Extending Visa
Today our visas were extended. It was my second time visiting an authority called "Auslander Behörde". Bezirksamt Eimsbüttel is the place where "our Auslander Behörde" located. Yup, it is simply because we are living in an area so called Eimsbüttel.
Thanks to Ben, whose help is particularly needed to create such a "communicative and conducive"-condition to approach the officer there. (Vielen vielen Dank, Ben!!) Otherwise it wouldn’t be as fast and easy as today, since the officer there couldn’t speak English. (Isn’t that funny? The officer of an authority which its main purpose dealing with foreigner, only speak German there. hmm?! Is that a kind of integration test for the foreigner or what? *grin* )
Well,..However, I have nothing to complain about. Everything was quite fast and the officer there were quite friendly as well.
Finally, before we leave the building, we took the advise of the officer to go up to the cafeteria at 12th floor and take a look the view of the area….and tarrraa…here it is; the picture of the neighborhood. Eimsbüttel.
Uncategorized | Comments (14)Prenuptial Agreement
Prenuptial Agreement. Is that term familiar to you? *smiling*
I guess so. Most of us have heard this "Prenuptial Agreement" or "Prenupt" somewhere in the movie, talkshow, TV or radio. Some of you might have read this term in newspapers, magzs, blogs,or perhaps your own "prenupt".
For many, "prenupt" sounds so…not romantic.
It’s like breaking the romance of an engaged couple when one of them come up with this prenupt idea.
Für mich es ist ja einbisschen anders.
I’ve heard this "prenup" term quite often. From my parents and particularly from my environment. I have nothing to do against prenupt. With my humble understanding as a muslim, I never think of any giant troubles would occur in Islamic private law dealing with this infamous "Prenupt". Moreover, personally, I even think prenupt can be a sweet-additional-touch to have the romance completed. *grin*
Hmm..What do you think?
****
Berhubung blog ini juga sering disambangi oleh teman-teman saya di kelas, maka selanjutnya saya lebih nyaman mengunakan bahasa Indonesia. Lho? mengapa?
Soalnya ide nulis posting ini tiba-tiba muncul lagi beberapa hari yang lalu saat teman-teman sekelas ngopi bersama saat sedang pause.
<– keterangan foto: saat kami pause dan waktunya curhat.
Salah seorang teman yang ada di foto di atas, curhat dengan berapi-api dan sewot berat karena tunangannya mengajukan ide untuk membuat Prenuptial agreement alias perjanjian kawin, sebelum mereka menikah musim panas tahun ini.
"Ini sama sekali merusak mood saya! memangnya perkawinan sebuah perusahaan apa?!" kata teman saya itu.
"Ide ini ama sekali tidak romantis…saya sangat sedih dan kecewa..mungkin ini pertanda bahwa cintanya tidak tulus" tambahnya.
Saya pun hanya bisa tertegun. Maklum, masalah sensitif sih makanya saya memilih sibuk menyeruput kopi saya sebelum dingin dan bertindak sebagai pendengar passiv (iyalah, passiv, soalnya mau mengutarakan pendapat yg menyangkut hukum dalam bahasa Jerman masih merupakan hal yang mustahil bagi saya, mengingat penyakit saya adalah selalu membangun kalimat-kalimat panjang tanpa kontrol sehingga nampak seolah olah saya lupa memberi tanda baca titik. Parahnya, kalimat2 panjang ini sudah muncul dalam tahap ide. Jadi saya sudah stress sendiri sebelum mengungkapkannya. Apalagi dalam bahasa Jerman pula, yang kadang-kadang kata kerjanya diletakkan di bagian paling belakang kalimat, bila saya menggunakan kata sambung tertentu….ihhhh jadi gemes banget kan!! makanya posting di blog deh! supaya bisa panjang bla bla bla tanpa peduli tanda baca.)
Kembali ke teman saya dan perjanjian kawin tadi.
