mungkin bunga Wijaya Kusuma.
hihihi..tapi tetap saja..menurut saya bentuknya lucu. dan rasanyapun enak..aroma melati. Jasmine Tea.
Jadi ini teh bunga berbentuk bunga. (Bunga teh atau teh bunga?)
Hmm..interesting.
Entah saya yang kurang pergaulan atau memang tidak ada di Jakarta, tapi selama ini saya belum pernah lihat teh yang disusun sedemikian rupa hingga bisa mekar seperti ini.
Apakah ada teman2 yang tahu tentang bentuk teh seperti ini di Indonesia?
————-
Siang tadi, Makiko mengantarkan beberapa teman sekelas yang penasaran dengan teh termasuk saya ke toko teh tempat dia membeli teh bunga tersebut.
Tokonya tidak terlalu besar, tapi koleksi tehnya cukup lengkap dan unik. Letaknya tak jauh dari Hauptbahnhof.
Nama Tokonya : "Die Teekiste"
Nah, ada yang tertarik untuk mampir ke sana?
Uncategorized | Comments (18)Kejutan!!!
Dienstag, 06. März 2007: Ich war bei Irmela.. mit der ganzen C 1 Klasse.
Das war ja eine Überaschung!
Ich danke euch Alle für die Aufmerksamkeit und Liebe..
wir sind wie eine….
Familie.
Selasa lalu bu Guru mengundang kami sekelas minum teh di rumahnya. Tentu saja kami bersemangat, karena ini adalah kali pertama kami mendapat undangan ke rumah bu guru mengunjungi rumahnya. Sehr personlich.
"Kejutannnnn!!!" seru mereka ketika saya masuk rumah bu guru.
Lho? *nggak mudeng*
Apanya yang kejutan? Kan kami berangkat sama-sama? Apa saya ketinggalan sesuatu?
Jawabannya adalah ketika pintu Wohn Zimmer dibuka..
tadaaaaaaa….
Ternyata tak hanya jamuan minum teh.
Rupanya makan siang dengan dekorasi bunga-bunga awal musim semi sudah di siapkan teman2 sekelas untuk hari lahir saya. (oohh..pantas mereka sampai menelpon beberapa kali dan khawatir berat ketika sejak rabu sampai akhir minggu lalu saya tidak masuk kursus karena sakit…soalnya, kalau bolosnya berlanjut hingga tgl 6 maret kan kejutannya batal ya?)
Di atas meja yang terhias cantik, terhidang sup lezat, makan siang lengkap, dan tiga macam kue tart dan cake (semua kue2 home made) buatan bu guru dan teman sekelas.
Rasanya? super lezat!
Apalagi saya tidak harus memasak dan menyiapkannya sendiri.
Wah..dimanjakan nih?
Alasannya?
"Supaya bisa mengurangi rindu "Geburtstag kind / The Birthday Girl" pada keluarga dan suaminya yang sedang berada jauh di benua lain", kata mereka.
*speechless.. *
Tak dinyana.
Bisa-bisanya mereka membuat saya jadi merasa istimewa hari itu.
Ah…kelas ini bukan sembarang kelas..kelas ini mirip "keluarga" baru.
———-
Keriaan itu..
Hampir membuat saya agak lupa, kalau saya habis menangis semalaman.
Merenungi 29 tahun perjalanan saya memakai jatah umur..
Jatah rahasia yang merupakan kejutan dari Sang Pencipta
yang saya tahu pasti hanya kesempatan semakin berkurang…dan semakin berkurang…
Dan tentu saja saya harus bertindak lebih selain dari sekedar menangisi berlalunya sang waktu.
Detail
Detail merupakan sesuatu yang biasanya sangat saya hargai karena untuk sebentuk detail, perlu waktu, pikiran dan tenaga ekstra.
Maksud saya dalam hal ini, adalah pembentukan detail apapun.
Saya biasanya terkagum-kagum pada detail karya seni yang (menurut saya) membuat karya lebih bermakna dan berbeda.
Atau acungan jempol saya berikan untuk perumus sebuah kontrak original berlembar-lembar yang mengatur detail prestasi dan kontra prestasi yang harus dipenuhi oleh para pihak, karena membutuhkan waktu, pikiran dan tenaga ekstra.
