Noni Frucht
"Noni Frucht"
Tanpa sengaja perhatian saya tertuju pada judul iklan yang terpampang menutupi secara penuh dua jendela besar dari lantai ke dua sebuah gedung yang tepat berhadapan dengan kedai kopi "rekanan" sekolah (eh kalau ngaku murid Colon dapat potongan harga yg cukup lumayan untuk ngopi di sini lho..hehehe)
Nah kembali ke poster tadi, Apa itu Noni Frucht?
Karena mata saya rupanya sudah mulai ‘usang’ maka gambar iklan tersebut nampak tidak terlalu jelas dan tidak bisa membantu saya menjawab pertanyaan di atas…(hiks..sepertinya menggunakan kaca mata minus mulai menjadi keharusan niy!) Lalu..setelah mengerjapkan mata beberapa kali nampaklah dengan jelas gambar
"Noni Frucht" yang sepertinya familiar…hijau..bentol bentol….. karena gemas, saya bangkit dari tempat duduk dan keluar dari kedai kopi itu demi menjawab rasa penasaran saya..eh, belum juga saya mendongakkan kepala ke jendela gedung seberang, mata saya sudah bersirobok dengan satu poster yang serupa tepat di sebelah pintu kedai kopi. So? Iklan apa itu?? Aha!..iklan buah mengkudu rupanya.
Whooaaa…ternyata Noni frucht atau Noni Fruit adalah nama ngetopnya buah Mengkudu ya? Baru tahu saya. Ooo..ternyata khasiatnya sudah mulai dikenal di Jerman tokh..
Lalu ketika saya kembali kembali duduk dan menjelaskan mengenai kondangnya khasiat buah Mengkudu di Indonesia kepada Ellizabeth (yang sempat bertanya-tanya ketika saya tiba2 beranjak keluar kedai untuk menengok gambar iklan tadi), Elli pun dengan cepat menanggapi:
"Yeah ..I know! I’ve heard it is good and healthy…Moom gave it to me when I was home in Norway last month but I didn’t dare to try it because I was affraid that it might caused unwanted things that considered as "dopping" in my blood, and…moreover…I didn’t like the smell.. ..yuck.. it smells like ..shit!"
Sempat tertegun saya ketika mendengar penuturannya (terutama kata-kata yang terakhir) sebelum kemudian saya terkekeh tertawa memaklumi. Sekilas jadi teringat masa kecil waktu SD dulu saat di mana aktivitas teman2 dan saya, bermain di halaman sekolah begitu terganggu oleh bau buah Mengkudu yang berjatuhan dari pohon-pohon Mengkudu. Terutama yang sudah matang atau yang sudah membusuk. (hehehe lha iyalah ya..wong udah busuk gitu lho) . ‘Aduhai’lah baunya.. bagitu aduhainya hingga masuk akal jika bau inilah yang menyebabkan Mengkudu menjadi buah kesukaan para Kelelawar Buah.
Namun belakangan ini buah mengkudu kondang dengan khasiatnya yang beragam. Buah yang bernama latin Morinda citrifolia atau yang dikenal juga sebagai buah Pace itu kabarnya dapat menjadi obat berbagai macam penyakit, seperti: Kanker, Kolesterol Tinggi, penyakit Jantung, Diabetes melitus, Gangguan Pencernaan dan menungkatkan daya tahan tubuh. (Mengutip hasil penelitian Prof. Neil Salomon, MD., Phd - John Hopkins Medical Institution USA).
Khasiatnya yang luar biasa banyak dan beraneka ragam pun tak hanya terletak pada buahnya namun juga pada daun, batang dan akarnya…Subhanallah, mengagumkan ya?
Tertarik untuk membaca lebih banyak lagi tentang buah Mengkudu ini? Saya juga. Tapi sayang sekali untuk menuliskannya panjang lebar di dalam blog ini rasanya tidak memungkinkan. Maklum saya tidak bisa blogging dan di depan komputer ini terlalu lama. :((
Namun kiranya link "Manfaat buah Mengkudu" ini bermanfaat dan menarik untuk ditilik jika ada waktu senggang. Atau mungkin diantara teman2 bahkan ada yang sudah mencicipi buah berkhasiat ini? Warum nicht?!