Menurut saya ide si calon suami teman saya itu sangat romantis dan sangat melindungi teman saya itu sebagai calon istrinya. Hanya saja yang harus dipikirkan adalah pilihan hukum pelaksanaan perkawinan dan pembuatan perjanjian perkawinan itu, mengingat mereka berasal dari negara yang berbeda.
Saya jadi ingat obrolan dengan sobat baik saya di Indonesia mengenai pandangan orang-orang Indonesia secara umum tentang Perjanjian Kawin (kebetulan memang profesi beliau di bidang hukum, jadi pas bgt). *boss muncul dong boss..I know you are reading this!*
Cukup mengejutkan bahwa ternyata cukup banyak yang merespon perjanjian kawin ini secara negatif. Semacam "tabu" atau bahkan ekstremnya ada yang menganggap "haram" perjanjian kawin ini.
Ada seorang calon suami yang merasa "pahlawan" karena tidak mengajukan
perjanjian kawin menjelang pernikahannya dengan calon istrinya yang
tidak berharta.
Ada juga seorang calon suami yang berkata pada calon istrinya: "ah penghasilan kamu kan lebih kecil dari saya, jadi buat apa bikin perjanjian kawin? bukannya kamu membutuhkan uang dari saya?"
*senyum*
Pernyataan yang naive bukan?
atau, seorang calon istri yang sedih karena calon suaminya mengajukan perjanjian kawin. (padahal itu adalah itikad baik karena si calon suami ternyata adalah pengusaha dengan hutang banyak).
Well, masalah perjanjian kawin ini memang kasuistis kok.
Apapun keputusan kita sehubungan dengan perjanjian kawin, sebaiknya berlandaskan kesadaran. Menyadari baik buruknya dan segala resiko yang dihadapi. Sadar memilih keputusan, begitulah maksud saya.
Hmm..Saya rasa hal ini bukan hal yang asing dan banyak dibahas di media, pun bukan bahasan eksklusive orang-orang yang berkecimpung di bidang hukum.
Nah..menurut pendapat anda bagaimana?
*sambil menyeruput teh saya yang mulai dingin*
****
Waduhh…akhir minggu gini kok malah posting tentang prenupt yah?
*nyengir*
Tak apalah..anggap saja sebagai wacana ringan buat diskusi sambil makan siang. Siapa tahu bisa jadi pertimbangan buat pembaca yang akan menikah dalam waktu dekat ini?
Salju Hari Ini
Salju hari ini..
yang terhampar di balik tirai jingga kaca jendela..
Sejenak menghenyakkan ingatan saya jauh ke New York ketika salju juga sedang menyelimuti Central Park menjelang musim semi tahun 2005 lalu.
Saat itu perpaduan ganjil warna hangat jingga dengan warna dingin si putih salju membuat hati turut mengigil bersama bebatuan taman
Painfully breathtaking
Sire, How should I forget?
Pictures and feelings taken aback from
The Gates Central Park, New York City
New York, spring 2005
L
Potret Keluarga- intermezzo-
Hehehe..postingan kali ini lebih ke arah curhat kangen2an keluarga..mohon maaf kalo agak norak..soalnya postingan ini dedicated to my family in Cipaku (mereka ini para pembaca setia blog ini tapi nggak pernah ngasih komen…knapa sih??!)
Gara-garanya pagi ini account email saya mendadak jadi "gendut" karena dapat kiriman foto2 dari tante Wilhelmina yang baru2 ini mengunjungi keluarga di Jakarta bersama Bob, tante Ria dan oom Hans.
Beberapa Foto tersebut adalah foto waktu makan malam bareng keluarga saya di Jakarta. 
<– Salah satunya Foto Kel Cipaku adalah foto ini.
Om Hans dan tante Ria serta tante Wil tersenyum cerah bersama Keluara pak Made hehe…..sedangkan Bob? lho mana Bob? oh..pasti Bob yang motret yah? Thanks Bob..
