Dangdut :D
Barusan saja saya mampir ke blognya mbak Muti. Mbak Muti ternyata baru dikirimi Ni Londo link lagu2 dangdut.
Tertarik, lalu spontan saya klik dan lihat-lihat apa ada lagu yg saya kenal..tanpa harus mencari dalam waktu yg lama beberapa lagu familiar sudah ketemu. hohoho..ada ada saja ya lagu dangdut itu..susah diungkapkan dengan kata kata..ritmiknya memang mirip dengan ritmik musik India seperti soundtrack2 film keluaran Bollywood, tapi entah kenapa kalau dilihat judul lagu lagu dangdut itu selalu fantastik dan menggelitik hati (dan kadang perut juga)..misalnya kenapa sih judulnya: "cintaku tok til"(?) atau misalnya "bunga warung" atau "ogah pulang" dan "mabuk janda".."rekayasa cinta"
ck ck ck…apa sepertinya semakin menggelitik semakin asik gitu ya?
Beberapa lagu yang saya rasa cukup menarik misalnya:
"Dangdut is the music of my country" (Project Pop)
lalu saya klik juga : "Embah dukun" (Alam)
alhasil saya jadi terkekeh kekeh demi mendengar semburan mbah dukun yang kesannya benar benar "live"…walah…(mbahh..mbah…iki klambine dadi podo teles kabeh lho mbah! piye toh ah!)
Lalu ada juga yang cukup "akrab" di telinga..entah saya sering mendengar di TV, radio atau juga dari pengamen di Metromini.. "Terlena" (Ike Nurjanah) –> (nah di sini walaupun suara bagusnya Ike Nurjanah cukup sulit untuk ditiru tapi dulu sempat jadi favorit beberapa pengamen yg biasa ada di S 75 jurusan Blok M lho), "Selamat Malam" Evie Tamala –> urlnya: "http://…gutnite", "Sakit Gigi" Meggy –> astaga..saya jadi nggak tahan tertawa lagi setelah mencermati ..lucu juga URLnya: http://tamanbollywood.singcat.com/cgi-bin/radiodangdut/radio.cgi?toothache walah..ya sebenarnya masuk akal..sakit gigi jadi tootache..cuma..nggak menyangka aja..kok ya..tootache..kekekekek..
Tapi banyak hal yang cukup saya nikmati juga dari musik dangdut lho, selain syairnya kadang bikin saya ketawa ketiwi karena lucu, aransemen alat musiknya dan teknik suara penyanyi yang bercengkok-cengkok itu..unik dan butuh keahlian tersendiri..sepertinya menyanyi dangdut itu jauh lebih rumit dari menyanyikan lagu pop.
Pandangan saya sebagai pendengar dan penikmat musik yang cukup "awam" tentu sangat berbeda dengan pandangan Ni Londo yang cukup pakar musik dangdut ( Thesis masternya saja tentang musik Dangdut lho!). hmm..Ni Londo… waktu riset dan bikin thesisnya cekikikan nggak ya? malah justru enggak ya?…
Uncategorized | Comments (4)Bali dan mimpi.. ;)
Rakyat Bali Tolak RUU Pornografi
Bali, budayanya memang eksotis dan sangat ekspresif. saya mengakui itu. eiits, tapi..bukan berarti Bali tidak punya norma susila lho.. Norma itu tetap ada dan dijunjung tinggi.
Jadi ingat ketika pernikahan kami dulu, Keluarga besar Ayah saya (yg di pimpin oleh Pekak/ kakek saya) memutuskan untuk hadir dengan mengenakan pakaian adat Bali (yg mereka kenakan untuk beribadat jika ada upacara di Pura). Menurut saya pribadi..pakaian mereka meriah, bernilai seni, dan tidak di pungkiri eksotis namun tidak vulgar. Saya bangga dalam diri saya mengalir jiwa seni mereka.
Tapi tentu keluarga besar dari Padang (Keluarga besar Uda Andri) cukup terheran-heran, bahkan ada yg mengira tamu2 dari Bali itu "lupa" mengenakan beberapa "ornamen" pakaian. hehehe..mengingatnya saya jadi senyum senyum sendiri.