Hati Domba
Saya terlahir tidak pernah suka daging kambing atau Domba. Padahal dulu sudah mencoba berkali-kali untuk berusaha menyukainya…namun..biarpun dipaksa juga…tetap saya tidak bisa menelannya..
Menelan? aduh jangankan menelan..mencium baunya saja saya sudah mabuk rasanya.
Nah berhubungan dengan hal itu….Baruuu saja saya selesai menghapus air mata yang otomatis berlinang. Lho? mengapa?
Di mulai dari tadi….selama lebih dari satu jam mempersiapkan sambal goreng hati, mulai mencuci hati segar dan mengupas kulit selaputnya.
Sebenarnya hari ini saya juga sedang nggak mood membuat makanan yang dari bahan "menggelikan" seperti hati dan jeroan lainnya..samalah perasaannya seperti kalau harus membersihkan babat…(babat…handuk..kebayang dong baunya kalau belum direbus sampai dua kali?) Tapi..demi suami yang sudah lama nggak menyantap sambal goreng hati..saya bela-belainlah mempersiapkan hati tadi.
Setelah semua bahan hati saya potong dadu, mulailah saya menumis bawang merah dan bawang putih supaya bau hatinya tidak terlalu neg. Lalu saya masukan hati tadi ke dalam wajan. Tapi herannya kok ketika mulai hati masak.. baunya semakin kuat. Lalu saya tambah saja dua lembar daun jeruk yang besar2… tapi…baunya kok tetap kuat malah…seperti bau …..KAMBING!
aduuuuuuuh nggak mungkin banget..saya yakin saya beli hati ini di rak bagian sapi kok. masa tiba tiba bau kambing gini???! Saya pun tetap bertahan mengira itu hanya halusinasi belaka…tapi berhubung baunya semakin kuat (saya sampai ke kamar kecil beberapa kali untuk muntah *maaf ya*) …akhirnya karena penasaran saya cari lagi bungkus plastik hati tadi yang sudah ada di tong sampah..untuk membuktikan itu adalah hati sapi…ternyata di etiket kantong plastik itu ….bertuliskan: "HATI DOMBA"
alamak…pantesan….bagi saya yang bukan ahli gastronomi …domba atau kambing kan baunya sama saja!!!….terus terang saya nggak pernah suka sengan daging kambing. *hueekkks….muka udah hijau lagi nih membayangkannya*
Saya lalu telfon suami yang ada di Lab…tanya apakah dia mau menyantap hati domba atau tidak.
Lalu dia tanya balik: " Lho? sejak kapan kamu tahan sama bau domba atau kambing?"
lalu sambil berlinang air mata saya jawab.."saya udah gak tahan sebenarnya..cuma kan sayang kalau dibuang..mubazir..siapa tahu kamu mau makan dan suka"
Lalu suami bilang: "Gak apa apa..boleh kok..aku juga gak mau makan kalo kamu tersiksa gitu masaknya"
Ahhhhhhhh terima kasihh sayang atas pengertiannya!!! …tanpa babibu saya langsung saya masukan semua masakan setengah jadi itu ke kantong plastik sampah dan saya letakkan jauh2 di balkon. …..hikhikhik…berlinang air mata..kesal terharu sedih campur aduk..kesal karena saya sudah menghabiskan waktu lama dan membuat wohnung mungil saya beraroma kambing..eh domba….terharu karena suami tanpa pikir panjang "menyelamatkan" saya..sedih karena merasa telah melakukan tindakan mubazir…hiks hiks..
sementara sambil menghapus air mata..jendela jendela saya buka lebar-lebar tapi kok baunya gak hilang hilang yah….duh….rasanya seperti kandang kambing…..*muka hijau lagi*
Aduuuuuuuuuuuh baunya HATI DOMBA!
saya benar-benar kepayang..
Uncategorized | Comments (37)Tröste Dich
Tröste Dich
Jedes Glück hat einen kleinen Stich.
Wir möchten so viel: Haben. Sein. Und gelten.
Dass einer alles hat: das ist selten.