Ah kangen jadinya..lihat foto sekeluarga cipaku komplit begitu (minus kami berdua yg di Hamburg, tentunya). Apalagi melihat wajah keponakan saya, Rafi, yang sedang digendong adik saya Puspa. ihhh lucunya…
Ayahnya Rafi yang biasanya sibuk saja, hadir di foto ini. Puspa tambah manis dan udah langsing lagi stlh melahirkan Rafi euy. Adik saya, Oki yang tentunya malam itu nggak sedang mengerjakan skripsinya, ditemani Indra, juga ikut di dalam foto ini. Dan..waah..
Ismail, adik bungsu saya sudah tambah gede dan mulai ganteng ..cieee ..iya doong sudah SMP sih ..( uhuy suit suit..Ismail!!)
<– Ismail udah gede
Ibu dan Bapak Cipaku juga nampak sehat, Alhamdulillah, (nggak kelihatan kalau Ibu dulu pernah lumpuh karena stroke dan Bapak pernah gagal ginjal). *ihiks jadi terharu*
Tambah terharu lagi kalau nelpon ke Indo dan saya lupa menghitung perbedaan waktu, maka suara bapak yg masih menggelegar dengan galaknya menjawab:
"Ya ampun Leis! ngapain nelpon jam segini! Haa apppa??! cuma buat gossip lagi!.. ini jam satu malam di Indonesia?!"
xixixixi kalau jauh gini malah kangen sama galaknya bapak…
<– Foto Papa Mama Padang, Anna (adik uda Andri yg bungsu) dan Ing
(adik uda Andri yg no 2)
Gara2 kangen keluarga hari ini, saya jadi nelpon2 orang tua dan mertua saya di Indo.
Dan..ups……ternyata mereka semua (lagi lagi) sudah sedang bersiap-siap bobo..selamat bobo Ibu-Mama-Papa-Bapak-adik-adik! *senyum puas sudah nelponin semuanya*
Ps:
1. Terima kasih ya tante Wil atas kiriman foto2nya dgn kel Cipaku. Obat kangen sama Keluarga Cipaku.
Hartelijk Dank!
2. Ing..Foto Anna wisuda uni ambil juga yah..obat kangen sama Mama Papa dan Anna..ama Ing juga
31
31 tahun sudah menghirup udara dunia..semoga ALLAH SWT senantiasa melindungi dan memberi hidayah dengan cinta-NYA yang tak tertandingi. Aamin.
Tak bermaksud merayakan dengan ucapan, namun sebagai penanda sederhana dan rasa syukurku bahwa 31 tahun yang lalu mama* melahirkan separuh jiwaku.
Happy Birthday my better half.
Selamat hari ulang tahun, suamiku sayang.
Terima kasih Mama*..
*Mama= ibu-mertua-ku
Uncategorized | Comments (26)Badai Kyrill
Aufnahme aus dem All: Das Satellitenbild zeigt, dass der Sturm immer
näher kommt. Eingeblendet ist mit "T" der Kern des Orkantiefs.
Menurut ramalan cuaca, malam ini akan terjadi badai yang cukup serius di Jerman dan dianjurkan untuk tetap tinggal di rumah. Namanya badai Kyrill. Alhamdulillah saya sudah di rumah sejak jam setengah empat sore tadi. Walaupun dengan basah kuyup kehujanan dan hampir diterbangkan angin.
Hmm..*melirik jam*
Saat ini pukul setengah delapan malam ..anginnya sudah berisik dan air hujanpun dengan ributnya menandai kunjungannya di permukaan luar kaca jendela wohnung mungil kami*
hiiiii…kaca jendela mulai diketuk-ketuk secara tidak bersahabat oleh ranting-ranting kecil yang terlepas dari pepohonan dan kemudian terhempas. Bahkan ada ranting yang terlempar tepat di saat saya sedang menempelkan dahi dan hidung saya sampai rata di kaca jendela. Untung saya di sisi dalam dan ranting itu di sisi luar..
"tuk tuk tuk.. bletak..tuk..tuk..tak!" Kira-kira begitulah bunyi ketukan ranting-ranting itu.
Semoga cukup ranting-ranting kecil saja yang terbang.