Tapi kali ini bukan ingin posting detail mengenai suatu mahakarya seni atau detail kontrak kelas kakap, kok..melainkan:
Detail dalam mimpi
Pada dasarnya dalam keadaan sadar, saya suka detail (walaupun saya termasuk orang yang terlalu ceroboh alias kurang teliti untuk menghasilkan karya yang mendetail). Bagi saya detail itu adalah romantika sesuatu hal.
Namun ternyata saya tidak suka mimpi yang mendetail.
Saya bermimpi sangat detail tadi malam.
Detail yang melelahkan sehingga membuat saya terbagun dini hari dan nafas sesak dan perut sakit.
Padahal bukan mimpi buruk melainkan mimpi sangat detail baik lokasi, benda dan nama serta kalimat -kalimatnya pun detail.
————
Salah satu detail yang saya bisa gambarkan adalah adegan saya dan sebuah bola tennis yang saya pegang dan siap pukul untuk sebuah serve. Entah mengapa bola itu sudah berlumut, berjamur dan saya pun protes pada wasit karena akan merusak raket Wilson baru yang ada dalam genggaman tangan kanan saya. Lucunya detail bentuk dan tekstur bola Dunlop yang sudah dikuasai tumbuhan perintis itu jelas bak kenyataan di tangan kiri saya. ihh…mimpi apa ini..
Mengapa ya scene ini ada dalam mimpi saya? Apakah karena saya memendam jauh2 rindu saya bermain tennis lagi…Apakah karena minggu lalu ada murid kelas sebelah (I assume he’s a tennis player) yang datang ke tempat kursus dengan membawa raket tennis? atau..saya khawatir jika saya kembali mendapat kesempatan bermain tennis maka serve saya sudah ‘berlumut’? yaiks..what a nasty and pathetic imagination.
Detail lain dalam mimpi itu adalah Bahasa…
Entah karena saya merasa bersalah karena sudah 3 hari bolos kursus atau bukan, yang jelas di dalam mimpi itu berbagai bahasa pun muncul lengkap dengan tokoh2 yang saya kenal selama di BNL, Kornoeljestraat, dan Hamburg. Jelas. Jelas sekali…hingga saya lelah..(ada gramatiknya segala gitu loh! ampuuunn) Memalukan memang namun jujurnya, saya menangis karena panik. Mungkin karena detailnya campur aduk. Terlebih lagi karena narasi dalam mimpi itu…justru dalam bahasa betawi. (hahh?! sedemikian rindukah saya pada kota Jakarta??)
Detail lainnya: judul buku..setelah main tennis, saya ke toko buku dan semua judul buku yang saya baca saya diskusikan bersama teman2 di toko itu, masih jelas terbaca ketika saya terjaga dari tidur. Bahkan sempat saya eja satu persatu ketika saya duduk dipinggir tempat tidur. Yang pasti Diplomatic Baggage yang batal saya pindah tangankan kepada Migo kamis lalu, masuk dalam daftar buku di mimpi tadi malam….
————-
Huh!.Detail mimpi dalam mimpi yang mendetail.
Saya rasa setiap orang pernah mengalaminya.
dan..bagaimana?
Melelahkan bukan?
Entahlah..paling tidak bagi saya mimpi yang medetail itu sangat melelahkan. Jauh lebih melelahkan daripada mimpi biasa karena otak jadi
bekerja keras memproduksi detail dalam bunga tidur tersebut. Semakin
detail, semakin banyak energi ekstra yang dibutuhkan.
Lagipula biasanya bagi saya mimpi bukanlah hal yang penting dan menarik perhatian. Maklumlah saya bukan Sigmund Freud atau dream theorist lainnya yang bagi mereka justru detail mimpi merupakan hal yang menarik.
*menarik nafas dalam-dalam*
Duh Gusti ALLAH..sebegitu banyakkah saya memendam detail dalam otak saya sehingga harus muncul dalam mimpi dan mengganggu tidur saya?
*istighfar*
Rasanya, mulai malam ini doa sebelum tidur harus lebih khusyu’ dipanjatkan.
Uncategorized | Comments (18)