Tapi, Alhamdulillah, namanya juga KELUARGA besar yg baru pertama kali bertemu, berbeda tapi azas dasarnya tidak saling curiga melainkan cinta, perbedaan dengan azas dasar itu justru membuat mereka saling belajar dan komunikasi. Di tambah lagi dengan hadirnya keluarga Ibu saya yang berbudaya Jawa, yang berperan menjadi mediator yang cukup sukses melubrikasi komunikasi. Jadilah perhelatan kami dihadapan ribuan tamu, berjalan lancar dan kaya sentuhan tiga warna budaya.
Indonesia adalah negara yang majemuk. Bhineka Tunggal Ika. Satu dalam keaneka ragaman. Unity in diversity.Sejak kecil hingga sekarang, saya masih membanggakan fenomena Bhineka Tunggal Ika tersebut kemana saya pergi untuk menggambarkan tanah air. Tapi fenomena belakangan ini, cukup membuat hati saya bergetar..
Apakah memang sedemikian susahnya untuk menghormati satu sama lain? Apakah juga sedemikian susahnya kita untuk bermusyawarah dan bermufakat? Mengapa "Win - Win Solution" jadi sulit dicapai? –malah perlu satu mata kuliah khusus! (penyelesaian sengketa)"–
Sebagai seorang muslim, salah satu hal mengapa saya menganut agama Islam, adalah "Lakum dinukum waliadiin".Hukum Islam hanya berlaku bagi yang menundukan diri (i.e menganut) agama Islam. Islam mengajarkan toleransi, dan menganjurkan komunikasi. Komunikasi itu salah satu bentuk dari dakwah, bukan?
Misalnya begini:
"..iya kami menolak Playboy masuk ke Indonesia kami tidak ingin Indonesia sevulgar negara barat, tapi kami juga tidak bermaksud merubah peribadatan umat lain apalagi mengkritisi nilai2 relijius umat lain, di sisi lain, di daerah A ingin pakai baju tertutup, yuk, mari kita rumuskan bersama bagaimana baiknya ya..hingga rumusan2 undang-undang sesuai dengan budaya kita, sehingga tidak ada yg merasa dilecehkan ataupun ditinggalkan"
Rasanya banyak kaum terdidik tersedia di Negara kita yang mampu merumuskan kata yg senada agar mufakat dicapai..bukan malah ribut dan melengkingkan nada tinggi. Bukan, malah belum apa-apa sudah saling curiga bahwa pihak lain akan menimbulkan iritasi.
ah..entahlah..semakin banyak ngomong begini ..bisa bisa semakin banyak orang yang menilai saya naif..naiv..
hwaa…jadi ingat lagunya Annett Louisan yg judulnya Eve. nggaklah ya!..saya nggak ingin jadi si "Eve"..kecuali seluruh dunia kayak si Eve sekalian hehehe.."Na, Eve!"
Ibu..bapak..saya rindu..rindu sekali pada kalian ..masih teringat banyak percakapan kita ketika saya masih kecil.. ..terimakasih telah berani mendidik saya untuk berani selalu berprasangka baik..mengajarkan saya agar berani bermimpi..di dunia nyata ini. Wondering…masihkah kalian juga ber"mimpi" seperti saya?
masihkah kalian membela saya seperti dulu ketika ada orang yg mengatakan saya naif?
Uncategorized | Comments (11)Hamburg Groningen
Tomorrow very early morning we are going to Groningen (for the third time this year) I can imagine how we must change from one train to another, tomorrow.
First we need to get ourselves to Bremen, then we change there for the train that goes to Leer (Oosfriesland), afterthat in Leer we should take another DeutschBahn train to Niueweschans before finally, from Niueweschans we hop on Noord Netherlands’ train (it’s a stop train, which runs very slow and stops at evey small station) to Groningen’s central Station.*capek euy..pindah pindah kereta terus*
Down here, I’d like to share the pictures taken while waiting for the train in every station, in our last trip from Hamburg to Groningen.
Uncategorized | Comments (2)No extremists and provokers please…
This evening, my husband and I just discussed Muslims world reaction to the cartoon on Danish newspaper Jyllands-Posten, that describes The Prophet Mohammad (peace be upon him) in a very offensive way.