Badai-badai gini..Hausaufgaben menumpuk..
uhh… padahal lebih enaknya bersembunyi di balik selimut dan menutup telinga dengan bantal, daripada mengerjakan Hausaufgaben.
Apalagi
jika mengerjakannya di meja tulis dekat jendela besar yang sedang diketuk-ketuk ranting terbang dan air hujan itu.
Uncategorized | Comments (25)“Secara”
Belakangan ini, ketika jalan-jalan ke beberapa blog milik teman2, saya sangat sering menemukan penggunaan kata "Secara" secara tidak biasanya sebagaimana yang saya kenal selama ini.
Berikut di bawah ini saya adalah beberapa contoh penggunaan kata "secara" (yang membuat pinggang saya seolah tergelitik setiap kali membacanya, dahi saya berkerut ingin tahu, bertanya-tanya, hingga akhirnya memutuskan untuk membuat posting ini dan bertanya lagi di blog ini).
Contoh:
1. " Secara saya tidak suka minum minuman beralkohol, saya tidak memesan Glühwein di pasar natal tetapi saya memesan Kinderpfunch."
2. " Kami pasti bertemu dengan tuan X dalam acara konser nanti malam, secara anak tuan X menjadi pemain violin utamanya."
3. "Wah..jangan khawatir Gatokaca, kamu pasti menang tanding secara kamu punya otot baja dan tulang besi bisa terbang pula!"
4. " Anak saya menangis sambil bersembunyi di belakang saya, secara dia takut melihat ondel-ondel yang menari dan mendekatinya"
Dari empat contoh kalimat di atas, saya berasumsi kemungkinan besar penggunaan kata "Secara" di sini adalah sebagai pengganti kata: "karena", "mengingat", "berhubung", "sehubungan dengan"..
Sekedar asumsi, lho.
Maklum, saya bukan ahli bahasa Indonesia.
Pertama kali saya membaca penggunaan "secara" jenis ini dari sebuah blog milik teman, saya pikir teman saya itu salah ketik. Kedua kali saya membaca di blog teman yang lain, saya pikir itu pengaruh dari bahasa daerah teman saya sehingga mungkin pengertian kata secara menurut teman saya itu agak "twisted" sedikit. Hmm…tapi lama kelamaan..di hampir semua blog teman-teman saya, penggunaan "secara" jenis ini hadir menjamur.
Lho??! Apakah ini trend baru??! Bahasa ‘gaul’ kah? Atau bahkan ada aturan pemakaian bahasa yang baru? Saya jadi tertegun, terkejut-kejut dan diam-diam dalam hati sedikit memberontak jika ini aturan bahasa yang baru karena, kok ya setelah di coba-coba diucapkan sampai sekarang tidak terasa pas di lidah yah?
Apakah ini salah satu bentuk alih bahasa kata "for" dalam kalimat bahasa Inggris seperti di bawah ini (?)
And he broke into a charming peal of laughter, which I found greatly irritating. For I like my misfortunes to be taken seriously.
" She went off rushly, for she did not want him to see her tears"
hmm…
Tapi
Saya masih bingung juga (emang dasarnya saya emang lemot yah? hihihi) darimanakah datangnya penggunaan kata "secara" seperti ini? Sejak kapan sih? Apakah ada titik tolak tertentu yang menyebabkan penggunaan kata sebagaimana di atas menjadi trend?
atau
saya ketinggalan berita lagi? (walah Lessy..pliss deh!)
Kalau demikian adanya, saya akan senang sekali jika ada yang bersedia mengabari..ehem...secara saya memang sering ketinggalan berita.
*senyum lebar*
ps: gambar ’smiley sedang bingung’ saya pinjam dari sini.
Uncategorized | Comments (30)Die Erfindung Der Romantik
Sudah sejak hari pertama ketika iklan pameran lukisan Caspar David Friedrich di Hamburger Kunsthalle dipasang, saya langsung tertarik ingin melihatnya. Ketertarikan saya berasal bukan karena saya pengamat lukisan ataupun penggila museum… namun, sebagai orang yang sering dituduh punya penyakit romantis kronis, saya tergoda untuk mengetahui apa yang tersirat dari judul pameran Friedrich ini:"Die Erfindung Der Romantik" = "Inventing Romanticism".