(Kurt Tucholsky-1927)
Uncategorized | Comments (17)Alexander Litvinenko
Selamat pagiiiiii!!!! *sambil nyuruput kopi panas*
:)) good mood..pagi-pagi udah posting..yah sebelum ngejar bis..hari ini saya sudah rapi satu jam lebih awal.
Alexander Litvinenko? Siapakah itu? Entahlah saya nggak tahu..denger berita pagi ini..dia ex-agen KGB di London yg diracuni secara misterius dengan racun (Polonium-210) yg membunuh secara perlahan tapi "pasti"..waduhhhh..kayak cerita novel spionase aja..
Baca beritanya dulu ah..
" Radiation poisoning is also unlikely."
Uncategorized | Comments (11)Insomnia (lagi)
Insomnia lagi..heran… padahal dulu2 kesenggol bantal aja langsung ngantuk..ough..
Lumayan sih ada hikmahnya, saya harus latihan presentasi kecil tentang seorang tokoh Jerman namanya "Willy Brandt". Seorang politikus Jerman yang terkenal dengan Ostpolitik-nya dan juga peraih nobel perdamaian pada th 1971.
Sambil baca ulang kisah Willy Brandt saya mendengarkan Yvonne Catterfeld nyanyi "Für Dich" .. lagu Jerman yg sedang saya suka. Entah mengapa malam ini tambah suka. Mungkin karena seorang kawan telah berbaik hati mengirimkan beberapa contoh agreement buat dipelajari…besok ada bacaan baru yang sangat bermanfaat untuk dinikmati di dlm U bahn menuju sekolahan. "Nur Für Dich!" Begitu kata beliau, tapi tentu dengan tidak bernada mendayu-dayu seperti si cantik Yvonne. Danke ya Boss!
Kemarin my hubby dari Chicago sdh sampai di NY, katanya mampir sebentar di Lab di NY untuk men-treatment sample experimen-nya yg dibawa dari Lab di Chicago …truss langsung ke Airport dan insya ALLAH sudah di Hamburg lagi besok pagi pagi dan *ngintip jadwalnya* besok sore dia aja meeting di Lab di Uni Hamburg… Kebayang hectic dan capeknya hubbyku.. Mudah mudahan sempat ketemu sebelum saya berangkat sekolah, jd saya bisa mempersiapkan makan paginya..
Uncategorized | Comments (26)Bright ( A Noun or An Adjektive?)
Bright is a noun? (not an adjektive?) (argh!..Not a confusion over meaning again!).
(Taken from "World Wide Words" by Michael Quinion)
It’s a noun, not an adjective. If you say, “I’m bright”, that’s an immodest (and possibly inaccurate) statement. But “I’m a bright” says that you don’t believe in God, more strictly that your view of the world is naturalistic, free of what its inventors describe as “supernaturalism and mystical elements of all kinds”. The term has only recently been coined by Paul Giesert and Mynga Futrell, two educators from Sacramento, California. They modelled it on gay, to provide an umbrella term for a potential coalition of all those who felt themselves isolated and without political influence in the USA because they professed no religious belief. The philosopher Daniel Dennett has taken it up and publicised it in newspaper articles, from two of which the quotations below have been taken. Somehow, I don’t think it’s going to catch on.
Whether we brights are a minority or, as I am inclined to believe, a silent majority, our deepest convictions are increasingly dismissed, belittled and condemned by those in power—by politicians who go out of their way to invoke God and to stand, self-righteously preening, on what they call “the side of the angels.”
[New York Times, 12 Jul. 2003]
Look on the bright side: though at present they can’t admit it and get elected, the US Congress must be full of closet brights. As with gays, the more brights come out, the easier it will be for yet more brights to do so. People reluctant to use the word atheist might be happy to come out as a bright.
[Guardian, 21 Jun. 2003]
Uncategorized | Comment (0)Pertama kali nonton di Bioskop(after 4 years)
senangnya! Tadi diajak dadakan nomat (nonton hemat) sama Migo dan Rudi. (Danke ya!!.