My husband asked how am I sensing and taking the Picture and again..I have a small dialog about the cartoon.
My husband asked: “As a Muslim, is your blood boiled?”
I said: “in summary, yes” but it is not as a reaction to the drawing it self but it is more about the motives that I believe have been ignored by many others who stood up behind the sake of “freedom of expression” and called to re-publish of the cartoon on behalf of solidarity to the Danish press.
“What do you mean?” asked him with gleaming eyes and I know he demand a discussion.
“Oh dear..I don’t know how to put this, but..I won’t be deplored and shaking as if I’ve sent wet outside in this wintertime for only seeing the cartoon itself (I am aggravated though but I’m kind of cool and try to “understand”), but the motives behind it that gets on my nerves. The publishing of the cartoon has backgrounded by disgusting motives. They are about provoking and I guess all of us know really well what were they trying to provoke and the know clearly what would be the result.”
“Such as?” asked him enthusiastically and this time he wants me to give him a little speech..
“Such as what happened right now; the protests, the anger, the demonstrations and the ridicule from the Muslim world. I hated when it’s happening. It’s like clapping our hand to their ugly scenario. The worse thing is that now they will mock at Muslim world by telling the world that Muslims are intolerant and not suitable for existing in a global world which is by the way, what is the thing they are calling the global world? Europe?
Come on, I have nothing against that supra nationalisms feeling they have but as a matter of fact, the rest of the world are much more to add in addition to complete the word “global”.
Moreover, if I may wildly spread my apprehensive opinion, all of this can be taken politically as the fear of many antiimmigrants-European o the growing number of Muslims and immigrants. Europe’s 20 million Muslims have endured the most of this Islamophobia. The purpose of publishing the cartoon is to deliberately provoked muslim society in Europe which is absolutely an act to sabotage the maintainance of the sense of reconciliation. The intention to published that cartoon was really clear: to spark and destroy the bridge”
“What about freedom of expression?”
" Freedom (of expression) is not the word for justifying mockery on another very basic human right, basic respect of freedom of believing. Well, if you study international law and human right issue until you feel like you need lots of margaritas (I don’t drink, though- just an expression) you might understand how this word have so many slippery slopes.
Contradiction is not always creating chaos. However, when you sense disharmonious brought by that contradiction, then you may wait for the chaos’ arrival”
Let me tell you my fave quote from lectures and press: ” The limit to freedom of expression is the point at which there is an intent to harm a person or a community”. “You have to ask what was the intent of these cartoons, bearing in mind the recent history of tension in Denmark with the Muslim community," said David Welch, head of the Center for the Study of Propaganda and War at the University of Kent in Britain. Nicholas Lemann, dean of the Columbia Journalism School, put it this way: "He knew what he was doing."
I am shaking every time I think about how they are trying to set this up on fire. They aimed to feed current “painfull” atmosphere and the feeling of ressentiment (Nietzsche’s theory) in order to get violance reaction back and then revenge it and..create another satanic circle of hate. I disgusted by both extremists and ridiculed by those people who provoke them. This really helped the extremists on both sides that would keep Europe and Muslim world away from understanding each other.
“Don’t tell me you are going to put this on your blog”
“O yes…I’m going to put this on”
“In English or Indonesian?”
“in English..so I can communicate my opinion to non Indonesian fellow too,..
don’t worry my dear..this is Europe the place of freedom of expression , However and furthermore, I am using my right in exercising a blog writing with manner and speak my mind out loud properly rather than indecently protesting and revenge because I don’t want to give them another chance from me, to describe my believe in disgracing way”
I’m generously giving my respect in anyway and bear my tolerance as wide as possible to everybody, thus, I demand respect in return. And I decided to not following the path that thus provocateurs want me to walk on, no thanks. I still believe in peace and harmony. I won’t give up to promote that.
To all those anti peace extremists and provokers, Please be so kind to not get on my nerves because I won’t give you what you want if you do. Even if you just want me to cry, I wont give my tears away!
Uncategorized | Comments (3)
karikatur
Sharing pengalaman kasus karikatur..