"View of Arkona at Moonrise", sepia drawing, C.D. Friedrich
Selain hubungannya dengan ‘keromantisannya’ itu..lukisan Friedrich bukan jenis lukisan yang membuat saya harus memicingkan mata dan memaksa alat penglihatan saya bekerja keras mengirimkan sinyal-sinyal demi membuat otak saya menikmati apa yang secara gamblang terpampang dari sebuah lukisan. Bahkan, tanpa memiliki kemampuan menganalisa lukisan..dengan mudah saya terhanyut bagai menonton panorama ……film.
![]() |
||||||||||||||
![]() 15 from 25 ![]() |
||||||||||||||
|
||||||||||||||
Menariknya lagi…entah mengapa..melihat banyak lukisan Friedrich, saya merasakan gelora yang serupa seperti saat saya, dalam sebuah kanvas khayalan yang dipigura oleh pertanyaan saya. Di sana saya mencoba melukiskan ketidak-berdayaan dalam menggambarkan "kematian" secara ‘optimis’. Optimis sebagaimana Friedrich melukis sekupil langit biru berkilau ditengah lautan langit kelabu.
![]() |
|||||||||||||
![]() 11 from 25 ![]() |
|||||||||||||
|
|||||||||||||
Friedrich tidak menjawab pertanyaan saya, karena dia juga sepertinya bertanya..menerka..berkhayal dengan keyakinannya..bedanya dengan saya, dia lalu bisa menuangkan kecamuk pertanyaan dan terkaannyaitu dalam kanvas secara indah, genius dan..penuh makna makna lain yang dimengerti oleh dia sendiri. Romantis. Romanticsm.*grin…excuse my all-above imagination please?…would you?*
Hhmm?..at least that was my own intake and invention from "inventing Romanticsm".
Mohon maaf jika ada penggemar lukisan yang mampir kemari…maklum, saya sama sekali bukan ahli lukisan. Posting ini sekedar berbagi apa yang saya rasakan tentang pameran lukisan Caspar David Friedrich yang…"romantis".
Untuk lebih banyak lukisan Friedrich, silahkan klik: A Painting Selection of Caspar David Friedrich.
PS: Thanks to Sisil. Bener lho Sil, tanpa kunjunganmu ke Hamburg eksekusi rencanaku ke beberapa Museum itu akan selalu tertunda.
Uncategorized | Comments (32)Friendship-problem from Druzhba
A tap and meter shows zero level pressure on the Druzhba oil pipeline.
" Druzhba" bedeutet "Freundschaft auf Russich" ("Druzhba" means "friendship" )
explained one of my Russian friends, Elena, to the whole class yesterday when we were talking about a dispute between Moscow and Minsk. A gas and oil dispute, which is now spilling over into the rest of Europe.
Na ja, I think the name itself is a compatible hint to see that this "Druzhba" is one of the "strongest" friendship line that keeping the relationship between Germany and Russia strong, which well-maintained since Putin’s very good friend, Schroeder, was German’s Chanchellor.
But Putin’s relationship with Markel seemingly won’t be as good as his relationship with Schroeder.
"That hurts trust and it makes it difficult to build a cooperative relationship based on trust," Merkel told a news conference. ouch!! :((
Germany is condemned Moscow’s decision to turn off the tap as “unacceptable”. The Druzhba pipeline is an enormously important part of Germany’s
energy supply. Of the total of 112 million tons of oil that are
consumed in Germany each year, 20 percent travel through the pipeline. This is a significant procentage, although according to IEA: should disruption from the Druzhba pipeline prove more prolonged, each of the refineries could source crude supplies from alternative routes and some of them are already organizing alternative supplies, be it through ports at the Baltic Sea or through pipelines coming from other sources.
German Chancellor Angela Merkel has indicated that
Germany may rethink its plan to phase out nuclear power generation.