) Nomat di UfA Grindel biasanya hari selasa..(Kino Tag) lumayan terjangkaulah.. 4.5 Euro. Asli dadakan banget..sampai saya setengah nggak percaya. Kalau nggak dadakan di"todong" di YM jam 5 sore tadi dan kalau bukan karena mereka berdua, mungkin saya ngga akan beranjak pergi dan akan kembali memproklamirkan tahun ini menjadi tahun tanpa nonton bioskop (untuk..ke … ehm..empat kalinya)
halaah baru 4 th..saya rasa ibu bapak saya sudah 30 tahun nggak pernah ke bioskop lho! serius.
Jadi gini…terus terang aja…saya udah luammmaaaaaaaaaa bgt nggak ke bioskop. 4 tahun?..lebih lama dari itu rasanya..*nyengir* makanya saya nggak pernah memperhatikan harga nonton..hehe..walaupun dalam rentang waktu 4 th belakangan ini ada juga sih kadang-kadang terbersit rasa ingin nonton di bioskop. Tapi kok ya pasti ada aja hal yg membuat kami nggak jadi jadi nonton.
Waktu tinggal di Long Island dulu, kami lebih suka pinjam DVD di Blockbuster..flatrate, sebulan bisa nonton film sebanyak-banyaknya. Nyewa film di Amerika memang super murah! Lagi pula, tinggal di Lab terisolir gitu lho…boro2 mau pergi ke bioskop untuk nonton..belanja aja nunggu shuttle yg jadwalnya seminggu cuma dua kali! Trus..kini di Hamburg..kami memang sudah "back to civilization"..tapi ternyata gak pernah ada waktu dan kesempatan yg diperuntuk-kan nonton ke bioskop. Hari ini…saya baru nyadar..kalau ternyata udah luammma bgt gak nonton ke Bioskop.
Kebetulan dari kecil saya memang nggak akrab sama yang namanya TV dan bioskop..(mengacu kembali ke postingan saya bulan September 2005 berjudul "TV oh TV") …jadi yah, nggak pernah merasa kehilangan juga kalo nggak nonton..(walaupun banyak ketinggalan banyak hal hal menarik juga sih) Ehehe…kok lebih mirip kayak cerita anak dusun gini daripada orang yg dibesarkan di Jakarta sihh???
Tapi saya merasa baik baik saja kok..beneran deh..lagian kan selalu ada DVD dan internet…jadi update ttg film film yah..cuma dari situ…jadi mohon maaf para seleb dan bintang sinetron indo..(kalau hanya mengandalkan TV bisa-bisa saya nggak mengenali wajah2 mereka!) …seringkali ada bintang sinetron di depan mata saya, misalnya di Airport, kalau saya nggak di kasih tahu oleh orang lain disekitar saya..biasanya saya mah egal sajah..nggak mengenali.
oh ya..ngomong2, film yang kami tonton tadi judulnya BORAT. ("Borat: Cultural Learnings of America for Make Benefit Glorious Nation of Kazakhstan") Film parodi gitu..tentang seororang junalis Kazakhstan yg berada di Amerika untuk membuat liputan. Filmnya lucu sih..tapi hmm..keterlaluan juga. Ya..gak heran banyak yg memprotes..kontroversial sih. Rasanya film ini gak masuk Indo yah? (nggak tahu pasti lho) Kebayang aja nanti lembaga sensor bingung mau nyisain apa buat ditonton..kekekek..soalnya dari berbagai kategori mulai dari pertimbangan SARA dan politik sampai pertimbangan kesusilaan bisa2 dipangkas habis..yah..penonton Jerman yang pada awalnya ketawa-tawa saja pada menit-menit akhir sudah nggak nafsu ketawa lagi.. seemingly, it was a little bit too much for them too
…Tapi isi filmnya gak terlalu penting…
Yang penting hari ini saya lihat layar lebar lagi…hihihihi..akhirnya pernah juga nonton di bioskop Jerman *norak mode: on* dan yang membuat saya tambah senang lagi..Pe-er Jerman saya buat besok pagi sudah selesai dan dikoreksi oleh Rudiger (Native speaker gitu loh)…hehe tadi saya ngerjain pe-er sambil nunggu film yang (agak terlambat) diputar…nonton bioskop hayo aja, tapi jangan lupa, kertas pe-er dibawa juga ya!
ya wis ah…time to hit the bed now..Alhamdulillah..udah ngantuk dan udah nggak insomnia lagi. pareng pareng…kulo pamit rumiyinnn…
Uncategorized | Comments (3)What a Weekend!
