Selamat Idul Fitri
Banyak sekali kesalahan yang pastinya telah terjadi…melalui lisan dan perbuatan. Pastinya tak ada maksud hati ini untuk menyakiti. Mohon kebaikannya untuk memaafkan kami maaf lahir dan batin. Semoga balasan yang berlipat ganda indahnya diberikan ALLAH SWT. Amiin..
Selamat Idul Fitri.
Andrivo & Lessy
Religion | Comment (1)Arogansi , Respek, Keperwiraan
Sebuah cerita dari planet mimpi.
Saya tertegun saat membaca diskusi yang setengah debat kusir di sebuah mailing list di sebuah negeri dongeng. Entah mengapa sayapun terusik mengikuti perdebatan itu, padahal saya tak punya kaitan dengan apa yg diperdebatkan. Kemudian, pada titik tertentu emosi saya tercungkil dan saya jadi sangat marah. Lho? Mengapa?
Karena cara berdebat yang penuh arogansi dan tanpa respek. Saya berpikir keras untuk menemukan jawaban instant untuk memakluminya. Tapi yang ada otak saya malah jadi seperti batu. Bahkan makin memperkuat prasangka saya tentang orang-orang dari kelompok tertentu bahwa mereka selama ini dididik untuk menjadi sombong dan merasa superior.
Prasangka ini tentu saja berusaha saya tepis dan kikis. Karena saya tahu beberapa gelintir orang dari kelompok itu yang amat santun dan rendah hati. Kalaupun masih ada pengaruh arogansi institusi yang menempel ditubuhnya, mereka akan sering sering mandi dan mencoba menghilangkan dengan sabun introspeksi.
Namun menghapus prasangka itu rasanya sulit sekali. Apalagi dalam pergaulan sehari-hari saya merasakan arogansi itu seperti cap yang ditompelkan dengan besi panas di kuduk mereka. Mereka memang pintar, cukup pintar hingga hampir semua "mengakui" (read: membiarkan) mereka "mengklaim" diri sebagai putra-putri terbaik bangsa mereka, pun sebelum mereka berbuat apapun untuk negeri mereka. Negeri dongeng. Tapi, seharusnya putra putri terbaik itupun tahu bagaimana dengan anggun memegang tradisi bangsa yang santun. Santun terhadap siapa saja. Terutama santun terhadap orang yang memang jelas-jelas berjasa, lebih bijaksana, lebih berpengalaman dan lebih berprestasi dari mereka. Oh ya jangan lupa juga: santun terhadap orang tua.
Yang paling pelik saya perhatikan adalah kurangnya santun dalam menerima kekalahan.
Sayang seribu sayang..sampai saat ini prasangka saya makin terkuatkan. Malah yang saya lihat, jika mereka kalah atau salah biasanya mereka akan mencari jalan apapun untuk menghindari untuk mengakuinya. Bahkan jalan sekotor apapun! Mengerikan! Menjijikan? oh..tentu saja.
Dan segelintir orang yang membuat saya masih punya harapan untuk menepis prasangka itu, jika mereka kalah atau salah, mereka akan diam. Walau hanya sebentuk diam. Arogansi mereka tidak diumbar hingga mereka tidak kehilangan respek.
Paling tidak mereka bungkus arogansi mereka dengan santun. Tipiiis saja. Karena mereka tahu, Arogansi itu jadi bagaikan aurat dan arogansi yang telanjang bukanlah jalan untuk meraih respek.
Respek terhadap dan dari orang lain. Respek kepada kebenaran dan kenyataan. Ini bukan masalah kewiraan. Tapi keperwiraan. Dan orang-orang yang bersikap perwira tampak begitu elegan dalam pergaulan.
…
…
Entahlah… Ini sekedar cerita tentang arogansi, respek dan keperwiraan di sebuah negeri dongeng, di planet mimpi.
Aneh…
Ya namanya juga negeri dongeng, di planet mimpi pula, yang seperti ini mungkin malah justru hal yg lazim ya?
**Lega**
Uncategorized | Comment (1)Respect
Modern society lacks possitive expressions of respect and recognition for others. They generally fail to convey mutual regard and recognition accross some boundaries. Occurs not simply because of arbitrary inequalities like poor, sick or old but also intractable inequalites, such as differences of talent..and perhaps, …differences of taste (?)..gender (?)
Whatever those that reflect the temper of our time are, for sure, (as I’m parroting R. Sennett words -which I fully agree); lack of respect, though less agressive than an outright insult, can take equal wounding form.
Or perhaps….hurts even worse?
.
.
Ouch!!
Personal Taste | Comments (2)Suamiku Kangen Rambutan…