Nuclear?!! Honestly I am not a nuclear freak or freaked by this word. hmm..however personally, this phenomenon is interesting. *sigh* I don’t know what the green party would probably say about this..
*yawning*
uhmm..I guess this energy crisis should spank the scientists in Germany to think harder and faster to conclude their superconductor experiments to produce their masterpiece.. (xixixi..no offense, my dear!:P)
ah Leute..jeztz, mussen wir mehr Energie sparen.
Uncategorized | Comments (19)“Der Kleine Prinz” (saya ketinggalan cerita)
Jum’at lalu di tempat kursus saya mendapat tugas membaca sedikit bagian yang diambil dari novel berjudul "der Kleinen Prinz" karangan Antoine de Saint-Exupéry.
Terus terang saya merasa tertinggal..bagaimana tidak, semua teman saya mengenal cerita ini sejak mereka berada di tanah air mereka…sementara saya belum pernah mendengar apalagi membaca cerita ini baik dalam bahasa Indonesia yang setelah saya cari di internet ternyata berjudul "si Pangeran Kecil". (duh..kemana aja Bu?!)
Sayang sekali saya baru membacanya, padahal setelah membaca penggalan dialog dari novel tsb dalam bahasa Jerman, saya pun jatuh cinta dengan cerita ini dan berniat mencari bukunya dalam bahasa Indonesia bila pulang ke tanah air nanti.
Seorang kawan yang "kasihan" melihat kekecewaan saya karena tidak mengenal novel ini tadi pagi membawakan satu buku novel dalam bahasa aslinya Le Petit Prince dan satu buku versi Inggrisnya The Little Prince dan meminjamkannya pada saya.
Wah senang sekali! Sampai di rumah saya langsung buka-buka dan baca.
Baru saya buka sampai halaman pembuka saya sudah terkesan dan langsung ingin berbagi dengan menuliskannya di blog. (hehehe…alasan khas blogoesia!)
To Leon Werth
I ask Children who may read this book to forgive me for dedicating it to a grown-up. I have a genuine excuse: This grown-up is the best friend I have in the world. I have another excuse: This grown up understands everything, even books for children. I have a third excuse: this grown-up lives in France, where he is cold and hungry. He needs a lot of consoling. If all these excuses are not enough, I will dedicated the book to the child whom this grown-up used to be, once upon a time. All grown-ups started off as children (though few of them remember) So I hereby correct my dedication:
To Leon Werth, when he was a little boy.
awwh…sehr schön!!!!
Hehehe..norak ya? Kalau teman2 yang pernah membaca cerita ini membaca postingan ini, mohon permaklumannya bahwa saya baru tahu cerita ini. Bagi yang mungkin belum membacanya..mungkin bisa sama-sama dengan saya mulai membacanya. Novel ini sudah di terjemahkan ke 170 bahasa dan dialek…jadi silahkan pilih bahasa mana yang anda suka…
Sementara di bawah ini adalah potongan dialog yang membuat saya jatuh cinta pada cerita ini.. Selamat menikmati!
PS: This Story and the Ilustration below quoted and taken from Der komplette Text mit Illustrationen des Autors , one of the weblinks provided by Wikipedia: Der Kleine Prinz. For complete story with complete ilutration please click here or visit: www.odaha.com


Menschen«, sagte der Fuchs, »die haben Gewehre und schießen. Das ist
sehr lästig. Sie ziehen auch Hühner auf. Das ist ihr einziges
Interesse. Du suchst Hühner?«
sagte der Fuchs. »Du bist für mich noch nichts als ein kleiner Knabe,
der hunderttausend kleinen Knaben völlig gleicht. Ich brauche dich
nicht, und du brauchst mich ebensowenig. Ich bin für dich nur ein
Fuchs, der hunderttausend Füchsen gleicht. Aber wenn du mich zähmst,
werden wir einander brauchen. Du wirst für mich einzig sein in der
Welt. Ich werde für dich einzig sein in der Welt…«
Leben ist eintönig. Ich jage Hühner, die Menschen jagen mich. Alle
Hühner gleichen einander, und alle Menschen gleichen einander. Ich
langweile mich also ein wenig. Aber wenn du mich zähmst, wird mein
Leben wie durchsonnt sein. Ich werde den Klang deines Schrittes kennen,
der sich von allen andern unterscheidet. Die anderen Schritte jagen
mich unter die Erde. Der deine wird mich wie Musik aus dem Bau locken.
