01:02:03 04 05 06
I’ve got some msgs n emails which more or less remind me to notice that next month on Thursday 4th May, 2006, at two minutes and three seconds after 1 O’Clock the time and date will be exactly:
01:02:03 04 05 06
This will never happen again.
Uncategorized | Comments (3)Terbitnya si edisi perdana
Alhamdulillah, Buletin IASI edisi perdana..akhirnya terbit tepat pada waktu yang direncanakan, tgl 21 April 2006.
Teringat kembali..ketika kepada Jendral Indra, saya menyatakan bersedia memotori pembentukan Tim redaksi tahun lalu. Saat itu diam-diam saya merasa pesimis bahwa Buletin IASI ini akan benar-benar terwujud. Bagaimana tidak, pengalaman dan pengetahuan jurnalistik tidak punya, menulispun tidak piawai, ditambah lagi saat itu saya belum banyak kenal dengan teman2 IASI bahkan belum tahu banyak tentang IASI..
Namun rasa pesimis itu menguap terkalahkan oleh semangat dan kenekatan untuk mencoba. Terlebih lagi setelah Indrawan menyatakan ikut bergabung. Perpustakaan TUHH maupun perpustakaan pusat kota Hamburg menjadi tempat kami bertukar ide. Beberapa minggu kemudian bergabunglah Yohan ke dalam trio redaktur buletin, menjadikan saya merasa sudah memiliki teman sepenanggungan.
Pada tahap ini, Migo ( teman baik saya yang punya banyak pengalaman di bidang ini - namun sayang berhalangan untuk ikut bergabung- ) cukup banyak memberikan masukan, inspirasi dan semangat kepada saya. Danke ya Go!
Walaupun sepertinya proposal buletin yang kami susun masih hanya berupa proposal khayalan, namun di luar dugaan, sebuah rapat di kediaman Fair Gunawan menunjukan antusiasme kawan2 IASI terhadap proposal sederhana Buletin tersebut dan dalam satu malam semua kolom usulan sudah memiliki kontributornya masing-masing. (Agus, Pipit, Indra, Fair, Novi, Ena, Jibran terima kasih ya!!.."aku juga manusia, rek!" merupakan ekspresi favorit dalam rapat itu)
Walaupun belum lengkap, artikel demi artikel mulai terkumpul mirip seperti berkumpulnya tim pemrakarsa Buletin IASI untuk pertama kalinya di wohnung saya yg mungil. Tapi bagaimana nanti penampilannya dalam satu bentuk Buletin? Bergabungnya Prio memberikan jawaban manis dari pertanyaan tadi dan lay out versi Beta Banget-nya merupakan tahap penyadaran saya..bahwa Buletin ini mulai menampakan penampilannya. Duet Prio dan Novi dalam mepercantik buletin dilengkapi dengan kehadiran Charlie sebagai final reviewer dan editor final up-date Buletin versi Beta.
…..ah..singkat cerita..jam 3 pagi sembari menunggu Taksi yang menjemput Uda Andri ke airport, saya membaca email dari Jibran bahwa Buletin IASI edisi perdana ( e-version) sudah dapat ditilik di website IASI. Tiba-tiba saya baru menyadari bahwa saya selama ini lumayan ’stress’ berharap-harap cemas menunggu terbitnya edisi perdana ini. Alhamdulillah..sungguh, saya merasa lega dan senang. Semoga awal yang sederhana ini berkembang baik dan Buletin IASI berikutnya akan lebih baik lagi. Amin.
zzzzz…….
Uncategorized | Comments (4)XXL-Busse im WM-Outfit
Pagi tadi Andri dan saya ada termin di bank dan mengurus beberapa hal dan surat-surat penting yang harus diselesaikan sebelum Andri berangkat besok pagi buta ke New York. Semuanya dilakukan dengan agak tergesa-gesa. Selain karena semua harus diselesaikan selama jam kerja kantor, tengah hari tadi Andri harus sudah berada di Lab dan saya sudah harus di Colon jam satu siang. Alhasil pagi kami tadi diisi dengan berlari-lari kecil dan jalan cepat.
Demi menghemat waktu, di Gansemarkt kami naik bis ke Jungfernstieg.
(bis atau bus ya? hmm.. untuk posting ini saya memakai kata bis saja). Karena hampir semua bis di Gansemarkt ke arah Jungfernstieg jadi kami langsung naik saja bis yang datang dan berhenti di halte. Egal, sama sajalah bisnya. Tapi ada hal yang tidak sama ketika kami lompat naik dan masuk ke dalam bis. "Wah..bisnya kok luas banget?" gumam saya bersamaan dengan Andri yang berkata: " lho kok..panjang sekali bisnya?"
Kami sempat terkagum kagum dan celingak celinguk dengan agak norak seperti orang yang baru pertama kali lihat dan naik bis. Sejujurnya sih memang beneran kagum kok, terutama pada supirnya. Lha wong dengan bawaan bis sebesar dan sepanjang itu, si supir bisa lewat dengan lancar lewat jalan kecil di Innenstadt. Lalu, yang agak lain dari bis biasanya di bagian tengah sambungan badan bis terdapat sandaran pinggul (na ja, ukuran tinggi pinggul bule sih…) bagi penumpang yang terpaksa berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.
Sayangnya tadi kami gak sempat bikin foto. Lagi pula saya pikir: "..ah..toh lain kali bisa naik bis yang seperti ini lagi". Namun namanya juga penasaran, barusan saja saya browsing di www.hochbahn.de dan mendapatkan foto-foto bis tersebut: Doppelgelenktbusse. Ternyata memang bis itu adalah salah satu dari features baru dari Hochbahn menyambut FIFA WM 2006.