Profile singkat uda Andri di majalah Gatra. 21 Mei 2008
Sekedar berbagi.
PS:
Makasih banget buat Banu yang sudah ngirimi file ini dengan penuh semangat..
Sisaku Melompat

Sore tadi seusai membelai bunga bunga
Aku melihat semburatmu begitu mempesona
Mendung tipis tak mampu membendung geloramu
Dan seperti biasa,
aku terpana
Sebuah pesan menggetarkan telepon genggamku
Menghabiskan energinya, mebunuhnya
Kutimang kameraku yang nasibnya tak jauh beda dari telepon genggamku
Nyawanya tinggal satu
Begitu pula asaku
Tapi satu berarti masih ada
ya, masih bersisa
Maka ku melompat dan mengajaknya serta
Mengabadikan sisaku melompat
Mencoba menggapaimu selagi sempat
Sebelum aku bergegas meninggalkan tempat..
Terima kasih kau telah memberi semangat!!
Bunga biru mungil
Bunga biru mungil yang …sekedar ingin berbagi awal musim semi di sini…
Uncategorized | Comment (1)Burned by the Flame


Masih belum bosan dengan hitam putih.
Sedang senang senangnya menentang cahaya latar
Semuanya seperti hangus terbakar
Ada unsur dramatis yang ironis…
Tak terduga siluet pohon dan bangunan jadi fantastis
Sensasinya nyaris seperti menonton adegan tragis.
Melihat hasil foto-foto ini saya sampai meringis-ringis
Ihh rasanya….
Perih yang amboi…kecut kecut manis.
bagaikan luka bakar yg tersiram air gula jeruk nipis
membuat hati saya berasa seperti kuyup oleh gerimis
.
Nothing Hurts Like Love Lyrics
Artist:Daniel Bedingfield
Broken hearts
Broken dreams
There just somethings that love brings
When you learn that its all been a lie
You cry
You find that
Nothing
Nothing
Nothing hurts like love
Nothing brings your heart so much pain
And you’ll never learn
Till you get burned
Till your burned by the flame
Nothing hurts so bad
Nothing hurts so much
No nothing hurts like love
So you gave all you had
How the story turned so sad
Nothing left but the tears in you eyes
You die inside cus
Nothing
Nothing
Nothing hurts like love
Nothing brings your heart so much pain
And you will never learn
Till you get burned
Till your burned by the flame
Nothing hurts so bad
Nothing hurts so much
No nothing hurts like love
So dry your eyes
Its just your turn to learn
The time to find that nothing
Nothing
(Instrumental)
Nothing
Nothing
Nothing hurts like love
Nothing brings your heart so much pain
And you will never learn
Till you get burned
Till your burned by the flame
Nothing hurts so bad
Nothing hurts so much
No nothing hurts like love
Antarctica