Und dann schau! Du siehst da drüben die Weizenfelder? Ich esse kein
Brot. Für mich ist der Weizen zwecklos. Die Weizenfelder erinnern mich
an nichts. Und das ist traurig. Aber du hast weizenblondes Haar. Oh, es
wird wunderbar sein, wenn du mich einmal gezähmt hast! Das Gold der
Weizenfelder wird mich an dich erinnern. Und ich werde das Rauschen des
Windes im Getreide liebgewinnen.«
möchte wohl«, antwortete der kleine Prinz, »aber ich habe nicht viel
Zeit. Ich muß Freunde finden und viele Dinge kennenlernen.«
Menschen haben keine Zeit mehr, irgend etwas kennenzulernen. Sie kaufen
sich alles fertig in den Geschäften. Aber da es keine Kaufläden für
Freunde gibt, haben die Leute keine Freunde mehr. Wenn du einen Freund
willst, so zähme mich!«
mußt sehr geduldig sein«, antwortete der Fuchs. »Du setzt dich zuerst
ein wenig abseits von mir ins Gras. Ich werde dich so verstohlen, so
aus dem Augenwinkel anschauen, und du wirst nichts sagen. Die Sprache
ist die Quelle der Mißverständnisse. Aber jeden Tag wirst du dich ein
bißchen näher setzen können…«
wiedergekommen«, sagte der Fuchs. »Wenn du zum Beispiel um vier Uhr
nachmittags kommst, kann ich um drei Uhr anfangen, glücklich zu sein.
Je mehr die Zeit vergeht, um so glücklicher werde ich mich fühlen. Um
vier Uhr werde ich mich schon aufregen und beunruhigen; ich werde
erfahre, wie teuer das Glück ist. Wenn du aber irgendwann kommst, kann
ich nie wissen, wann mein Herz da sein soll… Es muß feste Bräuche
geben.«
etwas in Vergessenheit Geratenes«, sagte der Fuchs. »Es ist das, was
einen Tag vom andern unterscheidet, eine Stunde von den andern Stunden.
Es gibt zum Beispiel einen Brauch bei meinen Jägern. Sie tanzen am
Donnerstag mit dem Mädchen des Dorfes. Daher ist der Donnerstag der
wunderbare Tag. Ich gehe bis zum Weinberg spazieren. Wenn die Jäger
irgendwann einmal zum Tanze gingen, wären die Tage alle gleich und ich
hätte niemals Ferien.«

gleicht meiner Rose gar nicht, ihr seid noch nichts«, sagte er zu
ihnen. »Niemand hat sich euch vertraut gemacht und auch ihr habt euch
niemandem vertraut gemacht. Ihr seid, wie mein Fuchs war. Der war
nichts als ein Fuchs wie hunderttausend andere. Aber ich habe ihn zu
meinem Freund gemacht, und jetzt ist er einzig in der Welt.«
seid schön, aber ihr sein leer«, sagte er noch. »Man kann für euch
nicht sterben. Gewiß, ein Irgendwer, der vorübergeht, könnte glauben,
meine Rose ähnle euch. Aber in sich selbst ist sie wichtiger als ihr
alle, da sie es ist, die ich begossen habe. Da sie es ist, die ich
unter den Glassturz gestellt habe. Da sie es ist, die ich mit dem
Wandschirm geschützt habe. Da sie es ist, deren Raupen ich getötet habe
(außer den zwei oder drei um der Schmetterlinge willen). Da sie es ist,
die ich klagen oder sich rühmen gehört habe oder auch manchmal
schweigen. Da es meine Rose ist.«