Jadilah berikut ini saya pampang link galeri foto XXL-Busse im WM-Outfit sekaligus saya jadikan posting di blog sebelum saya lupa pengalaman pagi hari ini.
Uncategorized | Comment (0)Sweet Hyacinths
In my humble opinion, everybody should have Hyacinths in their early spring gardens, pots or containers. Hyacinths are not only very pretty but also provide long lasting sweet fresh fragrance that I like very much.
As an impatient ‘gardener’, I’ve propagated and forced some Hyacinths to bloom early this spring and ‘ve been enjoying their scent even before the spring’s official date. I put them as replacement of pot-pouris and my bedroom’s window decoration. (for sure, I’ve turned off the heater first).
Yet, I still have some Hyacinths bulbs left aside-outside on my balcony and let them growing naturally.
Yesterday, my mother asked me to bring some of Hyacinths bulbs to Jakarta becuse she want to plant them. I refused and explained that these perenial bulbs will not going to stand Jakarta, except if she want to grow them in the refrigerator. :P
Hyacinths are not "ever green" plants. They only grow in early spring, bloom once, and "hibernate"/ naturalize themselves so the bulbs take long sleep until next early spring.
My Hyacinths may not last forever or perhaps not even longer than one month but at least these Hyacinths pictures in this blog will last longer and hopefully will remind me to start collecting and propagating some Hyacinths bulbs..next winter in order to enjoy their heavenly fragrance, next spring. Insya ALLAH.
para Eyang… tetangga saya
Beberapa hari yang lalu di dalam bis, duduk berhadapan dengan saya seorang Nenek yang saya rasa berdarah Afrika. Tiba2 beliau menepuk saya dan berkata:
"Ich kenne deine Mutter" (saya kenal ibu kamu)
lho? kok bisa?
"Ja Ja..Deine Mutter..Sie komt aus Indonesia…Deine Mutter ist meine Nachbarin!..hier..in Eimsbuttel .." (iyaa…ibu kamu…dari Indonesia…Ibu kamu itu tetangga saya..di Eimsbuttel sini nih…)
waduh..salah banget kan? lha orang jelas2 rumah ibu saya di kebayoran Baru kok jadi Eimsbuttel sih?
Nah kan….ternyata memang salah orang. Dia bilang ada seorang ibu Indonesia di Hamburg yg mirip saya. Anak si Ibu Indonesia itu masih sekolah dan nenek itu sempat mengira saya bolos sekolah. (eeeeh..lho kok saya jadi dituduh..)
Tentu saya jelaskan bahwa saya di Hamburg bersama suami saya dan tentunya dengan tambahan info bahwa saya nggak lagi bolos sekolah..
Ehh….beliau tambah kaget…dan dengan suara lantang beliau menanyakan umur saya..dan menanyakan mengapa tidak selesai sekolah dulu baru menikah…
Aduh..malu juga karena orang-orang di dalam bis mendengarkan percakapan kami. Apalagi saat itu nenek-nenek di dalam Bis itu jelas2 menoleh dan ikut mendengarkan. Kebanyakan mereka adalah nenek-nenek Jerman yg beredar di daerah Eimsbutel yang biasanya sering bertukar senyum setiap hari dengan saya di dalam bis. hanya saja mungkin karena mereka nenek nenek bule, mereka nggak se-frontal nenek dari Afrika itu dalam menegur dan bertanya..walaupun pada dasarnya…aduhh…mau tauu aja nih para Eyang iniiii..
Nenek itu langsung merubah bahasanya ke Bhs Inggris begitu saya bilang saya lebih mengerti Bhs Inggris daripada Bhs Jerman…malah menawarkan kalau pakai bhs perancis dia juga bisa…(lho lho lho..)
Na Ja….beliau minta maaf kemudian setelah tahu saya umur 28 tahun, dan gak lagi bolos sekolah…hmm..sebenarnya kejadian itu gak masalah sih…..hanya saja lama-lama kok rasanya gak nyaman juga ya saru ukuran sama anak-anak sekolah..(mending kalo anak SMA..anak SD juga udah pada lebih gede gede!..dan juga keliatannya cepet dewasa ya?)
Beberapa nenek yang ada di Bus yang sama hari itu..kemarin ketemu saya..(lagi)..dan mereka kasih saya senyum juga senyum senyum kecil yg tak kalah manis.
eh? Ge-er-kah saya? ini di Jerman lho..kok pada ramah?
Apa beneran mereka inget saya tuh?
Jawabannya: ingat!
Tadi pagi..waktu saya di balkon menyirami bibit tanaman..salah satu nenek yang kemarin itu melambaikan tangan dari jalan setapak di taman belakang gedung apartemen tempat saya tinggal (Apartemen saya di lantai tiga lho..berarti jeli juga penglihatan nenek itu ya?). Dengan sumringah saya balas lambaian tangannya…lalu seorang kakek..juga melambaikan tangannya..wah wah..Spring fever..
pertanda deh…tetangga-tetangga saya perhatian rupanya. sepertinya saya akan punya beberapa teman "seperjalanan" setiap kali naik Bis Nomor 4.
Dan tadi siang…sebelum berangkat ke tempat kursus, saya berpapasan dengan seorang kakek yang juga tetangga saya. Beliau sempat-sempatnya menanyakan..bagaimana kursus Bhs Jerman saya dan apakah berlangsung dengan baik..
wah wah…
Uncategorized | Comments (2)a new photo album: Defence
Just create a new photo album.."Defence" . The pics are some of those captured moments when my husband, Andri, did his formal defence February 2006. This posting is dedicated to my dear friend Liza, actually. *smile*
well dear..since I have not enough time yet: I’ll make that photo album neater, later on.
Tschussie..
Uncategorized | Comment (0)