Mengungkapkan pada orang terkasih keinginan saya untuk pergi ke tempat yang spektakuler ini mengingatkan saya betapa pentingnya arti benua yang jadi milik umat manusia sedunia ini.
Benua terdingin, terkering, paling berangin ini memang bukan taman bermain
Kecuali bagi para Pinguin.
Jika benua ini total mencair
maka kita semua terendam air
laut akan naik 60 meter
pastinya suhu bumi akan menghajar kewarasan termometer.
Tak hanya Jakarta yang akan banjir
dan Jakarta tak hanya akan sekedar banjir..
Antarctica
Tak sedikit orang yang mengacuhkannya bahkan tak mengenal namanya dan di mana adanya.
Ya..Benua ini memang jauh di ujung selatan sana,
Tapi saya ingin suatu saat bisa pergi mengunjunginya mengalami suasananya, dan sensasinya…
Ada yang ingn ikut serta?
*Sedang repot mencari file presentasi saya ttg Status Hukum Antarctica…7 th yg lalu…uuufhhh…hilang ke mana yah??*
Foto saya ambl dari: http://antarctica.kulgun.net/Photography/
Somewhere Only we Know
I walked across an empty land,
I knew the pathway like the back of my hand.
I felt the earth beneath my feet,
Sat by the river and it made me complete.
Oh, simple thing, where have you gone?
I’m getting old and I need something to rely on.
So tell me when you’re gonna let me in,
I’m getting tired and I need somewhere to begin.
I came across a fallen tree,
I felt the branches; are they looking at me?
Is this the place we used to love?
Is this the place that I’ve been dreaming of?
Oh, simple thing, where have you gone?
I’m getting old and I need something to rely on.
So tell me when you’re gonna let me in,
I’m getting tired and I need somewhere to begin.
AND if you have a minute why don’t we go,
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything.
So why don’t we go, somewhere only we know,
Somewhere only we know.
Oh, simple thing, where have you gone?
I’m getting old and I need something to rely on.
So, tell me when you gonna let me in,
I’m getting tired and I need somewhere to begin.
SO if you have a minute why don’t we go,
Talk about it somewhere only we know?
This could be the end of everything.
So why don’t we go, so why don’t we go,
Hmmm yeahh,
This could be the end of everything.
So why don’t we go, somewhere only we know,
Somewhere only we know
Somewhere only we know.
Nenek Moyangku Pelaut!
Nenek moyangku orang pelaut
gemar mangarung luas samudra
menerjang ombak tiada takut
menempuh badai sudah biasa
angin bertiup layar terkembang
ombak berdebur di tepi pantai
pemuda b’rani bangkit sekarang
ke laut kita beramai-ramai
Entah apakah anak-anak Indonesia mengenal lagu ini sekarang..
Yang jelas..lagu ini saya hapal sejak kecil
Terbusung dada saya tegap membayangkan digjayanya Angkatan Laut Nusantara
Menguasai bahari di seantero Asia Tenggara.
Masyhurnya bahkan hingga ke negeri China!
Kini,
di masa di mana hukum Internasional sudah memliki sumber-sumber
bakunya, keahlian diplomasi Bapak Mochtar Kusumaatmaja menggoalkan
Archipelagic Straight Baseline diakui dalam UNCLOS III 1982, merupakan
sejarah yang penting.
Hingga begitu Nigeria menyatakan
persetujuannya…jadilah batas-batas terluar 12 mil dari pulau-pulau
terluar Indonesia sebagai garis batas wilayah tanah air.
Konsekwensinya adalah Alur Laut Kepulauan (ALK) Indonesia harus disediakan.
Kapal-kapal asing boleh melalui jalur ini dengan leluasa.
Tentu kita butuh armada yang tangguh untuk menjaganya.
Hal
itu tak hanya berkaitan dengan alur laut kepulauan, namun juga erat
hubungannya dengan 80% lebih perbatasan kita yang berada di laut.
Tapi bagaimana bisa menjaganya jika Angkatan Laut kita tak berdaya?
Adilkah jika anggaran Angkatan Laut kita tidak mendapatkan perbandingan dana yang berarti?
Masih terngiangkah lagu di atas tadi ditelinga para wakil rakyat?
Haruskah
seseorang yang mengaku nenek moyangnya pelaut, mempelajari detail hukum
laut hanya untuk menyadar pentingnya kekuatan berjaya di samudera?
Atau sudah tak adakah lagi harga diri yang tersisa untuk mempertahankan kehormatan dan kedaulatan?
Untuk seorang teman perwira TNI AL yg sedang bergulat antara realitas dan idealisme.
Sukses untuk pendidikannya, bawa Ilmu Angkatan Laut Jerman pulang!
Jalesveva Jayamahe!
Uncategorized | Comment (1)Senyummu Tinggal di Hatiku

Dulu aku pernah menggagumimu habis-habisan
Saat aku baru pertama kali menghapalkan nama nama para pahlawan
dan saat berkenalan denganmu,tentangmu adalah kau sama dengan satria pembangunan
Tumpuan harapan banyak orang
paling tidak, untuk bisa swasembada pangan dan menyambung kehidupan.
Dulu aku juga pernah tak setuju denganmu hingga sempat membencimu,
Dengan jaket kuningku men-demo-mu untuk kesewenanganmu
dan puluhan tuduhanku sebagai kesalahanmu
Tapi pak,
Di sini aku sedang tak ingin bicarakan semua itu
Ini tentang senyummu dan pengakuanku
Yang aku tak bisa dan tak pernah pungkiri
Senyummu itu telah menjala dan mencengkram hatiku,
dan tanpa pahat yang kasat mata kau prasastikan senyummu di sana.
Di alam sadarku pun di alam bawah sadarku
Mau atau tidak maunya aku
Ada atau tiadanya dirimu
Senyummu itu ….ternyata selalu berkuasa dalam kehidupanku.
Segala baik buruknya amalmu, kepemimpinanmu, pengaruhmu, dan kekuasaanmu dulu.
Waktumu menghadap Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui.
Sudah bukan waktumu lagi untuk peduli apa arti keadilan di sini
……
6 tahun lalu kunyatakan pada seseorang,
bahwa senyumnya yang mirip senyum pak Harto telah merampok hatiku.
Dengan senyumnya yang serupa dengan senyum pak Harto, ia mampu mengeksplotasi sumber daya dan rasa di dalam hatiku tanpa bertanya apakah aku suka dan rela.
Belajar dari senyum pak Harto, padanya aku tak pernah berani punya mimpi untuk gulirkan reformasi apalagi revolusi.