Haiiya..weekend ini lumayan seru..
..Weekend dimulai dari hari jum’at, masak-masak untuk acara seminar hari sabtunya: sambal balado, sambal kacang dan menggoreng telur sambil siap2 payung buat perisai (karena takut meletus-letus demi mengingat kejadian tempo dulu menggoreng telur puyuh yang meledak ledak secara simultan sehingga dinding dapur mini saya penuh telur)
..truss dilanjutkan sabtu siangnya ikut jadi panitia seminar masteran IASI di KJRI Hamburg (Selamat untuk Fajar dan Pras atas keberhasilan kalian!) Acara ini cukup seru dengan diramaikan oleh banyak teman-teman yang hadir dari beberapa kota diluar Hamburg. Terima kasih ya teman2!
..lalu…setelah seminar usai, saya dikenalkan sama teman2 IASI apa itu ALEX (brasserie di pinggir danau Alster). Enak juga tempatnya yah! sayang sekali Tortenya sudah pada habis..Di ALEX juga akhirnya untuk pertama kalinya saya ketemu sama Ahong yang dengan penuh semangatnya mengusung kardus Mie Sedapnya kemana-mana..malam itu di ALEX jadi ada meja panjang buat tamu Indonesia hehehe…
..sepulang dari ALEX…Saya di "culik" ke Harburg oleh Dewi…. sesi "diskusi dengan berbagai topik bahasan" diperpanjang sampai pagi, dilengkapi dengan soundtrack pula ya Wi! *smile: tenang Wi..liriknya tak jadi dipampang kok* ..sementara Dewi dengan semangatnya menerangkan treatment limbah air buangan sebagai topik bahasan dipagi hari, saya pun dengan senang hati menyimak sambil menghabiskan setengah loyang besar cheese cake yang Dewi suguhkan. Danke ya Wi..
.. Minggu sorenya saya ada janji minum kopi dengan si blonde Elizabeth, kawan baik dari Norway yang sedang sibuk diet ketat untuk persiapan (lagi) kompetisi renang Internasional (perenang itu punya diet khusus ternyata ya?) di Starbucks seberang Rathaus. Jika Elli menolak tawaran cake gratis dengan alasan kandungan kalorinya..maka saya dengan santai menikmati jatah sample Zitrone cake dan cookies dengan potongan yang cukup "generous" tanpa mau tahu jumlah kandungan kalorinya…hihihi tak apalah nanti olahraga extra saja..
..finally..sekarang didepan komputer..blogging …dan menunggu suami tercinta online dari Chicago, aduh..kangen euy..
Uncategorized | Comments (8)Sekilas Hamburg yang membuat Jatuh Cinta
Sampai sekarang saya belum sempat menulis cerita dan impresi saya tentang kota Hamburg. Tetapi berhubung saya menemukan link image-film kota Hamburg, yang walaupun sekilas namun cukup untuk berkenalan dan memberi sedikit gambaran tentang kota cantik ini,..maka saya tema saya dalam blog ini adalah sekilas Hamburg yang cantik.
Walau sempat diawali dengan rasa skeptis ketika baru pindah ke kota ini, Namun kini perlahan tapi pasti saya semakin "jatuh cinta" pada Hamburg …aiihh..
Akses kendaraan umum yang nyaman adalah salah satu alasan utama saya begitu mudah menyukai kota ini. Simply irresistable..taman kota dan danau cantik serta tata kota yang apik membuat kota penuh kanal dengan lebih dari 2300 jembatan ini membuat saya betah menjadi penghuninya. Tidak seruwet Jakarta dan Amsterdam atau se Megapolitan New York, tapi juga tidak sesepi Groningen atau se-terkucil ketika tinggal di Upton (Long Island). Komunitas Indonesia dan muslim di Hamburg yang cukup banyak dan terbuka membuat saya tidak pula kesulitan mencari makanan kampung halaman yang halal, dan informasi beribadah. Konsulat Indonesia di Hamburg adalah salh satu konsulat yang cukup baik mengakomodasi kepentingan masyarakat Indonesia di Hamburg. Satu hal lain yang tak bisa dinafikan, keterbukaan dan toleransi masyarakat Hamburg (baik secara penduduk maupun pemerintah kotanya) terhadap "orang asing" cukup besar dibanding di banyak kota lain di Jerman yang masih "kurang fleksibel", cukup berperan besar menghadirkan rasa nyaman di hati sekaligus menghela rasa was-was yang berlebihan. Bila diibaratkan seekor burung, maka rasa nyaman itu salah satu hal penting untuk ber"sarang"
Silahkan klik di sini dan di sini untuk mengintip Hamburg secara singkat. "24 Hours Hamburg" untuk lebih lengkapnya (tapi untuk link yg terakhir, tolong hati2 dan siap2 parental control karena ada bagian yg musti di sensor) .