Gara2 kasus karikatur kontroversial di Denmark, kemarin saya banyak menanggapi "ketertarikan" teman-teman di Jerman untuk berdiskusi. Diskusi yg membutuhkan banyak kesabaran diplomasi, untuk menjelaskan dan membuat mereka mengerti bahwa kemarahan dunia Islam terhadap kartun itu sangat beralasan, bukan sekedar reaksi tidak-toleran yg berlebihan.
Sejujurnya saya agak gelagapan dengan todongan diskusi spontan dimana saya "sendirian". Seperti biasa, dengan sedikit nekat saya pun memberanikan diri menanggapi ajakan diskusi seperti ini. "This is your duty Lessy". Encouraged me to my self…ciee..(seriously, kalau kita tidak termotivasi untuk mengkomunikasikan pemikiran kita dengan baik..bagaimana orang lain akan mengerti apa yang kita ingin mereka mengerti? dan..diskusi..adalah salah satu bentuk komunikasi verbal, yang intens untuk mengkomunikasikan apa yang ada dalam pemikiran kita…tanpa itikad untuk berkomunikasi dengan baik..bagaimana bisa berharap tidak terjadi salah pengertian?)
Akhirnya di mulailah diskusi yg berdurasi lumayan tidak sebentar,
-Mulai dari: membahas bagaimana "significant"nya Rasullullah, sebagai sosok manusia yg paling penting dalam Islam, di mana beliau ada dalam syahadat kita, dan dimana beliau bukan hanya sebagai simbol maupun pemuka agama. (menyangkut pemuka agama, beberapa teman mengungkapkan kasus karikatur Paus didalam botol Vodka di Polandia, with all due respect, I understand how this scratched most of all Catholic fellows there. )
-Sampai mengungkapkan pendapat pribadi mengenai penggambaran Sosok beliau: Jangankan kartun yg menjelek-jelekan, kartun maupun gambar Rasullulah dalam kisah heroik pun sangat tidak dianjurkan. It’s a matter of respect, but more than a respect we address to a religious leader, a respect that shall be address without any tangible figure to look on. So the "drawing" it self already irritating for some people. Me, for instance, I’ll response a drawing of Rasulullah as interrupting my intangible personal respect to Rasulullah.
-Diskusi pun jadi berkembang hingga pemaparan pendapat saya betapa Rasullullah adalah sosok "anti terorisme" –apapun definisi dan bentuk "terorisme" yg berkembang saat ini—
dsb..
Alhamdulillah, diskusi ditutup dengan manis dan mereka sepertinya mengerti.
ah..indahnya komunikasi dan toleransi.
Namun walaupun demikian..paling tidak ada dua "hikmah" yg saya sadari secara spontan saat itu juga:
Hikmah pertama…tentu saja besar kemungkinan gambar karikikatur itu dibuat atas kesengajaan untuk memancing emosi umat Islam..tapi tentu ada juga kemungkinan bahwa si pembuat karikatur itu tidak mengerti arti pentingnya Rasulullah..jadi..adalah tugas kita jugalah yang sebenarnya harus berdakwah dan merepresentasikan sosok indah beliau di mata dunia…I believe peace is about understanding, and understanding is about communication. (oalah nduk..nduk..ngomong opo toh kowe iki nduk? –menghela nafas–)
Hikmah kedua…hiks…Terasa betul bahwa sedikit sekali pengetahuan saya mengenai Rasulullah..
(ya ALLAH gusti..kulo nyuwun ngapuro…)
dan betapa dangkal saya mengenal Rasulullah..terutama begitu lawan bicara ada yang menuntut data dan fakta on the spot..
Sungguh..”belajar dan mengenal Rasulullah lebih dalam”, harus selekasnya saya jadikan prioritas utama dalam agenda.
Hamburg, 3.2.2006
Uncategorized | Comments (2)Travemunde
Here, I would share pictures (again, not from a fancy digital camera but from my humble siemens handy).
We (Rudiger, Migo, Andri and I) went to Oostseekuste, on 23rd January 2006. The town named Tarvemunde. Simply means "The Trave’s mouth", perhaps?
Got a little taste of Baltik sea..
and surely, we had a great time..Thanks to Rudi and Migo for inviting Andri and I to join their weekend.
Uncategorized | Comment (0)
