Percaya deh..link-link di atas hanya cuplikan kecil dari cantiknya kota Hamburg ini. Ohh Hamburg ist wirklich sehr schön!!!!
Ayoo..kawan, ada yang tertarik mampir ke Hamburg untuk membuktikannya?
Uncategorized | Comments (3)Unek-unek setelah Prufung
Endlich..die Prufung schon vorbei..begitulah ucap kami hampir bersamaan begitu keluar dari ruang kelas Jerman, siang tadi . Walaupun kami belum tahu apakah hasilnya akan baik atau tidak, tapi test B-1 yang lebih dari 4 jam tadi lumayan bikin capek sehingga wajar saja ketika selesai kami pada senang. (aduuh baru B-1 aja udah seneng gitu…)
Yang jadi masalah adalah test bagian menulis text. uhh..secara khusus saya di wanti-wanti oleh Bu guru untuk tidak membuat kalimat yang terlalu panjang dan rumit. Karena kecenderungan saya untuk menulis kalimat-kalimat panjang berakibat timbulnya banyak kesalahan gramatik di dalam text.
Bagitu tema text ditentukan dan diminta menuliskan pendapat dalam bentuk karangan, seketika itu biasanya kalimat-kalimat yang panjang dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa dan bahasa Inggris sudah menari-nari di otak saya dengan hebohnya. Bahkan kadang banyak ide-ide yang tidak dapat diungkapkan dengan jelas dengan bahasa apa (lho?!). Namun semuanya jadi hilang begitu saya harus menterjemahkan kalimat-kalimat itu ke dalam bahasa Jerman di atas kertas. Rasanya tiba-tiba saya mendadak menjadi idiot. Semua tanggapan dan pendapat menjadi lenyap atau untuk lebih tepatnya: samar-samar berkabut.
Memang banyak teori mengatakan bila hendak mengungkapkan ulasan kalimat dalam satu bahasa, kita sebaiknya sudah mengawali dengan berpikir menggunakan bahasa itu, jauh sebelum pendapat itu terbentuk.
Sayangnya, sekat sekat bahasa dalam otak saya sangat lemah. Mengutamakan kebebasan berekspresi, seringkali ide-ide, kosa kata dan pemilihan diksi saya melompat-lompat mengabaikan konsistensi. Persis, seperti cara saya menulis blog ini. Kadang saya berpikir dengan bahasa Jawa tapi kalimat yang dikomunikasikan dalam bahasa Inggris. Kadang saya berpikir bahasa Inggris tapi saya harus mengekspresikan sesuatu dalam bahasa Jerman.
Hmm..rasanya perlu juga sekali-kali latihan disiplin berbahasa dalam berekspresi. Jangankan berekspresi dalam bahasa asing, dalam bahasa Indonesia saja masih sulit. Sejujurnya, penguasaan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam hidup saya pun sangat jauh dari sempurna. Contoh gampangnya: ketika didalam kereta bersama Novi Fair dan Jibran membicarakan tentang ejaan yang benar, saya masih ragu antara "memesona" atau "mempesona"? "menyucikan" atau "mensucikan"?
*deeng*
Ingin juga bisa belajar menulis lagi dalam bahasa Indonesia dan Inggris yang baik dan benar. Kapan lagi ya? Takut keburu rusak semuanya sementara bahasa lain yang baru dipelajari tak kunjung mendekati sempurna..
Uncategorized | Comments (3)